Selasa, 27 November 2012

Periodisasi Sejarah Agama Hindu




AGAMA HINDU
Periodisasi Sejarah Agama Hindu

Makalah
Disusun Untuk Memenuhi Tugas pada Mata Kuliah Hinduisme



Oleh:
 Arip Nurahman
(1111032100025)
http://exiaprasetya.files.wordpress.com/2010/05/vyku3m.jpg?w=300&h=250
JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
Jakarta

2012
A.   Pendahuluan

Dalam membicarakan sejarah agama Hindu, perlu mengetahui sejarah yang panjang dari gejala-gejala keagamaan yang telah terlebur di dalam agama Hindu. Secara garis besar perkembangan agama Hindu dapat dibedakan menjadi tiga tahap. Tahap pertama sering disebut dengan zaman weda, yang dimulai dengan masuknya bangsa Arya di Punjab hingga munculnya agama Budha, pada masa ini dikenal adanya tiga periode agama yang penting (tiga agama besar). Ketiga agama ini adalah ketika bangsa Arya masih berada di daerah Punjab (1500 – 1000 SM). Agama dalam periode pertama lebih dikenal sebagai agama Weda Kuno atau agama Weda Samhita. Periode kedua di tandai oleh munculnya agama Brahmana (1000 – 750 SM). Periode ketiga ditandai oleh munculnya pemikiran-pemikiran kefilsafatan ketika bangsa Arya menjadi pusat peradaban sekitar sungai Gangga (750 – 500 SM), agama Weda periode ini dikenal dengan agama Upanished.
 Tahap kedua sering disebut dengan zaman Budha, Zaman Budha dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama “ Sidharta”, menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem Yoga dan Semadhi sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Agama Hindu dari India Selatan menyebar sampai keluar India dengan berbagai cara.
tahap ketiga adalah apa yang dikenal sebagai zaman agama Hindu, berlangsung sejak 300 M hingga sekarang.[1]










B.   Zaman Agama Budha
Zaman Budha dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama “ Sidharta”, menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem Yoga dan Semadhi sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan. Agama Hindu dari India Selatan menyebar sampai keluar India dengan berbagai cara. Terutama melalui perdagangan bebas internasional.

1.     Zaman Kerajaan Maurya
Kerajaan Maurya merupakan salah satu kerajaan yang memegang peranan penting dalam sejarah Asia Selatan. Penemuan dan peninggalannya adalah penemuan penting yang dapat menjelaskan bagaimana peradaban masyarakat India jaman dahulu.
Kekaisaran Maurya diperintah oleh Dinasti Maurya yang didirikan oleh Candragupta di Pataliputra (sekarang disebut Patna) di Magadha, India timur laut. Pada 322 SM, Chandragupta naik tahta hasil dari kudeta yang dipimpinnya dari dinasti Nanda. Pada masa pemerintahan Chandragupta merupakan persinggungan antara India dengan bangsa asing, tepatnya kekaisaran Macedonia yang dipimpin oleh Alexander Agung. Peristiwa ini berlangsung 2 tahun sebelum Chandragupta naik tahta. Kedatangan Macedonia selain dengan maksud politis, juga dengan maksud menyebarkan kebudayaan barat ke timur. Pasca ekspansi bangsa barat adalah kemunculan budaya hellenisme, yakni perpaduan antara budaya timur dengan budaya barat.
Chandragupta naik tahta beberapa saat pasca kematian Alexander Agung. Ia berhasil menguasai daerah yang sebelumnya dikuasai oleh Macedonia, dan bahkan berhasil menjalin hubungan dengan musuh Alexander Agung, Seloucos Nicator (penguasa Yunani di Asia Barat) yang kemudian banyak membantu Chandragupta dalam menuliskan sejarah India.
Chandragupta mengambil alih kekuasaan di Maghada pada 321 SM. Dalam waktu 10 tahun, ia telah menginvasi sebagian besar India utara. Ia seorang negarawan yang baik, dan India menjadi makmur di bawah pengaruhnya. Putranya, Bindusara (293-268 SM), memperluas kerajaan hingga jauh ke bagian selatan India.
Cucu Chandragupta, Asoka (268-233 SM), merupakan penguasa terbesar Maurya. Ia memperluas kerajaan, yang dihuni oleh penduduk dengan lebih dari 60 keyakinan dan bahasa yang berbeda. Tahun 261 SM, pasukan Maurya menghancurkan penduduk Kalingga dalam sebuah peperangan yang banyak mengucurkan darah dan memakan korban sebanyak 200.000 jiwa. Menyaksikan kengerian serta penderitaan tersebut, Asoka merasa sangat terguncang dan ia memutuskan bahwa tidak ada kemenangan militer yang harus dibayar semahal itu. Ia berpindah agama, dari seorang Hindu menjadi pengikut Buddha, dan menanggalkan kekuasaan militer sebagai sebuah kebijakan nasional. Ia melarang persembahan korban hewan maupun manusia dan mempertahankan angkatan daratnya semata-mata sebagai sarana pertahanan. Asoka juga menerapkan hukum moral Buddha mengenai sikap baik dan menjauhi kekerasan serta memberikan perdamaian, kebudayaan, kehormatan, dan kemakmuran bagi rakyatnya.
Raja Asoka dengan resmi telah mengikuti ajaran Buddha, akan tetapi rakyat pada umumnya masih setia kepada ajaran Hindu, yang sudah berakar teguh dalam masyarakat sejak zaman purba. Para Brahmana masih memberikan pengaruh yang besar kepada rakyat. Dalam keadaan demikian, Raja Asoka mengeluarkan amanat supaya di antara agama - agama dan aliran - aliran haruslah ada ikatan persaudaraan dan perdamaian, setiap agama bebas untuk melakukan kebaktian dan mendapatkan perlindungan yang sama dari raja.[2]
Di bidang keagamaan dikatakan masyarakat beragama Hindu memuja Heracles, Dionysus, maupun Zeus Ombrios. Pusat pemujaan Heracles adalah Mathura,dari sini kita dapat menduga bahwa Heracles itu Kreshna, yang lebih dikenal sebagai sais kerata perang Arjuna, dan yang sekaligus menjadi Raja di Yadava, dan tempat kelahirannya di Mathura. Sedangkan yang dimaksud dengan Dionysus boleh jadi ialah Dewa Siwa, dan Zeus ialah Dewa Indra. Dapat disimpulkan dari bidang keagamaan bahwa masyarakat pada masa Chandragupta banyak memuja Dewa, dan Dewa yang di puja adalah Dewa local.[3]

2.     Zaman Kerajaan Setelah Maurya.
Zaman keemasan pada pemerintahan Raja Asoka. Agama Budha dijadikan dasar pemerintahan. Di segala penjuru kerajaan didirikan tiang-tiang batu bertahtakan ajaran agama Budha. Di pucuk tiang tersebut terdapat patung singa sebagai kebesaran kerajaan Maurya. Setelah Raja Asoka meninggal, kerajaan terpecah menjadi bagian-bagian kecil. Pada abad IV muncul seorang raja yaitu Candragupta I yang membangun Kerajaan Gupta. dengan pusatnya di Lembah Sungai Gangga. Pada masa pemerintahan Raja Candragupta I, agama Hindu dijadikan agama negara, namun agama Buddha masih tetap dapat berkembang.[4]
Masa kejayaan Kerajaan Gupta terjadi pada masa pemerintahan Samudragupta. Pada masa pemerintahannya Lembah Sungai Gangga dan Lembah Sungai Indus berhasil dikuasainya dan Kota Ayodhia ditetapkan sebagai ibukota kerajaan.
Pengganti Raja Samudragupta adalah Candragupta II, yang dikenal sebagai Wikramaditiya. Ia juga bergama Hindu, namun tidak memandang rendah dan mempersulit perkembangan agama Budha. Bahkan pada masa pemerintahannya berdiri perguruan tinggi agama Buddha di Nalanda. Di bawah pemerintahan Candragupta II kehidupan rakyat semakin makmur dan sejahtera.. Kesusastraan mengalami masa gemilang. Pujangga yang terkenal pada masa ini adalah pujangga Kalidasa dengan karangannya berjudul "Syakuntala". Perkembangan seni patung mencapai kemajuan yang juga pesat. Hal ini terlihat dari pahatan-pahatan dan patung-patung terkenal menghiasi kuil-kuil di Syanta.[5]
Dalam-perkembangannya Kerajaan Gupta mengalami kemunduran setelah meninggalnya Raja Candragupta II. India mengalami masa kegelapan selama kurang lebih dua abad.[6]
Agama Hindu mengalami sebuah pasang surut dengan munculnya agama-agama baru di India yakni Budha, Jain dan Sikh. Namun berkat peranan Dinasti Gupta, agama Hindu kembali mendapat tempat pada masyarakat India sampai saat ini. Di Zaman Gupta yakni pada masa Pemerintahan Samudragupta dan Candragupta II. Ayah dan anak ini merupakan dua di antara pemimpin-pemimpin hebat bangsa Gupta. Dinasti tersebut menguasai hampir seluruh India Utara dari 320 sampai 497 M, meski pengaruh mereka tersebar lebih luas dan bertahan lebih lama.

3.     Agama Budha dan Jain (Reaksi Terhadap Hinduisme)
Reaksi Agama Budha Terhadap Hinduisme
Dalam alur sejarah agama-agama zaman agama Budha dimulai semenjak tahun 500 SM-300 M. Secara historis agama tersebut mempunyai kaitan erat dengan agama yang mendahuluinya dan yang datang sesudahnya yaitu Agama Hindu.[7]
Agama Budha tumbuh di India tepatnya bagian Timur Laut. Agama Budha muncul sebagai reaksi terhadap domonisi golongan Brahmana atas ajaran dan ritual keagamaan dalam masyarakat India. Selain itu adanya larangan bagi orang awam untuk mempelajari kitab suci. Bahkan sebelumnya kaum ksatria dan raja harus tunduk kepada Brahmana. Sidharta memandang bahwa sistem kasta dapat memecah belah masyarakat bahkan sistem kasta dianggap membedakan derajat dan martabat manusia berdasarkan kelahiran.[8]
Menurut agama Budha kesempurnaan (Nirwana) dapat dicapai setiap orang tanpa harus melalui bantuan pendeta/ kaum Brahmana. Setiap orang mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk mencapai kesempurnaan tersebut asalkan ia mampu mengendalikan dirinya sehingga terbebas dari samsara. Sidharta Gautama dikenal sebagai Budha atau seseorang yang telah mendapat pencerahan. Meskipun ada pandangan dalam Hinduisme yang menganggap Buddha sebagai seorang awatara, kadangkala ajarannya bertolak belakang dengan agama Hindu dan dianggap sebagai suatu bentuk ateisme karena mengajarkan bahwa dunia tidak diciptakan oleh Tuhan Sang Pencipta. Meskipun agama Buddha meyakini adanya para dewa, namun para dewa tersebut bukanlah makhluk mahakuasa, tidak menciptakan alam semesta. Meskipun ajaran Buddha menyatakan adanya Brahma, namun Brahma tersebut berbeda dengan Brahma dalam agama Hindu yang menciptakan alam semesta. Brahma dalam agama Buddha tidak hanya satu; mereka hanyalah suatu golongan dewa, seperti yang dijelaskan dalam Brahmajala Sutta. Ajaran Buddha juga mengakui adanya Sakra, atau pemimpin para dewa, sama seperti Indra (alias Sakra) dalam ajaran Hindu, namun karakteristik dan mitos keduanya berbeda.[9]

Reaksi Agama Jain Terhadap Hinduisme
Jain adalah sebuah agama dharma. Jain bermakna penaklukan. Agama Jain bermakna agama penaklukan. Dimaksudkan penaklukan kodrat-kodrat syahwati di dalam tata hidup manusiawi. Agama Jain itu dibangun oleh Nataputta Vardhamana  hidup pada 559-527 SM yang beroleh panggilan Mahavira yang berarti pahlawan besar.
Agama Jain lahir lebih dahulu daripada agama Buddha.  Agama Buddha punya pengikut lebih luas di luar India, namun agama Jain terbatas hanya di India saja. Kedua agama tersebut merupakan reaksi terhadap perikeadaan di dalam agama Hindu mengenai perkembangan ajarannya pada masa lampau.[10]
Agama Jain sendiri lahir berdasarkan reaksi dari ketiak setujuannya terhadap ajaran-ajaran agama Hindu, maka pada saat itu terjadi pemberontakan besar terhadap agama Hindu yang dipimpin oleh Mahavira. Mahavira lahir pada tahun 599 SM. Nama mahavira sendiri bukan nama asli, dia nama aslinya adalah “vhardamana”. Dia dipanggil mahavira itu sendiri setelah ada kejadian dimana pada suatu ketika ada seekor gajah yang terlepas dari kandangnya kemudian merusak apa-apa yang menghalangi jalannya dia, tidak ada satu-pun orang yang bisa menangkap dan menjinakan hewan itu. Dan ketika sedang bermain, vhardamana melihat gajah tersebut dan dia langsung menangkapnya dan menjinakannya padahal usiannya baru 7 tahun. Akhirnya rakyat kerajaan Moghadah amat memujikan keberanian pangeran muda itu, sejak itu-pun dia dipanggil Mahavira (perwira perkasa).[11]
Awal mula dari kemunculan agama jain ialah ketika mahavira menyaksikan prilaku kasta brahmana  ( Brahmin ) yang banyak melakukan penyelewengan-penyelewengan sehingga membuat muak pangeran muda tersebut. Apalagi ketika ia menyaksikan kematian kedua orang tuanya dalam keadaan lapar padahal mereka hidup dalam kemewahan, itu dilakukan kedua orang tuanya Karena dalam ajaran hindu mengatakan kematian dalam keadaan lapar  merupakan suatu kematian yang suci (holy death). Setelah kedua orang tuanya meninggal itulah dia berkata kepada saudaranya : “ saudara, untuk berkabung atas kemangkatan ibu-bapak kita, saya berkehendak mengangkat sumpah bahwa dua belas tahun lamanya saya akan mengabaikan tubuh menahankan bencana apapun yang datang dari kodrat-kodrat gaib maupun manusia atau-pun hewan “.
 Mahavira melakukan perjalanan mengembara sebagai seorang kafir, dan bersumpah “ dalam masa 12 tahun terhitung mulai dari saat ini saya tidak akan mengucapkan sepatah katapun “. Dari sumpah itu dia mendapatkan banyak pelajaran, diantaranya dia itu lebih baik dari ucapan. Mahavira juga tidak membenarkan membunuh apa-apa yang bernyawa. Kemudian ajaran-ajarannya banyak didukung oleh kalangan raja-raja karena salah satu ajarannya adalah tidak boleh menyakiti benda-benda yang mempunyai ruh tetapi telah mewajibkan rakyat agar taat dan setia kepada orang yang memerintah, barang siapa yang melanggar atau menentang akan disembelih kepalannya. Apalagi seruannya mengandung sesuatu yang membayangkan isi hati mereka dalam menentang golongan brahmana. Penyebaran hasil pemikirannya disebar melalui padato-pidato dan ceramah-ceramah diberbagai kota di india. Dari perjalanannya itu kemudian pengikut jain lebih kurang satu juta orang dan semuanya berada di india seperti agama hindu, pada keseluruhannya taraf sosial dan pendidikan mereka bersifat tinggi.[12]

C.     PENUTUP
Secara garis besar perkembangan agama Hindu dapat dibedakan menjadi tiga tahap. Tahap pertama sering disebut dengan zaman weda. Tahap kedua sering disebut dengan zaman Budha, tahap ketiga adalah apa yang dikenal sebagai zaman agama Hindu, berlangsung sejak 300 M hingga sekarang.
Kerajaan Maurya merupakan salah satu kerajaan yang memegang peranan penting dalam sejarah Asia Selatan. Asoka (268-233 SM), merupakan penguasa terbesar Maurya. Ia memperluas kerajaan, yang dihuni oleh penduduk dengan lebih dari 60 keyakinan dan bahasa yang berbeda. Raja Asoka dengan resmi telah mengikuti ajaran Buddha, akan tetapi rakyat pada umumnya masih setia kepada ajaran Hindu, yang sudah berakar teguh dalam masyarakat sejak zaman purba.
Kerajaan setelah maurya adalah Kerajaan Gupta. Pendiri Kerajaan Gupta adalah Raja Candragupta I dengan pusatnya di Lembah Sungai Gangga. Pada masa pemerintahan Raja Candragupta I, agama Hindu dijadikan agama negara, namun agama Buddha masih tetap dapat berkembang.
Agama Budha tumbuh di India tepatnya bagian Timur Laut. Agama Budha muncul sebagai reaksi terhadap domonisi golongan Brahmana atas ajaran dan ritual keagamaan dalam masyarakat India.
Agama Jain lahir lebih dahulu daripada agama Buddha.  Agama Buddha punya pengikut lebih luas di luar India, namun agama Jain terbatas hanya di India saja. Kedua agama tersebut merupakan reaksi terhadap perikeadaan di dalam agama Hindu mengenai perkembangan ajarannya pada masa lampau. Agama Jain sendiri lahir berdasarkan reaksi dari ketiak setujuannya terhadap ajaran-ajaran agama Hindu.

D.  DAFTA R PUSTAKA
-Manaf, Mudjahid Abdul. Sejarah Agama-Agama. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada. 1994.
-Ali, Mukti  (Pengantar). Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press. 1988.


[1]. Mukti AliPengantar). Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press. 1988.
[2] . Mukti Ali (Pengantar). Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press. 1988.
[4] Mukti AliPengantar). Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press. 1988.
[7] . Mudjahid Abdul Manaf. Sejarah Agama-Agama. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada. 1994.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar