Selasa, 27 November 2012

Sad Darsana Filsafat Yoga dan Waiseseka



 Yoga by: Faur Rasyid
1.       Pendahuluan
Ada banyak jalan untuk mencapai kebenaran tertinggi. Jalan yang berbeda-beda itu tampakanya memiliki tujuan yang sama yaitu sebuah penyatuan tertinggi antara Atman dengan Brahman. Kita lahir berulang kali untuk meningkatakan perkembangan evolusi jiwa. Dan masing-masing dari kita berada pada tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Karena itu tiap orang disiapkan untuk tingkat pengetahuan spiritual yanag berbeda pula. Semua jalan rohani yang ada di dunia ini penting karena ada orang-orang yang membutuhkan ajarannya. Penganut suatu jalan rohani dapat saja tidak memiliki pemahaman lengkap tentang sabda Tuhan dan tidak akan pernah selama masih berada dalam jalan rohani tersebut.
Jalan rohani itu merupakan sebuah batu loncatan untuk pengetahuan yang lebih lanjut. Setiap jalan rohani memenuhi kebutuhan rohani yang mungkin tidak dapat dipenuhi oleh jalan rohani yang lain. Tidak satupun jalan rohani yang memenuhi kebutuhan semua orang di segala tingkat. Saat satu individu masih tingkat pemahamannya tentang Tuhan dan perkembangan dalam dirinya, dia mungkin merasa tidak terpenuhi oleh pengajaran jalan rohani sebelumnya dan mencari jalan rohani yang lain untuk mengisi kekosongannya. Bila hal itu terjadi, maka orang tersebut telah meraih tingkat pemahaman yang lain dan akan merindukan kebenaran serta pengetahuan yang lebih luas, dan kemungkinan lain untuk tumbuh.
Dengan demikian kita tidak berhak untuk mencerca jalan rohani yang lain. Semua berharga dan penting di mata-Nya. Ada pemenuhan sabda Tuhan, akan tetapi kebanyakan oaring tidak meperolehnya di sini untuk bisa meraih kebenaran, kita perlu mendengarkan roh dan melepas ego kita. Dan Yoga sebagai salah satu jalan yang bersifat universal adalah salah satu jalan rohani dengan tahapan-tahapan yang disesuaikan dengan kemapuan spiritual seseorang.

2.      Filsafat Yoga
a.       Pengertian Filsafat Yoga
Yoga berasal dari bahasa Sanskerta berarti "penyatuan", yang bermakna "penyatuan dengan alam" atau "penyatuan dengan Sang Pencipta". Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam filsafat Hindu, yang menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Yoga secara harfiah berasal dari suku kata “yuj” yang memiliki arti menyatukan atau  menghubungkan diri dengan Tuhan. Kemudian Patanjali memberikan definisi tentang yoga yaitu mengendalikan gerak-gerak pikiran.  Ada dua hal yang penting sebagai seorang praktisi yoga adalah melatih secara terus menerus sekaligus tidak terikat dengan hal-hal duniawi. Secara spiritual Yoga merupakan suatu proses di mana identitas jiwa individual dan jiwa Hyang Agung disadari oleh seorang yogi, Yogi adalah orang yang menjalani yoga, orang yang telah mencapai persatuan dengan Hyang Agung.
Jiwa manusia dibawa kepada kesadaran akan hubungan yang dekat dengan sumber realitas (Hyang Widhi). Seperti setitik air yang bersatu dengan air di samudra. Yoga adalah ketenangan hati, ketentraman, keahlian dalam bertingkah laku, Segala sesuatu yang terbaik dan tertinggi yang dapat dicapai dalam hidup ini adalah Yoga juga, Yoga mencakup seluruh aplikasi yang inklusif dan universal yang mengantar kepada pengembangan / pembangunan seluruh badan, pikiran dan jiwa.
Kata Yoga artinya hubungan. Hubungan antara rokh berpribadi dengan rokh yang universal yang tidak berpribadi. Dalam hal ini Rsi Patanjali mengartikan yoga sebagai penghentian gerakannya pikiran.
Ajaran Yoga adalah anugrah yang luar biasa besarnya dari Rsi Patanjali kepada siapa saja yang melaksanakan hidup kerokhanian. Ajaran ini merupakan bantuan kepada mereka yang ingin menginsyafi kenyataan adanya roh sebagai azas yang bebas, bebas dari tubuh indrinya dan pikiran yang terbatas.
Yoga sebagai cara untuk menguasai pikiran, agar supaya kesadaran yang biasa diganti dengan yang luar biasa, sebagai bukti bahwa orang telah mendapat pengalaman mistis yang sungguh-sungguh, telah dikenal orang India sejak zaman kuna. Di zaman yang kemudian yoga menghubungkan diri dengan aliran agama dan filsafat yang bermacam-macam, atau mungkin lebih tepat dikatakan, bahwa tiap aliran mencoba memberikan dasar yang teoritis kepada yoganya.
Yoga dalam gerakannya berorientasi menciptakan suasana batin yang tenang untuk mencapai atau menyatu-nya ruh individu dan ruh universal. Muara dari orientasi tersebut adalah kedamaian batin yang merupakan landasan dari kebahagiaan manusia. Yoga mengajarkan ketenangan dalam menyikapi permasalahan atau konflik yang terjadi antara individu. Yoga menjawab permasalahan dalam cabang filsafat etika tentang apa yang menyebabkan kebahagiaan manusia.
Yoga merupakan  implementasi dari etika dalam filsafat. Perkembangan yang terjadi dewasa ini, yoga yang ada saat ini berbeda dengan yoga pada awal kemunculannya. Dewasa ini, yoga memiliki ribuan aliran, namun terdapat 9 (Sembilan) aliran yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia, antara lain Jnana Yoga, Karma Yoga, Bhakti Yoga, Yantra Yoga, Tantra Yoga, Mantra Yoga, Kundalini Yoga, Hatha Yoga dan Raja Yoga. Beberapa diantara aliran yoga tersebut berorientasi pada proses penenangan hati dan dapat menjadi pengobatan alternatif. Namun yang sekarang banyak dipakai adalah Hatha Yoga atau penyatuan melalui penguasaan tubuh dan nafas secara olah fisik.
Sistem filsafat yang dipakai untuk mendasari system yoga terang diambil dari ajaran Sankhya. Sebab juga yoga mengajarkan bahwa :
Ø  Benda dan roh adalah kenyataan terakhir dari segala sesuatu ( prakrti dan purusa)
Ø  Bahwa jumlah purusa adalah banyak sekali
Ø  Bahwa alam semesta dialirkan satu sumber, yaitu prakrti
Ø  Keduapuluh lima azas yang diajarkan oleh sankhya, yaitu purusa dan prakrti dengan perkembangannya dari mahat hingga anasir kasar ( mahat, buddhi, ahamkara, manas, buddhendrya, karmendriya, tanmatra, dan mahabhuta) diterima juga oleh yoga, sekalipun dengan perubahan sana-sini.
Konsepsi yang paling penting di dalam sistem yoga adalah citta. Citta dipandang sebagai hasil pertama dari perkembangan prakrti, yang meliputi juga ahamkara dan manas. Jadi yang dimaksud dengan citta ialah gabungan buddhi, ahamkara, dan manas. Tujuan system

b.      Tokoh Filsafat Yoga
Tokoh pertama dari filsafat yoga adalah Rsi Patanjali yang menulis dalam karyanya Yoga Sutra pada abad yang kelima masehi. Beliau pendiri sistim ajaran yoga, walaupun unsur-unsur ajarannya sudah ada sebelum karya tulis ini. Kemudian muncullah buku-buku komentar atas ajaran beliau seperti Byasa-bhasya tulisan Byasa Nitti tulisan Bhojaraja dan lain-lain.
Komentar-komentar ini menguraikan ajaran-ajaran yoga Rsi Patanjali yang ditulis dalam kalimat-kalimat pendek yang padat isinya. Pada kira-kira tahun 650-850Waysa menulis keterangan tentang isi buku Rsi Patanjali dengan memberikan tekanan kepada permenungan.


c.       Isi Kitab Yoga Sutra

Yoga terdiri dari empat kitab dan tiap orang boleh memilih beberapa diantara yang empat itu sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing yaitu :
v  Bakthi yoga yaitu dengan sujud bakti, dengan rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan.
v  Karma yoga yaitu dengan melakukan kewajiban-kewajiban dan perbuatan-perbuatan baik,dengan ikhlas tanpa pamrih.
v  Jnana yoga yaitu dengan jalan pengetahuan atau filsafat, tetapi yang dimaksud semula adalah pengetahuanyang berdasarkan intuisi.
v  Raja yoga yaitu dengan jalan mistik, yang terdiri dari beberapa tahap yang disebut dengan Assatangga Yoga. Ini merupakan jalan yang paling sulit yang hanya cocok bagi orang yang berbakatuntuk menjalankan tapa.
3.      Etika Yoga
Dalam filsafat yoga maka yoga berarti penghentian kegoncangan-kegoncangan pikiran. Ada lima keadaan pikiran itu. Keadaan pikiran itu ditentukan oleh intensitas sattwa, rajas dan tamas. Kelima keadaan pikiran itu ialah:
a.       Ksiptaartinya tidak diam-diam
Dalam keadaan ini pikiran diombang ambingkan oleh rajas dan tamas dan ditarik-tarik oleh objek indranya dan sarana-sarana untuk mencapainya. Pikiran melompat-lompat dari satu objek ke objak yang laint tanpa mengaso pada satu objek
b.      Mudha artinya lamban dan malas
Ini disebabkan oleh pengaruh tamas yang menguasai alam pikiran. Akibatnya orang yang alam pikirannya demikian cenderung lebih bodoh, senang tidur dan sebagainya.
c.       Wiksipta artinyabingung, kacau.
Hal ini disebabkan oleh pengaruh rajas. Karena pengaruh ini pikiran mampu mewujudkan semua objek dan mengarahkannya kepada kebajikan, pengetahuan dan sebagainya. Ini merupakan tahap pemusatan pikiran pada suatu objek namun sifatnya sementara sebab akan sisusul lagi oleh kekuatan pikiran.
d.      Ekagra artinya terpusat.
Disi citta terhapus dari cemarnya rajas sehingga sattvalah yang kuasa atas pikiran. Ini merupakan awal pemusatan pikiran pada suatu objek yang memungkinkan ia menetahui alamnya yang sejati sebagai persiapan untuk menghentikan perobahan-perobahan pikiran.
e.       Niruddha artinya terkendali.
Dalam tahap ini berhentilah semua kegiatan pikiran, hanya ketenanganlah yang ada.
Ekagra dan Niruddha merupakan bantuan dan persiapan untuk mencapai tujuan akhir yaitu kelepasan. Ekagra bila berlangsung terus menerus disebut samprajnata yoga atau mediasi yang dalam yang padanya ada perenungan kesadaran akan suatu objek yang terang.
Ada empat macam samprajnana yoga menurut jenis obat renungannya, keempat jenis itu ialah :
a.       Sawitarka ialah bila pikiran itu dipusatkan pada suatu objek benda kasar seperti arca dewa atau dewi.
b.      Sawicara ialah bila pikiran itu dipusatkan pada suatu objek yang halus yang tidak nyata seperti tanmatra.
c.       Sananda ialah bila pikiran itu dipusatkan pada suatu objek yang halus seperti rasa indranya.
d.      Sasmita ialah bila pikiran itu dipusatkan pada asmita yaitu anasir rasa aku yang biasanya rokh menyamakan dirinya dengan ini.
4.      Astangga Yoga
Ajaran sankhya yoga mengatakan bahwa kelepasan itu dapat mencapai melalui pandangan spiritual pada kebenaran rokh sebagai suatu daya hidup yang kekal yang berbeda dengan badan dan pikiran.
Pandangan spiritual seperti tersebut diatas ini hanya dapat dimiliki bila pikiran itu bersih. Tenang tak digoncangkan oleh apapun juga. Untuk meningkatkan kebersihan pikiran itu yoga mengajarkan adanya 8 jalan yang bertahap-tahap yang disebut astangga yoga yaitu :
a.  Yama, yaitu dilarang melakukan kekerasan (himsa), berbohong, mencuri, seks bebas, rakus, iri hati.
b.  Niyama, yaitu anjuran menjaga kebersihan lahir batin, lingkungan, kesederhanaan, bersyukur selalu untuk apa adanya, rajin belajar dan setia pada pasangan hidup, guru, orang tua, negara, dan seterusnya.
c. Asana, yaitu pelatihan atau posisi posisi hatha-yoga menyeluruh yang meliputi gerakan-gerakan sambil berdiri, duduk, berbaring dan juga secara akrobatis demi menjaga otot-otot persendian, organorgan bagian dalam dan luar tubuh.
d. Pranayama: Pernafasan yang dilatih secara sistematis, baik secara individual maupun berkelompok.
e. Pratihara: memusatkan pikiran dan perhatian ke dalam diri, membatasi diri dari berbagai rangsangan-rangsangan duniawi yang mengikat dan negatif melalui berbagai panca indra kita.
f. Dharana: memusatkan perhatian pada suatu hal dalam kehidupan ini, 6-7-8 harus dibawah guru spritual yang handal dan non pamrih.
            g. Dhyana: meditasi ke arah ketenangan.
h. Samadi: pencerahan spritual akan hakekat diri manusia itu sendiri dan hubungannya dengan Sang Pencipta.
Kandungan metafisika dan etika dalam dunia filsafat sangat mengena jika melihat 8 (delapan) prinsip dasar dari yoga. Prinsip-prinsip tersebut mengarah pada hubungan antara jiwa (spiritual) yang dikelola melalui raga untuk mencapai ketenangan batin dalam meraih kebahagiaan.
5.      PENUTUP
 Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Yoga sebagai sebuah cara atau jalan untuk mengendalikan pikiran yang terobyektifkan serta kecendrungan alami pikiran dan mengatur segala kegelisahan-kegelisahan pikiran agar tetap tak terpengaruh sehingga bisa mencapai penyatuan antara kesadaran unit dan kesadaran kosmik.
Astangga yoga merupakan tahapan-tahapan yang harus dijalankan bagi seseorang yang ingin meningkatkan kualitas spiritual. Astangga Yoga berarti delapan tahapan yang harus dilaksanakan dalam beryoga. Bagian-bagian dari Astangga Yoga yaitu Yama (pengendalian), Nyama (peraturan-peraturan), Asana (sikap tubuh), Pranayama (latihan pernafasan), Prathyahara (menarik semua indrinya kedalam), Dharana (telah memutuskan untuk memusatkan diri dengan Tuhan), DHYANA(mulai meditasi dan merenungkan diri serta nama Tuhan), dan Samadhi (telah mendekatkan diri, menyatu atau kesendirian yang sempurna atau merialisasikan diri).
Aplikasi dari ajaran  Astangga Yoga di jaman Kali Yuga ini masih sangat minim. Hal itu disebabkan karena jaman globalisasi membuat pola pikir seseorang untuk benar-benar berniat mengamalkan ajaran ini masih cukup rendah. Jika kita telusuri apa yang disebut Yoga oleh orang-orang moden sangat jauh berbeda dari sistem Yoga aslinya. Saat ini orang-orang hanya fokus mempraktekkan tingkatan Raja Yoga yang ketiga dan yang keempat, yaitu Asana (sikap duduk) dan Pranayama (teknik pernapasan) dan semata-mata hanya untuk alasan kesehatan, umur panjang bahkan meningkatkan nafsu birahai semata. Walaupun secara material bermanfaat, namun mereka tidak memahami tujuan utama dari sistem Yoga itu sendiri.
Pada dasarnya Yoga berarti penghubungan atau pengaitan jiva individual dengan Yang Maha Kuasa, dengan kata lain tujuan utama dari sistem Yoga adalah untuk menghubungkan diri kita yang rendah dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan semata-mata hanya untuk kepentingan kesehatan dan hal-hal material lainnya. Dengan demikian syarat utama yang dimiliki oleh seorang calon praktisi Yoga adalah kepercayaan akan adanya Tuhan. Seorang yang atheis tidak bisa mengikuti sistem ini. Kalaupun dia mengikutinya, dia hanya akan mentok sampai pada tingkatan asana dan pranayama yang tujuannya hanya sebatas kesehatan fisik. Disamping itu, seorang praktisi Yoga juga harus memiliki dasar moral dan disiplin tinggi. Meskipun dikatakan bahwa selama kita ada dalam tubuh manusia, tidak perduli berapa umur kita, jenis kelamin dan kondisi fisik, namun tanpa dasar moral yang baik dipastikan seseorang tidak akan pernah bisa menapak sistem Yoga. Karena itulah dua tingkatan pertama memelihara sifat kejam, suka mabuk dan kejahatan-kejahatannya otomatis.


























Daftar Pustaka
Adiputra, I Gede Rudia “Tattwa Darsana” Jakarta : Yayasan Dharma satarh 1990
Ali, Matius “ Filsafat India” Tangerang : Sanggar Luxor 2010
Hadiwijono, Harun “ Sari Filsafat India” Jakarta : Gunung mulia 1985
Manaf, Abdul Mudjahid. “ Sejarah Agama-Agama” Jakarta : Raja Grafindo Persada 1994




















 Waisiseka by: Deden Abdullah Safei

A.    Pendahuluan
Kata Yoga berasal dari akar kata “yuj” yang artinya menghubungkan dan Yoga itu sendiri merupaka pengendalian aktivitas pikiran dan merupakan penyatuan roh pribadi dengan roh tertinggi. Pendiri dari sitem Yoga adalah Hiranyagarbha dan Yoga yang didirikan oleh Maharsi Patanjali merupakan cabang atau tambahan dari filsafat Samkhya, yang memiiki daya tarik tersendiri bagi para murid yang memiliki tempramen mistis dan perenungan. Dikatakan bahwa Yoga bersifat lebih orthodox dari pada filsafat Samkhya, karena Yoga secara langsung mengakui keberadaan Isvara, sehingga sistem filsafat dari Patanjali ini merupakan Sa-Isvara.
Samkhya, karena adanya Isvara atau Purusa istimewa (khusus) didalamnya, yang tidak tersentuh oleh kemalangan, penderitaan, kerja, keinginan, dsb. Patanjali mendirikan sistem filsafat ini dengan latar belakang metafisika dari Samkhya dan menerima 25 prinsip atau tattva dari Samkhya. Yoga menerima pandangan metafisika dari disiplin Samkhya, tetapi lebih menekankan pada sisi praktisnya guna realisasi dari penyatuan mutlak Purusa atau sang Diri.
Roh pribadi dalam sistem Yoga memiliki kemerdaan yang lebih besar dan dapat mencapai pembebasan dengan bantuan Tuhan. Kalau sistem Samkhya menetapkan bahwa pengetahuan merupakan cara untuk mencapai pembebasan, maka dalam sistem Yoga menganggap bahwa konsentrasi, meditasi dan Samadhi akan membawa kepada Kaivalya atau terkandung dalam kesan-kesan dari keaneka ragaman fungsi mental dan konsentrasi dari energi mental pada Purusa yang mencerahi dirinya.
Menurut Patanjali, Tuhan merupakan Purusa Istimewa atau Roh Khusus yang tak terpengaruh oleh kemalangan, karma, hasil yang diperoleh dan cara memperolehnya. Pada-Nya merupakan batas tertinggi dari benih ke-Maha Tahuan, yang tak terkondisikan oleh waktu, yang selamanya bebas dan merupakan Guru bagi para bijak jaman dahulu.
yoga-sutra” dari maharsi Patanjali muncul sebagai acuan yang tertua dari aliran filsafat Yoga, yang memiliki 4 bab; di mana pada bab I, yaitu Samadhi, pada bab II, yaitu Sadhana Pada menjelaskan tentang cara pencapaian tujuan tersebut; pada bab III, yaitu Vibhuti Pada, memberikan uraian tentang daya-daya supra alami atau Siddhi yang dapat dicapai melalui pelaksanaan Yoga dan bab IV, yaitu Kalvalya Pada menggambarkan sifat dari pembebasan tersebut.
Yoga maharsi Patanjali merupakan Astanga-Yoga atau Yoga dengan delapan anggota, yang mengandung disiplin pikiran dan tenaga fisik. Hatha Yoga membahas tentang cara-cara mengendalikan badan dan pengaturan pernafasan, yang memuncak pada Raja-Yoga, melalui sadhana yang progresif dalam Hatha Yoga; sehingga Hatta-Yoga merupakan tangga untuk mendaki menuju tahapan Raja-Yoga. Bila gerakan nafas dihentikan dengan cara Kumbhaka, pikiran menjadi tak tertopang dan pemurnian badan melalui sat-Karma (6 kegiatan pemurnian badan), yaitu Dhauti (pembersihan perut), Basti (bentuk alami pembersihan usus), Neti (pembersihan lubang hidung), Trataka (penatapan tanpa kedip terhadap sesuatu obyek), Nauli (pengadukan isi perut) dan Kapalabhati (pelepasan lendir melalui semacam Pranayama tertentu), serta pengendalian pernafasan merupakan tujuan langsung dari Hatha-Yoga. Badan akan diberi kesehatan, kemudaan, kekuatan dan kemantapan dengan melaksanakan Asana, Bandha dan Mudra.
Yoga merupakan satu cara disiplin yang ketat terhadap diet makan, tidur, pergaulan, kebiasaan, berkata, berpikir dan hal ini harus dilakukan di bawah pengawasan yang cermat dari seorang Yogin yang ahli dan mencerahi Jiva. Yoga merupakan suatu usaha sistematis untuk mengendalikan pikiran dan mencapai kesempurnaan. Yoga juga meningkatkan daya konsentrasi, mengendalikan tingkah laku dan pengembaraan pikiran, serta membantu untuk mencapai keadaan supra sadar atau Nirvikalpa Samadhi. Tujuan Yoga adalah untuk mengajarkan roh pribadi agar dapat mencapai penyatuan yang sempurna dengan Roh Tertinggi, yang dipengaruhi oleh Vrtti atau gejolak pemikiran dari pikiran, sehingga keadaanya menjadi jernih seperti kristal, yang tak terwarnai oleh hubungan pikiran dengan obyek-obyek duniawi.
Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa Raja-Yoga dikenal dengan nama astanga-yoga, atau Yoga dengan delapan anggota, yaitu: (i) Yama (larangan); (ii) Niyama (ketaatan); (iii) Asana (sikap badan); (iv) Pranayama (pengaturan nafas); (v) Pratyahara (penarikan indra dari obyek); (vi) Dharana (konsentrasi); (vii) Dhyana (meditasi), dan (vii) Samadhi (keadaan supra sadar). Kelima yang pertama membentuk anggota luar (bahir-anga) dari Yoga sedangkan tiga yang terakhir membentuk anggota dalam (antar-anga).
Pelaksanaan yama dan niyama membentuk disiplin etika, yang  mempersiapkan para siswa Yoga untuk
melaksanakan Yoga yang sesungguhnya. Siswa Yoga hendaknya melaksanakan: (i) Ahimsa atau tanpa kekerasan, yaitu jangan melukai makhluk lain baik dalam pikiran, perbuatan atau pun perkataan. Perlakukanlah pihak lain seperti engkau ingin diperlakukan sendiri; (ii) Satya, atau kebenaran dalam pikiran, perkataan dan perbuatan; (iii) Asteya atau pantang mencuri atau menginginkan milik orang lain; (iv) Brahmacarya atau pembujangan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan; (v) Aparigraha atau pantang kemewahan yang melebihi apa yang diperlukan ke-lima pantangan atau larangan ini merupakan mahavrata atau sumpah luar biasa yang harus dipatuhi, tanpa alasan pengelakan berdasarkan Jati (kedudukan pribadi), desa (tempat kediaman), kala (usia dan waktu) dan samaya (keadaan).
Menurut aliran Raja-Yoga dari Patanjali, terdapat lima tingkatan mental yang disebut sebagai: Ksipta, Mudha, Viksipta, Ekagra dan Niruddha. Tingkatan Ksipta adalah di mana pikiran mengembara diantara berbagai obyek duniawi dan dijenuhi dengan sifat-sifat Rajas. Tingkatan Mudha, pikiran ada dalam keadaan tertidur dan tak berdaya akibat sifat Tamas. Tingkatan Viksipta adalah di mana sifat Sattva melampaui dan pikiran menjadi goyang antara meditasi dan obyek dan secara perlahan-lahan pikiran berkumpul dan bergabung. Bila sifat Sattva meningkat, kita akan memiliki kegembiraan pikiran, pemusatan pikiran, penaklukan indra dan kelayakan untuk perwujudan Atman. Tingkatan Ekagra, pikiran terpusatkan dan terjadi meditasi yang mendalam, dan sifat Sattva terbatas dari sifat Rajas dan Tamas. Tingkatan Niruddha, pikiran di bawah pengendalian yang sempurna dan semua Vrtti meninggalkan suatu samkara atau kesan-kesan yang mendalam dan dapat mewujudkan dirinya sebagai keadaan sadar bila ada kesempatan. Apabila semua vrtti dihentikan, pikiran berada dalam keadaan seimbang (Samapatti).
Menurut Patanjali, avidya (kebodohan), asmita (keakuan), raga-dvesa (suka dan beci, keinginan dan anti pati) dan abhinivesa merupakan (ketergantungan pada kehidupan duniawi) merupakan 5 klesa besar atau mala petaka sang menyerang pikiran. Ada keringanan dengan melaksanakan Yoga secara terus menerus, tetapi tidak menghilangkannya sama sekali.
Pelaksanaan Kriya-Yoga dapat memurnikan pikiran, melunakkan 5 klesa di atas dan membawa pada keadaan Samadhi. Mengusahakan persahabatan (maitri) terhadap sesama, kasih sayang (karuna) terhadap yang lebih rendah, kebahagiaan (mudita) terhadap yang lebih tinggi, dan ketidak acuhan (upeksa) terhadap orang-orang kejam, menghasilkan ketenangan pikiran (citra prasada).[1]

B.     Tuhan dalam Ajaran Yoga

Berbeda dengan samkya, yoga mengakui adanya tuhan. Adanya tuhan dipandang lebih bernilai praktis daripada  bersifat teori dan merupakan tujuan akhir Samadhi yoga. Dengan demikian maka yoga, bersifat teori dan praktek dalam hubungan Tuhan. Menurut ajaran yoga Tuhan itu adalah rokh tertinggi yang mengatasi rokh  perseorangan dan bebas dari segala cacat. Ia adalah ada sempurna kekal abadi, berada dimana-mana maha kuasa dan maha tahu. Tuhan adalah rokh yang abadi tak tersentuh oleh duka cita. Ia adalah penguasa tertinggi dunia ini, yang mempunyai pengetahuan tak terbatas, kekuatan tak terbatas yang membedakan ia dari pribadi-peribadi yang lain.
            Bakti kepada Tuhan tidak hanya peraktek yoga, tetapi juga merupakan sarana pemusatan dan Samadhi yoga. Tuhan akan memberikan kurnia yang mulia kepada seorang yang bakti kepada-Nya brupa kesucian dan penerangan batin. Tuhan melenyapkan semua rintangan jalan orang-orang yan bakti kepada-Nya, seperti dukacita dan menempatkannya dalam suasana yang menyenangkan. Namun sementara rakhmat Tuhan dapat bekerja dengan  menagumkan pada diri kita, maka kita harus siap menerimanya dengan jalan cinta kasih, murah hati, jujur, suci dan sabar.[2]


C.    Filsafat Waisesika: 7 unsur alam
            waisesika yang merupakan salah satu aliran filsafat India yang tergolong kedalam Sad Darsana agaknya lebih tua dibandingkan  dengan filsafat Nyaya-Waisiseka sebagai filsafat muncul pada abad ke 4 SM, dengan tokohnya ialah Kanada (ulaka).
Buah karyanya adalah Waisesika Sutra  yang merupan sumber dari ajaran Waisiseka.
Abad kesebelas masehi dalam perkembangannya berfungsi dengan Nyaya sehingga banyak para filosof menyebutnya Nyaya Waisesika.
            Secara umum Waisesika membicarakan soal dharma yaitu apa yang memberikan kesejahtraan di dunia ini dan yang dapat memberikan kelepasan
            Ajarannya yang terpenting  ialah tentang katagori (unsure) yang menjadikan segala sesuatu yang ada di alam ini.[3]
            Menurut Waisesika ada tujuh katagori (padharta), yaitu: substansi (drawya), kwalitas (guna), aktivitas (karma), sifat umum (samanya), sifat perorangan (wisesa), pelekatan (samawaya),dan ketidakadaan (abhawa).[4]
Ad. 1. Substansi (drawya)
            Substansi adalah zat yang ada dengan sendirinya dan bebas dari pengaruh unsur-unsur lain. Namun unsure lain tidak dapat ada tanpa substansi. Substansi (drawya) dapat menjadi sebab yang melekat pada apa yang dijadikannya. Atau drawya dapat menjadi tidak ada pada apa yang dihasilkannya.
Contoh: tanah sebagai substansi telah terdapat pada periuk yang terjadi dari tanah.
            Jadi tanah itu selalu dan telah ada pada apa yang dihasilkannya,sedangkan periuk itu tidak dapat terjadi tanpa substansi (tanah).
Ada Sembilan subsatansi yang dinyatakan oleh Waisesika yaitu: bumi (tanah), api (panas), air (zat cair), udara (hawa), akasa (ether), waktu (kala), ruang (tempat), akal (manas), pribadi (jiwa(atma).
            Semua substansi di atas, riel, tetap dan kekal, namun hanya hawa, waktu, dan akasa bersifattak terbatas. Kombinasi dari Sembilan substansi itulah membentuk alam semesta beserta isinya menjadikan hukum-hukumnya yang berlaku terhadap semua yang ada di alam ini baik bersifat physik maupun yang bersifat rokhaniah.
            Adapun yang termasuk  substansi badani (physik) ialah: bumi,air, api, udara, ruang, waktu dan akasa. Sedang yang tergolong substansi rokhaniah terdiri dari akal (manas/ pikiran) dan pribadi (jiwa/atman). Kedua substansi rokhaniah ini bersifat kekal dan pada setiap makhluk (manusia) hanya terdapat satu jiwa  dan satu manas. Demikianlah ppribadi (jiwa) itu bersifat individu dan menjadi sumber kesadaran setiap mahklik yang senantiasa berhubungan dengan kegiatan badani (physik). Setiap pribadi (atma) memiliki mmanas tersendiri yang dipakai sebagai alat untuk mengenal dan mengalami segala sesuatu melalui alat  physic termasuk juga dipakai sebagai alat untuk mencapai kebebasan.
            Oleh karena iti setiap mahkluk  (manusia) dijiwai oleh pribadi (jiwat/atma) maka pandangan waisesika terhadap jiwa adalah riil dan pluralis itu bener-bener ada dan tak terbatas jumlahnya.
Ad. 2. Kwalitas ( guna)
            Guna ialah keadaan atau sifat dari suatu substansi. Guna sesungguhnya nyata dan terpisah dari benda (substansi) namun tidak dapat dipisahkan secara mutlak dari substansi yang diberi sifat. Pada substansi terdapat lima kwalitas kebendaan yaitu: bau , rasa, warna, raba, dan rasa. Sedangkan kwalitas rokhaniah terdiri dari 24 kwalitas yakni:
Kesenangan, kesedihan, keinginan, dharma,adharma, warna, rasa, bau, sentuhan, bunyi, bilangan,  besar, perbedaan, hubungan, kejauhan, kedekatan, tak berhubungan, kecairan, kepekaan, pengetahuan, perjuangan, kecenderungan, kesegaran, kebahasiaan.
            Hubungan kwalitas dengan substansi sangat erat dan tidak mungkin dipisahkan karena keduanya senantiasa mewujudkan satu kesatuan.
Contoh: merah adalah suatu warna (sifat) yang berbeda dan terpisah  dengan substansi, tetapi sulit dapat terjadi warna merah yang tidak melekat pada suatu benda. Atau tidak ada merah tanpa ada suatu benda (substansi) yang diwarnai oleh warna merah. Tetapi benda dapat ada dan terlihat tanpa warna merah. Ketergantungan seperti itu disebut pelekatan/samawanya).
Ad.3. aktifitas ( karma)
            Tidak semua substansi (zat) dapat bergerak. Hanya substansi yang bersifat terbatas saja  dapat bergerak atau mengubah tempatnya. Sedangkan substansi yang tak terbatas (atma,hawa dan akasa) tidak dapat bergerak karena telah memenuhi seala yang ada.
            Gerakan-gerakan dari benda-benda di ala mini bukan bersumber dari dirinya sendiri, melainkan ada sesuatu yang berkesadaan yang menjadi sumber gerakan itu. Benda-benda hanya dapat menerima gerakan dari sesuatu yang berkesadaran. Bila terlihat kenyataan yang terjadi di ala mini seperti adanya hembusan angin, peredaran bumi dan planet –planet, maka tenu ada sumber  penggerak yang adikodrati. Sumber yang adikodrati itulah Tuhan.
            Karena Tuhan sebagai sumber gerakan ala mini makaTuhan Maha mengetahui segala gerak dan perilaku benda-benda di ala mini termasuk mengetahui bnenar perilaku (karma) manusia.
            Atas dasar itu jelaslah Waisesika meyakini adanyaTuhan  secara anumana. Diyakini Tuhan adalah maha tahu, menjadi sumber kesadaran yang tertinggi dan waisesika meyakini bahwa Tuhan menciptakan ala mini dengan jalan mengatur komposisi atom-atom yang ada.
Ad.4. samanya.
            Sifat umum (samanya) ialah sifat terdapat pada sekelompok atom yang sudah tentu berbeda-beda dengan sifat atom yang lain, seperti sifat kelompok atom air akan berbeda dengan kelompok atom bumi maupun dengan sufat atom manas , dan sebgainya. Cirri-ciri inilah yang disebut samanya. Samanya menyebabkan adanya kelompok-kelompok  substansi yang berbeda-beda dialam ini. Namun di samping sifat umum , maka setiap benda termasuk atom-atom  memiliki sifat perorangan yang kekal, yang membedakan satu atom dengan atom yang lain.

Ad.5. wisesa
            Sifat perorangan (individu) ada banyak dan beraneka ragam  karena setiap benda atau orang memiliki  sifat tersendiri dan berbeda antara benda yang satu dengan yan lain. Karena setiap benda (substansi) memiliki wiswsa maka wisesa ini bersifat kekal.

Ad. 6. Samawaya.
            Pelekatan juga bersifat kekal dan hanya ada satu yang disebut samawaya. Pelekatan dikatakan kekal karena pelakatan itu tentu terjadi pada benda-benda yakni pelakatan antara benda (zat)  dengan kualitasnya seperti : api-panas, kapur-putih, tinta-hitam,es-dingin, dan sebagainya.
Api, air, dan tanah terjadi dari substansi yang atomnya bersifat kekal, maka tentu kwalitasnyapun kekal termasuk hubungan yang tak terpisahkan (samawaya/pelekatan) keadaannya kekal pula. Namun sifat kelekatan itu hanyalah satu walaupun terdapat pada bermacam-macam substansi.

Ad. 7. Abhawa.
            Abhawa dikatakan katagori yang bersifat negatif kerena abhawa menyatakan ketidak-adaan  yaitu ketidak adaan dari sesuatu. Jadi abhawapun ternyata menyebabkan terjadinya sesuatu yakni ketidak-adaan. Ketidak-adaan disini bukanlah mutlak (absolut) melainkan ketidak adaan yang bersifat khusus dan berlaku pada ruang waktu tertentu dan terbatas.
Contoh: di dalam ruangan tidak ada almari. Jadi yang diamati dalam ruangan itu  ialah adanya abhawa khusus untuk almari itu tidaklah mutlak untuk semua waktu dan ruang. Demikian pula halnya dengan benda lain, seperti bunga itu tidak kuning, udara itu tidak berwarna.
Abhawa dibedakan atas 2 (dua) yaitu :
a.       Samsargabhawa adalah ketidak-adaan suatu benda karena memang belum pernah dibuat, seperti periuk tidak ada karena belum dibuat dari tanah liat oleh pembuatnya. Dalam hal ini termasuk pula tidak-adanya sesuatu pada suatu benda (bunga tidak berwarna kuning).
b.      Anyonyabhawa adalah ketidak adaan dari suatu benda karena rusak (hancur) seperti tidak adanya mangkok atau rumah karena sudah pecah atau habis terbakar.

D.Kesimpulan
 Yoga mengakui adanya tuhan. Adanya tuhan dipandang lebih bernilai praktis daripada  bersifat teori dan merupakan tujuan akhir Samadhi yoga. Dengan demikian maka yoga, bersifat teori dan praktek dalam hubungan Tuhan. Menurut ajaran yoga Tuhan itu adalah rokh tertinggi yang mengatasi rokh  perseorangan dan bebas dari segala cacat. Ia adalah ada sempurna kekal abadi, berada dimana-mana maha kuasa dan maha tahu. Tuhan adalah rokh yang abadi tak tersentuh oleh duka cita. Ia adalah penguasa tertinggi dunia ini, yang mempunyai pengetahuan tak terbatas, kekuatan tak terbatas yang membedakan ia dari pribadi-peribadi yang lain.
            Secara umum Waisesika membicarakan soal dharma yaitu apa yang memberikan kesejahtraan di dunia ini dan yang dapat memberikan kelepasan
            Ajarannya yang terpenting  ialah tentang katagori (unsure) yang menjadikan segala sesuatu yang ada di alam ini.
            Menurut Waisesika ada tujuh katagori (padharta), yaitu: substansi (drawya), kwalitas (guna), aktivitas (karma), sifat umum (samanya), sifat perorangan (wisesa), pelekatan (samawaya),dan ketidakadaan (abhawa).





·         [1] Maswinara, I Wayan. Sistem Filsafat Hindu. Surabaya: Paramita,1999Top of Form

[2] Adiputra, I Gede Rudha, dkk. Tattwa Darsana. h.65
[3] Adiputra, I Gede Rudha, dkk. Tattwa Darsana. h.30
[4] Hadiwijono, Harun, Sari filsafat india, (Jakarta pusat: BPK Gunung mulya,h.62

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar