Selasa, 27 November 2012

Periodisasi Sejarah Agama Hindu - Zaman Pertengehan Sampai Kemerdekaan India



Zaman Pertengehan Sampai Kemerdekaan India
Makalah ini dibuat untuk
Memenuhi mata kuliah HINDUISME

Di Susun Oleh:
ERIK ERMAWAN 1111032100061


FAKULTAS USHULUDDIN
PERBANDINGAN AGAMA SEMESTER 3 A
2012

Zaman Raja Harsha (606 – 647)
Pemerintahan Harsha atau Suhasta Mama Maharaja Diraja Sri Harsha Wardana , raja Hindhu penghabisan yang masyur (606-647).Harsha berasal dari keturunan raja – raja kecil , akan tetapi ibunya termasuk keturunan gupta. Ditahun 604 bapaknya mengirim saudaranya yang sulung , Rajavardhana ,dengan tentara yang kuat untuk memerangi bangsa Huna disebelah Utara. Mula – mula Harsha menolak permintaan rakyat akan mengganti saudaranya. Oleh sebab itu selama satu tahun pemerintahan kacau. Harsha tidak dapat membiarkan keadaan itu dan ditahu 606 ia menerima permohonan itu , akan tetapi sebagai pemangku. Pekerjaan nya yang pertama ialah mencari adik perempuannya yang lari kepegunungan , setelah suaminya dibunuh oleh raja Malwa.Baru 6 tahun setelah Harsha dipilih rakyat menjadi rajanya ia dinobatkan dengan mengambil nama Maharajadhiraja Sri Harsha.Usaha lain yang dikerjakan oleh Harsha ialah memperkuat balatentaranya. Setelah cukup kuatnya untuk tahan berperang selama 5 tahun , ia mulai membulatkan kerajaannya dari India Utara sampai ke Teluk Benggala.Harsha memerintah 46 tahun lamanya , diantaranya 37 tahun dalam suasana perang yang terus menerus. Pada penghabisan pemerintahannya ia mengikuti teladan Asoka Maurya dan menjadi seorang santri (sangha) Buddha.
Ditahun 647 raja Harsha wafat setelah memerintah 46 tahun. India tidak akan melupakan namanya , sebab ialah raja yang membawa keamanan dan kemakmuran dan membangkitkan India kembali dari penindasan bangsa Huna , pada masa mana India jatuh dalam sengsara dan menjadi negeri yang sepi.Akan tetapi setelah kemakmuran kembali berkat jasa raja Harsha dan musuh dari luar tidak mengancam lagi , maka terbitlah permusuhan – permusuhan diantara raja – raja yang dibawah kuasa Harsha , tidak lama setelah ia wafat[1].



Zaman kerajaan – kerajaan di India Utara , Deccan dan India selatan
Di India Tengah dan Selatan kebudayaan Hindu terus berkembang , setelah India Utara dan Hindustan dikuasai oleh raja – raja Islam yang datang dari Persia dan Asia Tengah.Diantara kerajaan – kerajaan di India Tengah yang amat kuat ialah kerajaan Chalukya sampai tahun 1190.Kebudayaan dikerajaan itu dizaman Harsha sudah tinggi derajatnya , misalnya lukisan – lukisan yang terdapat dalam gua – gua dilembah Ajanta.dan dinamai Kebudayaan Zaman Ajanta.
Kerajaan yang besar juga dikuasainya diabad ke 8 ialah Rashtrakuta , dipahat di dalam gunung batu dekat Ellora , didaerah Hydrabad sekarang. Dari kebudayaan dizaman itu nampaklah kemunduran agama Buddha , sedang agama Hindu bertambah maju.Deccan dan India Selatan yaitu Bangsa Dravida , sudah mempunyai kebudayaan dan agama sendiri , sebelum bangsa Arya datang dari Utara.
Kemudian agama Buddha juga ditanam oleh Asoka di daerah itu. Dari percampuran agama Brahma , Buddha dan kepercayaan asli , terjadilah lambat laun agama rakyat semata mata , yang dinamai agama Hindu.Semenjak lama India Selatan menjadi impian raja – raja disebelah utara , yang hendak menakklukan daerah itu. Negeri itu namanya Tamilakam ( dalam kitab – kitab orang Yunani : Damirike ) dan terbagi atas 3 kerajaan : Pandya , Chola dan Kerala atau Chera.
Kitab – kitab bahasa Tamil sampai sekarang banyak yang tersimpan , didalamnya terdapat syai – syair dan lakon – lakon (drama).Kemudian mulai dari abad ke 4 sampai abad ke 8 terdengarlah kemasyuran kerajaan Pallava yang menakklukan kerajaan – kerajaan tiga – tiganya dan memerangi kerajaan Chalukya di India Tengah juga.
Suku Pallava itu mula – mula bersifat pengembara dan tak mau mendiami tempat yang tetap. Diabad ke 4 kerajaan Pallava sudah tersebut namanya yaitu pusat kota Kanchi. Raja – raja yang masyur ialah Mahendravarman (600-625) dan Narasinhavarman (625-645) keduanya mendirikan candi – candi yang indah tempat memuja Vishnu dan Siva.
Kemudian kuasa raja –raja Pallava berkurang , sebab terus menerus berperang dengan Chalukya. Dengan surutnya kerajaan Pallava mulailah kerajaan Chola timbul sekali lagi. Kerajaan Chola itu mempunyai daerah yang melingkungi Sailan , Pegu , Martaban di Birma dan kepulauan Andaman. Candi yang amat masyur dan masih ada sekarang di Tanjore didirikan atas titah raja Rajarajadeva.
Sebagian dari kerajaan Chola bernama Kalingga. Dalam nama ini tersimpan perkataan keeling. Dari India Utara datang terutama golongan yang hendak menyebarkan agama Buddha. Mereka itu dididik lebih dahulu dikota Kanchi , yang masyur namanya sebagai suatu pusat perguruan luhur , sebelum berangkat ke Indonesia. Jadi teranglah pada asalnya kebudayaan Hindu di Indonesia berdasarkan kebudayaan India Selatan dari abad – abad permulaan Tarich Masehi. Lama kelamaan dasar – dasar Hindu itu makin kabur , sedang corak asli bertambah terang[2].









1.     Masa pertengahan ( 1000-1800 M)
Ciri utama masa ini menunjukan fakta bahwa Islam memberikan sebuah sebuah konteks mendasar bagi perkembangan hinduisme sebagai teks. Pendukung Alberuni, Mahmud Ghazni memimpin tujuh belas serangan yang gemilang ke india dan mematahkan perlawanan orang-orang HINDU dengan mudah. Dia lebih tertarik untuk menghancurkan kota-kota dari pada membangun kerajaan. Pada tahun 1192, penguasa utama Rajput di Utara dikalahkan dan dibunuh oleh Muhammad Ghuri, dan pada tahun 1200, dinasti budak (slave dynasty) telah mendirikan aturan muslim di India Utara dan berakhir sampai 1858.
 Hinduisme berkembang dengan baik, sampai kedatangan Islam, dalam mengakomodasikan, jika bukan menyerap semua tantangan dalam bentuk agresi dari luar dan perpecahan dari dalam. Islam memberikan pengaruh ganda bagi Hinduisme. Di satu pihak, islam menganjurkan perpindahan agama; di pihak, Islam mendorong kecenderungan yang lebih egaliter dan monoteistik bagi kaum Hindu. Kemudian muncul tokoh-tokoh yang berusaha untuk menjembatani jurang pemisah antara keduanya. Sebagai contoh adalah kabir (abad ke 15), guru Nanak (1469-1538), Dadu (1544-1603).[3]
Kabir menulis sekumpulan kidung (hymns) yang dikenal sebagai “Bijak”; Dadu, pengikut Kabir dan pendiri Parabrahmana-sampradaya, bermaksud menyatukan semua agama menjadi satu.Dia mengarahkan para pengikutnya untuk mengumpulkan semua teks devosional dari berbagai aliran menjadi satu kumpulan. Tulsidas (1532-1623) adalah penulis teks Ramayana dalam versi bahasa Hindi (Rama-carita-manasa) dan Vinaya-partika; Guru Nanak (1469-1538) menulis teks suci kaum Sikh (Granth Saahib), yang berisi kidung-kidung yang ditulis oleh guru-guru mereka serta orang-orang religious lainnya, baik Hindu maupun Muslim.[4]
Memang ada interaksi antara Islam mistis dan Hinduisme, namun ajaran utama Hinduisme menarik diri kedalam kerang pelindung; dan secara mendasar berada dalam cengkraman keputusan politik, sehingga berbalik kearah penghiburan sepiritual pada tuhan. Hal ini terlihat dengan berkembangnya gaya hidup sebagai pertapa atau pengundurkan diri dari kehidupan duniawi. Kehidupan sannyasinmenjadi semacam pelarian diri, seperti yang dilihat dengan jelas oleh Guru Nanak.Pada sekitar abad ke-16, keeksterman Hinduisme terlihat jelas dalam karya-karya puisi devosional dengan kualitas sensasional, yang geraknya diwakili oleh surdas, Tulsidas, Mirabai, dan lain-lain.[5]
            Gerakan caitanya pada abad ke-15, yang menekankan pembacaan weda secara umum, merupakan sebuah usaha untuk menghindarkan Hinduisme agar tidak menjadi agama rumah dan perapian saja. Gerakan devisional ini menekankan kekuatan penyelamatan dalam nama Tuhan terutama Krishna dan Rama, sehingga berpuncak pada pernyataan paradox bahwa nama tuhan adalah lebih besar dari Tuhan sendiri. Gerakan devisional (bhakti) ini dikatakan berasal dari india selatan, dimana para devote Wishnu dan Shiwa sudah mencapai puncaknya pada abad ke-9. Sekarang kita akan pindah ke wilayah India selatan.
            Islam masuk ke India Selatan dengan disingkirkannya Deogiri oleh Malik Kafur pada 1307.Namun reaksi kaum Hindu di Selatan cukup menarik dan berbeda.Sejarah mencatat bahwa ketiga aliran utama Vedanta yang diwakili oleh Shankara (abad ke-9), Ramanuja dan madhva (abad ke-13) muncul di Selatan.Walaupun pemikiran Ramanuja dan Madhva adalah lebih bersifat teistik, namun masih tetap mengikuti konsep filsafat Vedantadan bukan hanya bersifat devosional saja.Wilayah selatan menunjukkan kekuatan serta vitalitas lebih besar, bukan hanya secara religious, namun juga secara politis.Hal ini disebabkan adanya kerajaan Vijayanagar yang berkuasa dari abad ke-14 sampai abad ke-17.
Gerakan devosional (bhakti) di maharastra (wilayah barat India) mengambil dua bentuk, yakni; varakari dan dharakari.Bentuk dharakari lebih bersifat aktif dan devosional, dimana salah satu tokohnya adalah Ramdas yang menjadi guru Shivaji (1627-1680).Di bawah kepemimpinan Shivaji inilah kerajaan Marathas menjadi sebuah kekuatan politik yang kuat dan menggantikan kekuatan Muslim di Selatan.Bentuk varakari melahirkan nama-nama besar penyair-santo di wilayah Barat India, seperti Namadev (abad ke-14) dan Tukaram (abad ke-17).Gerakan bhakti menyebar keseluruh wilayah India serta menghasilkan penyair-santo seperti Shankaradeva di Assam dan Purandaradasa di Karnataka (abad ke-16).[6]
            Pada masa ini, dua gerakan politik berbasis Hindu yang cukup berhasil adalah kerajaan vijayanagar di Selatan dan kerajaan Marathas dibagian Barat India (terlepas dari kaum Sikh di Punjab).Di masa kerajaan Vijayanagar, terjadi kebangkitan kembali studi atas Weda dan komentar Hindu atas Weda yang ditulis oleh Sayana.Kemudian juyga Shivaji (1627-1680) dinobatkan sebagai tokoh ahli dibidang Ritual Weda dan menyatakan dirinya sebagai pelindung Weda.Puisi-puisi devosionalsaat itu berpusat pada Rama dan Krishna, yang merupakan inkarnasi Wishnu.[7]
            Ciri paling menonjol pada masa Muslim (1200-1757) ini adalah berkembangnya agama Wishnu (vaishnavism). Dua nama besar dari Selatan adalah Vallabha (1479-1531) dari india Selatan dan Caitanya (1486-1533) dari wilayah Bengal. Keduanya mengajarkan jalan devosi yang berpusat pada Krishna dan Radha.Vaishnavisme popoler ini disebarkan di wilayah Maharastra oleh namadeva (abad ke-14) dan tukaram (abad ke-17); sedangkan di utara, vaishnavisme berkembang dalam bentuk penyembahan terhadap Rama.Tokoh-tokoh terkenal dari India Utara adalah Ramananda (abad ke-14), Dadu (1544-1603) dan Tulsidas (1532-1623).

Pengaruh Islam dapat dilihat dari gerakan religius di India Utara dengan ciri Monoteisme ketat, tanpa menghiraukan perbedaan kasta dan menolak pemujaan terhadap Imaji (patung, gambar dsb). Sebagai contoh adalah Kabir (abad ke-15) yang mengajarkan sebuah agama universal berdasarkan pada relisasi personal akan Tuhan yang tinggal didalam hati manusia. Kemudian, Guru Nanak (1469-1538) mendirikan agama Sikh (1469-1538) yang berusaha untuk menyelaraskan Islam dan Hinduisme.[8]

4.        Masa Modern (1800-1947)
            Pengaruh kemudayaan Barat memberikan dampak menentukan bagi Hinduisme.Walaupun Hinduisme popular dan tradisional tetap menguasai masyarakat umum, namun orang-orang terpelajar sangat dipengaruhi oleh ide-ide baru yang datang dari Barat.Rasionalisme dan positivism cukup memikat pikiran orang-orang yang tidak puas dengan Hinduisme tradisional.Berbagai gerakan reformasi dimulai, dimana Brahmo-Samaj, Arya-Samaj dan Ramakrishna mission merupakan merupakan gerakan yang paling penting. Secara umum dapat dikatakan bahwa hubungan dengan barat telah membuat penganut Hinduisme lebih sadar akan keniscayaan untuk menjaga nilai-nilai tradisional Hinduisme, walaupun mereka harus menyesuaikan diri dengan mentalitas modern.[9]
            Masuknya orang-orang Inggris sebagai penjajah membuat Hinduisme menghadapi situasi yang berbeda secara kualitatif.Masuknya penguasa Inggris mengurangi kekuatan Islam, namun Hinduisme harus menghadapi sebuah kekuatan baru, yakni agama Kristen. Pada saat yang sama, Hinduisme dihadapkan dengan sebuah ancaman baru, yakni: sains, sekularisme dan humanism. Justru melalui inisiatif orang-orang barat, pengetahuan tentang Hinduisme ditemukan kembali dan termasuk studi atas kitab weda.
Dampak bagi pengikut Hinduisme tampak dari pernyataan seorang tokoh nasionalis seperti Swami Vivekananda bahwa Max Muller yang mengedit Rig-Weda di masa modern mungkin adalah reinkarnasi dari sayana di masa kerajaan Vijayanagar.
            Walaupun ada sejumlah unsur yang harus di pertimbangkan untuk menjelaskan kebangkitan kembali Hinduisme setelah tahun 1800, namun dari sisi Hinduisme sebagai system religius, orang harus mengenali peranan Weda dalam proses tersebut.[10]Pada masa reformasi awal, justru issu tentang Weda dan otoritas weda munculkembali ke permukaan.Tokoh reformasi Hindu pertama adalah raja Rammohun Roy berusaha untuk membenarkan monoteisme yang berbasis Vedanta.  Sekitar 1830, dia mendirikan gerakan Brahmo Samaj di wilayah Bengal untuk melanjutkan perjuangannya. Kemudian di akhir  abad ke-19, Swami Dayananda Saraswati mendirikan gerakan Arya Samaj di Bombay, memperkuat keabsolutan Weda  yang telah dicetuskan oleh gerakan Brahmo Samaj.
            Menjelang akhir abad ke-19 dan awal kea bad 20, perkembangan Hinduisme mengalami sebuah proses pembalikan. Pada perkembangan sebelumnya, tradisi Hinduisme memperkeras  posisinya untuk mempertahankan otoritas weda karena di bawah tekanan Buddhisme, Jainisme dan Materialisme. Di masa Modern, walaupun Hinduisme sekali lagi mendapat tekanan dari sumber Kristiani yang rasional, modernis dan reformis, Hinduisme tidak bereaksi dengan cara yang sama. Hinduisme sekarang meninggikan pengalaman religius di atas otoritas religius dan tidak lagi terikat pada otoritas Weda.Sri Ramakrishna kadangkala melakukan penolakan terhadap Weda[11] dan hanya menggunakannya sebagai sebuah symbol. Kemudian Swami Vivekananda juga pada saat tertentu meremehkan otoritas Weda yang begitu kuat bagi kaum Hindu dan Berkata: “ Jika saya mengutip sebuah teks dari Weda dan dan memberikan arti yang tidak masuk akal . . . maka semua orang bodoh akan mengikuti saya”. Dia tidak ragu untuk mengatakan hal ini dalam ceramah-ceramahnya.Hampir semua tokoh-tokoh religius India di Masa Modern seperti B.G. Tilak (1856-1929), R. Tagore (1861-1941), Sri Aurobindo (1872-1950), dan Mahatma Gandhi (1869-1948) … Semuanya mengambil inspirasi mereka dari Weda, Walaupun bukan dari Otoritas Weda, dan bahkan Sri Rahmana Maharshi (1879-1950) mewajibkan pembacaan Weda secara teratur di asharm Tiruvannamalai.[12]


Daftar Pustaka
Ø Dr. Ali Matius. Sebuah Pengantar Hinduisme & Buddhisme. SANGGAR LUXOR : Jakarta 2010
Ø Molia T.S.G. Sejarah Politik India. Balai Pustaka : Jakarta 1959
Ø Kusnandar Ajiz. Filsafat India. Gramedia : Jakarta 2005
Ø www.sejarah india blogspot.com


[3] Sharma, Arvind. “Hinduism” dalam Our Religion, hal 39.

[4]Jesuit Scholars, Religious Hinduism, hal. 37.
[5] Sharma, Arvind. “Hinduism” dalam Our Religion, hal. 39-40.
[6] Sharma, Arvind. “Hinduism” dalam Our Religion, hal. 40.
[7] Sharma,Arvind. Our Religion, hal. 41.
[8]Jesuit Scholars, Religios Hinduism, hal. 27.
[9]Jesuit Scholars, Religios Hinduism, hal. 28.
[10] Sharma, Arvind. “Hinduism” dalam Our Religios, hal. 42.
[11] Renou, Louis, The Destiny of the Veda in India”, hal. 43.
[12]Sharma, Arvind, ibid, hal. 43.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar