Selasa, 27 November 2012

Sad Darsana Aliran samkhya



Dharsana dalam agama hindu
                Dalam jangkamasa antara 500 tahun sebelum Masehi sampai 500 tahun sesudah Masehi Berlangsung perkembangan aliran-aliran filsafat di dalam agama Hindu dengan sistem- sistem tinjauan (dharsanas) tersendiri terhadap permasalahan keagamaan.[1]
                Menurut tradisi India, Realitas Mutlak (Ultimate Reality) itu hanya satu, tetapi disampingnya terdapat enam interpretasi dasar mengenai Realitas, yang disebut Sad Darsana / Six Insight/ Enam Wawasan. Kata Sansekerta darsana  berasal dari asalkata ‘drs’ berarti melihat, yakni suatu istilah Sansekerta untuk falsafat/filosofi. Sad Darsana/Keenam Wawasan tersebut membentuk sistim falsafat klasik India yakni : Nyaya, vaesesika, samkhya, yoga, Mimasa dan Vedanta. Para pendiri Sad Darsana yang asli tidak diketahui/dikenal. Keenam wawasan/pengertian itu berangsur-angsur menjadi interpretasi mengenai Realitas Mutlak, masing-masing saling berjalin sehingga hipotase dan metode masing-masing saling bergantung satu dengan yang lain. Semuanya menuju ke pengetahuan mengenai kebenaran Mutlak dan Kebebasan Roh /sukma /soul.[2]
Aliran samkhya
                Samkhya itu bermakna : akal (reason). Aliran Samkhya itu dibangun oleh Kapila. Aliran Samkhya itu membahas tentang Jiwa dan tentang Materi beserta hubungan antara keduanya yang membangkitkan Tabiat pada segala sesuatunya. Aliran Samkhya itu menunjukkan 25 buah kesatuan (tattvas) yang amat menentukan di dalam proses kedirian, bagi pembentukan pribadi.
                Dua kesatuan yang paling azasi dan saling bertentangan ialah purusha (jiwa) dan prakerti (materi, benda). Jiwa itu tidak terbatas jumlahnya dan berisikan akal murni. Satu persatunya berdiri sendiri-sendiri, tak terbagi, tak bersyarat, tak berobah, dan abadi. Jiwa itu berkaitan dengan materi, yakni : prakriti, pradhana, avyakta.
                Pada mulanya prakeriti itu berada dalam keadaan diam. Thariqat-thariqat dalam dunia mistik Islam memanggilkan perikeadaan diam itu dengan alam-tsabitah. Prakriti itu memiliki tiga sipat (gunas), yaitu :
1.       Sattvas, yakni kebijakan.
2.       Rajas, yakni hasrat.
3.       Tamas, yakni kegelapan.
Ketiga-tiga gunas itu masih berada dalam pertimbangannya. Kemudian purusha (jiwa), sesuai dengan krama-nya (kewajibannya), lantas menggerakanya. Prakriti bergetar, dan satu persatu gunas itu lalu kehilangan perimbangannya. Dari pergerakan prakriti itu lahirlah 23 tattvas (kesatuan) lainnya.
                Pertama-tama lahir buddhi (akal), dan dari buddhi itulah berlangsung proses kepribadian, yakni Ahamkara, yang bermakna : Aku adalah Pelaku. Ahamkara itu suatu proses gerakan yang terus menerus, yang secar alamiah (kosmis) dan secara kedirian (individualis), memperlihatkan ragam-beda (differensisasi).
                Secara kommis, Ahamkara itu melahirkan lima tanmatras (unsur terhalus) yaitu : tanah, air, api, udara, dan ether. Dari lima unsur terhalus itu lahir lima mahabhuta (unsur tanggapan yaitu : Keras, basah, hangat, embusan, dan cairan. Dan semuanya itu sasaran bagi indra.
                Secara individualis, Ahamkara itu melahirkan lima buddhindraya (Indria yang merupakan alat akal) yaitu : penglihatan, pendengaran, penciuman, rabaan, dan citarasa. Dan dari situ lahir lima karmendrya (indria untuk bertindak) yaitu : mata, telinga, hidung, kulit, dan lidah.
                Tanmatras dan buddhindrya itu punya hubungan dengan ingatan (mind) dan hubunga itulah yang menentukan kepribadian sesuatu diri, yaitu pergumulan Hasrat dengan Akal. Jalan satu-satunya untuk mencapai keselamatan (moksha) ialah melakukan Yoga, karena, tubuh jasmani bisa terikat selamnya kepada karma dan samsara sebelum tercapai moksha.[3]
1.     Konsep Purusa dan Prakerti
Hubungan antara prakerti dan purusa diterangkan sebagai suatu perkawinan. Nisbah antara prakerti dan purusa-asali diumpamakan seperti nisbah antara isteri dan suami. Cara orang pada zaman kuno di banyak bagian dunia di Timur dan Barat berpikir terbelenggu oleh pikiran, bahwa rahasia dunia itu hanya dapat dipahami sebagai suatu hubungan perkawinan. Bandingkanlah misalnya dengan pendapat orang Tionghoa tentang unsur-unsur asali yang dan yin. Bila pada sistim Sankhya nisbah antara purusa dan prakerti dilukiskan sebagai perkawinan maka artinya demikian: Antara purusa dan prakerti terdapat suatu daya tarik yang mendekatkan keduanya: eros atau cinta. Daya tarik yang mendekatkan keduanya itu sebenarnya mempunyai maksud membebaskan purusa sama sekali. Karena segala peristiwa di dunia terjadi dari daya-tarik itu dan karena senantiasa dengan maksud supaya purusa itu menjadi bebas, maka di sini diajarkan, bahwa segala di dunia itu bergerak menuju ke suatu tujuan yang telah ditetapkan (sistim telelogis: telos berarti tujuan). Nisbah yang tersembunyi antara purusa dan prakerti, yang dapat dibandingkan dengan nisbah antara baja dan besi berani ditujukan supaya purusa itu mengenal hakekatnya sendiri dan menolak prakerti sebagai sesuatu yang tidak tergolong dalam hakekatnya purusa. Dalam hal itu prakerti sendiri ikut membantu, seperti air susu yang tidak sadar (seperti seluruh alam tidak sadar) dengan begitu saja keluar guna kepentingan anak lembu.
                Hubungan antara prakerti dan purusa disebut “samyoga”, artinya persenyawaan atau ikatan (sam berarti bersama dan yoga, bandingkanlah dengan lungo dalam bahasa Latin, berarti mengikat).
                Siapakah purusa itu? Di dalam sistim-Samkhya purusa itu sesutu yang sangat halus dan tidak dapat diberi definisinya. Segala gejala psykhis, segala yang ada pada kita termasuk benda pengamatan ilmu jiwa, oleh Sankhya di pandang sebagai tergolong pada prakerti. Purusa hanya penonton (sakshin) saja pada peristiwa-peristiwa dalam. Kita dapat berkata”. Jadi pada kita ada semacam kembaran yang tidak merasakan, tidak berpikir, berkata dan berbuat. Jadi di dalam manusia purusa itu bukanlah yang berbuat, tetapi yang menonton. Biasanya prakerti itu disebut materi. Tetapi itu sebenarnya lain dengan apa yang kita namakan materi. Prakerti adalah subtansi yang universal, yang tidak diberi bentuk, ialah alam dalam arti kata yang seluas-luasnya. Prakerti itu tidak mempunyai permulaan dan tidak dapat dibinasakan dan bersifat satu adanya. Adanya prakerti harus diakui, karena apa yang kita lihat itu harus bergantung kepada sesuatu yang lebih universal dan tetap (permanen), dan karena dunia itu menimbulkan pikiran pada kita, bahwa alam semesta itu suatu kesatuan. Jadi ajaran tentang sebab dan akibat (kausalitas) di sini dipergunakan untuk membuktikan adanya prakrti. Tiap-tiap kejadian itu hanya wujud pernyataan sesuatu, yang telah termuat di dalam sebabnya. Atau dengan perkataan lain: prakrti adalah kemungkinan, di mana segala sesuatu yang ada belum diberi bentuk. Jika alam (prakrti) itu tidak mempunyai permulaan dan tidak terbinasanakan, maka tentulah alam itu senantiasa berubah, senantiasa giat, (aktif). Terhadap kesatuan prakrti yang pokok terdapatlah sejumlah banyak purusa. Terhadap kegiatan prakrti yang abadi terdapat ketenangan yang abadi, keadaan purusa yang abadi.
                Selanjutnya di dalam prakerti terdapat ketiga bagian yang membentuk semesta yakni: sattva,
Rayas,
Tamas. Semua itu disebut: guna.
Sattva ialah “adanya yang ada”. Sattva adalah unsur asali dari segala yang terang, yang memberi cahaya dan segala yang mulia. Sattva itu juga sesuatu yang memberi kepuasan, yang memberi ketentraman, yang menenangkan hati manusia.
                Rayas adalah nafsu yang berkobar dan tidak dapat di kekang, ialah sesuatu yang menimbulkan rasa tidak senang dan tidak tentram.
                Tamas adalah kegelapan, yang berat, yang tidak bernafsu (yang indolen), yang muram, merasa sedih, merasa hancur, dukacita. Anasir-anasir atau faktor-faktor pada prakrti itu sendiri tidak dapat diamati, kita hanya dapat merasainya pada segala yang ada ini. Seekor burung mempunyai sattva (cahaya) sebagai ciri; tetapi harimau mempunyai rayas; ulat bercirikan tamas. Pada segala sesuatu terdapat ketiga guna itu. Pada barang atau makhluk yang satu terdapat lebih banyak guna macam ini, pada barang atau makhluk yang lain terdapat guna yang lebih banyak pula. Benda atau makhluk yang dapat kita amati adalah rupa dari guna. Cahaya adalah rupa dari sattva. Api badai, dan sebagainya adalah rupa dari riyas. Ulat dan kuda air adalah rupa dari tamas.
                Ketiga guna itu menentukan segala peristiwa di dunia dan di dalam prakrti dalam bentuk terbungkus, prakrti adalah hal kemungkinan, sama dengan hule di dalam filafat Yunani.
                Bagaimanakah kita harus membayangkan hubungan (samyoga) antara prakrti dan purusa? Apabila purusa dan prakerti itu saling dekat-mendekati, mulailah prakrti itu mencipta: dari keadaan yang tidak terbentuk dan dari kemungkinan yang alami beralihlah prakrti itu menjadi sesuatu yang berbentuk (rupa). Perhatikanlah, bahwa di sini unsur yang mencipta itu adalah unsur perempuan. Purusa itu pemimpi, yang dipengaruhi oleh lukisan-lukisan nafsu daripada prakrti. Di dalam keadaan ini purusa itu megira bertindak sendiri dan belum mengerti, bahwa hanya prakrti yang bertindak, sedang ia sendiri (purusa) hanya menjadi penonton saja (sakshin). Dalam saling dekat mendekati dari prakrti dan purusa berkembanglah kabut menyelimuti purusa, yang makin bertambah tebal.        
                Jika prakrti dan purusa saling dekat mendekati, terjadilah proes yang banyak selukbeluknya sebagai berikut:
1.       Mula-mula lahirlah budi, kesadaran.
2.       Unsur yang kedua ialah ahamkara, artinya sang pembuat aku, kesadaran akan adanya suatu “ aku” (kesadaran –subyek).
3.       Manas: kekuasaan untuk mengmati dan untuk memberi reaksi terhadap apa yang telah diamati itu.[4]



2.  Triguna
Prakrti dibangun oleh triguna yaitu, rajas, dan tamas. Guna artinya unsur, atau komponen penyusunan. Triguna itu tidak dapat kita amati dengan indra. Adanya itu disimpulkan atas obyek dunia ini yang merupakan akibat dari padanya. Karena adanya kesamaan azas antara akibat dan sebab, maka dapat kita ketahui sifat-sifat guna itu dari alam yang merupakan wujud hasil dari padanya. Semua obyek dunia ini memiliki tiga sifat yaitu sifat-sifat yang menimbulkan rasa senang. Susah dan netral. Nyanyian burung yang menyenangkan seorang seniman, menyusahkan orang sakit, tak berpengaruh apapun untuk orang yang acuh. Sebab semua sifat ini merupakan akibat suatu sebab, maka sifat-sifat itu haruslah terkandung dalam sattva, rajas dan tamas itu.
Sattwa adalah suatu prakrti yang merupakan alam kesenangan yang ringan, yang tenang bercahaya. Wujudnya berupa kesadaran sifat ringan yang menimbulkan gerak keatas, angin dan air di udara dan semua bentuk kesenangan seperti kepuasan, kegirangan dan sebagainya.
Rajas adalah unsur gerak pada benda-benda ini. Ia selalu gerak dan menyebabkan benda-benda ini bergerak. Ialah menyebabkan api berkobar, angin berhembus, pikiran berkeliaran kesaana kemari. Ialah yang menggerakan sattwa dan tamas untuk melaksanakan tugasnya.
Tamas adalah unsur yang menyebabkan sesuatu menjadi pasip dan bersifat negatif. Ia bersifat keras, menentang aktifitas menahan gerak pikiran hingga menimbulkan kegelapan, kebodohan sehingga mengantar orang pada kebingungan. Karena menentang aktifitas menyebabkan orang menjadi malas, acuh tak acuh, tidur.[5]
Ketiga guna ini tidak dapat dipisahkan satu sama lainya karena masing-masing saling mengsuport yang lain sebagai satu kesatuan. Ibaratkan “lampu minyak” yang terdiri dari unsur nyala, unsur minyak dan unsur lampunya, yang secara sendiri-sendiri tidak akan dapat berfungsi. Dalam kaitan dengan konsep penciptaan , pemeliharaan dan peniadaan, Sattwa adalah penciptaan Rajas adalah pemeliharaan dan Tamas adalah peniadaan. Prakrti dicirikan oleh adanya tiga guna diatas. Kata guna artinya adalah kwalitas atau sifat dari Prakrti, tetapi tidak sekedar aspek permukaan dari alam materiil ini, tapi hakekat intrinsic dari Prakrti. Guna-guna itu selalu berubah dari dalem dirinya sendiri walaupun dalam keadaan keseimbangan, Cuma saja ia tidak menghasilkan apapun sepanjang keseimbangan tidak terganggu. Bila keseimbangan terganggu maka guna-guna dalam situasi gunaksobha, dimana masing-masing guna beraksi satu sama lainnya yang diebabkan karena salah satu guna secara dominan tampil walaupun tidak meniadakan guna-guna lainnya, dalam benda-benda material yang diam atau yang tidak bergerak maka yang dominan adalah Tamas Guna dibangdingkan dengan  dua Guna lainnya. Dalam sesuatu ang bergerak maka Rajas Guna dominan dari pada duaguna lainnya. Demikianlah Guna-Guna itu bekerja bersama-sama dalam membentuk alam semesta ini. Guna-guna itu dapat di mengerti dari fakta berupa ciri-ciri dari Dunia marteriin ini,baik secara eksternalmaupun secara internal, baik itu berupa unsur fisik atau pikiran, yang semanya itu memiliki kemampuan dalam menghasilkan kesenangan, penderitaan atau seimbang tidak keduanya. Suatu objek yang sama barangkali menyenangkan seseorang tapi menyakiti bagi yang lainnya atau sama sekali tidak keduanya itu. Seorang wanita yang cantik akan sangat menarik bagi pacarnya,tapi akan menyakitkan wanita lainnya yang juga tertarik pada laki-laki pacar wanita cantik itu, dan tidak ada apa-apanya bagi orang lain yang tidak terlibat”kecantikan dari wanita itu menunjukkan adanya hubungan dengan orang-orang lainnya disekitarnya, yang muncul dari Guna-guna yang ada pada dunia ini. Dari contoh ini kita akan dibantu dalam memahami bagaimana asal-usuldari semua fenomena Prakrti ang memiliki ciri-ciri yang dapatkita temukan. Pada obyek-obyek dunia ini. Prekrti dan produk-produk yang dihasilkannya membutuhkan guna-guna tersebut karena, prakrti dan produknya tidak mempunyai kekuatan untuk membedakan dirinya dengan Purusa. Mereka adalah Objek sedangkan Purusa adalah Subyek. Filsafa Samkhya menyatakan bahwa keseluruhan alam semesta ini berkembang dari guna, dimana dalam keadaan ketiga guna itu seimbang alami disebut Prakrti dan dalam keadaan tidak seimbang disebut sebagai Vikrti, yaitu keadaan yang heterogen. Tiga guna inioleh filsuf Samkhya yang beraliran nonteistik dinyatakan sebagai penyebab terakhir dari aktifitas (calam); dan Tamas adalah berat dan gelap, lesu atau menutupi (guru danavarna). Guna itu tidak berbentuk dan selalu ada (omnipresent) yang dalam keadaan seimbang menyerahkan sifat-sifatnya kedalam yang satu dengan yang lainnya. Dalam keadaan tidak seimbang, rajas dikatakan sebagai pusat dari sattva dan tamas, yang menghasilkan penciptaan karena memanifestasikan dirinya dengan demikian rajas menghasilkan pasangan-pasangan yang berlawanan.sebaliknya Raja juga tergantung dari Sattpa dan Tamas, karena aktifitas tidakakan terjadi tanpa adanya obyek dan media leat mana ia beraktifitas. Dalam keadaan memanifestasikan diri, salah satu guna mendominasi duaguna lainnya, tetapi tidak pernah terjadi secara sepenuhnya terpisah atau absen satu sama lainnya karena secara keseimbangan mereka bereaksi antara satu dengan yang lainnya. Dengan pengaruh rajas maka kekuatan sattvika maka kecepatan yang tinggi dan unit kekuatan itu terpecah menjadi bagian-bagian. Dalamtahapan tertentu barangkal percepatan berkurang dan mereka mulai mendekat dan mendekat satusama lainnya.kontraksi dari kekuatan Sattvika maka akan terbentuk Tamas, dan dalam waktu yang bersamaan dorongan dari kekuatan aktif (rajas) juga terjadi pada Tamas dan dalam kontraksi itu terjadilah ekspansi yang cepat. Dengan demikian guna itu secara terus menerus merubah keunggulan mereka mengatasi yang lainnya. Keunggulan Sattva dari Tamas dan sebaliknya, keunggulan Sattva pada Tamas terjadi secara bersamaan dalam proses tersebut, dan pergantiian itu terjadi pada setiap saat. Sattva dan Tamas dan dalam penampakannya merupakan terang dan tidak berbobot sedang yang lain merupakan gelap dan berat. Tapi pasangan ini bekerja secara bersama-sama dalam penciptaan dan peleburan seperti halnya benda-benda bergerak dari yang halus. Ekspansi kekuatan energi yang tertimbun dalam bentuk-bentuk yang halus, darimana ia memafestasikan dari dalam bentuk keseimbangan yang baru. Keseimbangan yang sifatnya relatif ini merupakan suatu tahapan tertentu dari proses evolusi itu sendiri. Memang kelihatannya ada suatu konflikyang berkesinambungan antara guna-guna itu, tapi sesungguhnya ada kerjasama yang sempurna selama proses penciptaan oleh karena lewat interaksi yang berkesinambunganitulah aliran kosmis dan kehidupan individual terus berlangsung. Guna-guna itu memiliki peranan yang sama dalam tubuh dan pikian manusia sepertihalnya yang terjadi pada alam semesta secara keseluruhan.[6]      

       
3.  Evolusi alam semesta.
        Prakrti akan mengembang menjadi alam ini bila berhubungan dengan purusa. Melalui perhubungan ini prakerti dipengaruhi oleh purusa seperti halnya anggota badan kita dapat bergerak karena hadirnya pikiran.
        Evolusi alam semesta tidak mungkin terjadi hanya karena purusa, karena ia bersifat pasif. Tidak juga hal itu dapat terjadi karena ia tanpa kesadaran. Hanya karena perhubungan purusa prakerti ini adalah seperti kerja sama orang lumpuh dengan orang buta untuk dapat keluar hutan. Mereka bekarja sama untuk mencapai tujuannya.
        Hubungan antara purusa dan prakrti menyebabkan terganggunya keseimbangan dalam triguna. Yang mula-mula tergantung ialah rajas yang menyebabkan guna yang lain ikut terguncang pula. Masing-masing guna itu berusaha mengatasi kekuatan guna lainnya. Maka terjadilah pemisah dan penyatuan triguna itu yang menyebabkan munculnya obyek yang kedua ini. Yang pertama terjadi dari prakrti ialah Mahat dan Budhi. Mahat adalah benih besar alam semesta ini sedangkan Budhi adalah unsur intelek.
Fungsi budhi ialah untuk memberikan pertimbangan dan memutuskan segala apa yang datang dari alat-alat yang lebih rendah dari padanya. Dalam keadaannya yang murni ia bersifat dharma, jnana, vairagya dan aiswarya yaitu kebijakan, pengetahuan, tidak bernafsu dan ketuhanan. Ia berada amat dekat dengan roh. Ahamkara atau rasa aku adalah hasil prakrti yang kedua. Ia langsung timbul dari mahat dan merupakan manifestasi pertama dari mahat. Fungsi Ahamkara ialah merasakan rasa aku. Dengan ahamkara sang diri merasa dirinya yang bertindak, yang ingin, yang bermilik.
                Ada tiga macam ahamkara seuai dengan guna mana yang lebih unggul dalam keinginan itu. Ahamkara itu disebut sattwika bila unsur sattwa yang unggul, rajasa bila rajas yang unggul dan tamasa bila tamas yang unggul.
                Dari sattvika timbullah panca jnanendriya, panca karmendriya dan manas. Dari tamasa lahirlah panca tanmatra sedangkan rajasa memberikan tenaga baik pada sattwika maupun tamasa untuk merubah mana berfungsi menuntun alat-alat tubuh untuk mengetahui dan bertindak.
                Panca tanmatra adalah sari-sari benih suara, sentuhan, warna, rasa dan bau. Semuanya ini hanya diketahui orang akibat yang ditimbulkannya, sedangkan ia sendiri tidak dapat dikenal karena amat halusnya.
Dari benih suara terjadilah Akasa.
Dari benih sentuhan dan suara terjadilah udara.
Dari benih warna, suara dan sentuhan terjadi cahaya atau api.
Dari benih suara, sentuhan dan warna terjadi air.
Dan dari benih baru dan empat tanmatra yang lain terjadi bumi.
                Dari semua anasir kasar itu berkembanglah alam semesta ini dengan segala isinya, namun perkembangan ini tidak menimbulkan azas-azas baru lagi seperti perkembangan mahat. Alam semesta ini dengan segala isinya, namun perkembangan mahat. Alam semesta adalah benda-benda yang dijadikan bukan benda-benda yang menjadikan.
                Suatu azaz lagi setelah terbentuknya alam semesta ini, belumlah sempurna sampai disitu, sebab ia memerlukan adanya dunia roh yang menjadi saksi dan yang menikmati isi alam ini. Bila roh nyata ada, maka perlulah adanya penyesuaian moral, kenikmatan dan kesusahan hidup ini. Evolusi prkrti menjadi dunia obyek memungkinkan roh nikmat atau menderita sesuai dengan baik buruk perbuatanya. Namun tujuan akhir evolusi prakrti ialah kelepasan.[7]
4.  Ajaran tentang kelepasan.
                Hidup didunia ini adalah campuran antara senang dan susah. Banyak kesenangan dapat dinikmati, banyak pula kesusahan dan sakit yang diderita orang. Bila orang dapat menghindari diri dari kesusahan dan sakit, maka ia tak dapat menghindari diri dari ketuaan dan kematian. Ada tiga macam sakit dalam hidup ini yaitu adhyatmika, adhibautika, dan adhidaiwika.
Adhyatmika adalah sakit karena sebab-sebab dari dalam badan sendiri seperti kerja alat-alat tubuh yang tidak normal dan gangguan perasaan. Dengan demikian ia merupakan gangguan perasaan. Dengan demikian ia merupakan gangguan jasmani dan rokhani seperti sakitkepala, takut, marah, dan sebgainya.
Adhibautika adalah sakit yang disebabkan oleh faktor luar tubuh, seperti terpukul, kena gigitan nyamuk dan sebagainya.
Dan adidaiwika adalah sakit karena tenaga gaib seperti setan, hantu dan lain-lainnya.
                Tidak ada seorangpun yang ingin menderita sakit, semuanya ingin hidup bahagia lepas dari susah dan sakit. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Selama orang masih berbadan lemah, selama itu suka dan duka, sakit dan sehat selalu berdampingan. Dengan demikian kita perlu bercita-cita hidup bersenang-senang selalu, cukup hidup biasa-biasa saja dengan berusaha melepaskan penderitaan atas dasar pikiran sehat.
                Dalam ajaran samkya kelepasan itu adalah penghentian yang sempurna dari semua penderitaan. Inilah tujuan terakhir dari hidup kita. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memperingan hidup kita, namun tidak dapat melepaskan kita dari penderitaan sepenuh-penuhnya. Samkhya mengajarkan bahwa cara mencapai kelepasan itu ialah melalui pengetahuan yang benar atas kenyataan dunia ini.
Tiadanya pengetahuan itulah yang menyebabkan orang menderita. Dalam banyak hal orang-orang yang tidak punya pengetahuan tentang hukum alam dan hukum kehidupan terbentur pada masalah yang membawanya pada kesedihan. Berbeda halnya orang-orang yang berpengetahuan akan menerima dan menikmati kenyataan itu tidak sempurna, maka ia tidak lepas dari penderitaan sepenuhnya. Kelepasan itu hanya akan dicapai bila pengetahuan orang akan kenyataan itu sudah sempurna.[8]
     




       
   
Daftar Pustaka


[1] Joesoef Sou’yb, AGAMA-AGAMA BESAR DI DUNIA, (Jakarta : Al Husna Zikra, 1996) cet 3

2 Harsa Swabodhi, BUDDHA DHARMA&HINDU DHARMA, (Sumatra Utara :Yayasan Perguruan “BUDAYA”)

3. Dr.A.G.HONIG Jr. ILMU AGAMA,( Jakarta, Gunung mulia, 1997)

.4 I GEDE RUDIA ADIPUTRA, TATTWA DARSANA, (Jakarta, yayasan dharma sarath, 1990)





[1] Joesoef Sou’yb, AGAMA-AGAMA BESAR DI DUNIA, (Jakarta : Al Husna Zikra, 1996) cet 3, h-59
[2] Harsa Swabodhi, BUDDHA DHARMA&HINDU DHARMA, (Sumatra Utara :Yayasan Perguruan “BUDAYA”),h-11
[3] Joesoef Sou’yb, AGAMA-AGAMA BESAR DI DUNIA, (Jakarta : Al Husna Zikra, 1996) cet 3, h-60-61.
[4] Dr.A.G.HONIG Jr. ILMU AGAMA,( Jakarta, Gunung mulia, 1997)h-128-131.
[5] I GEDE RUDIA ADIPUTRA, TATTWA DARSANA, (Jakarta, yayasan dharma sarath, 1990),h-47.
[7] I GEDE RUDIA ADIPUTRA, TATTWA DARSANA, (Jakarta, yayasan dharma sarath, 1990),h-50-51.
[8] I GEDE RUDIA ADIPUTRA, TATTWA DARSANA, (Jakarta, yayasan dharma sarath, 1990),h-53.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar