Selasa, 27 November 2012

Sad Darsana (Filsafat Wedanta)



A.    Sad Darsana (Filsafat Wedanta)
1.Pengertian Wedanta
 Wedanta berasal dari kata weda-anta,artinya bagian terakhir dari weda. Kitap Upanishad juga disebut dengan Wedanta, karena kitab-kitab ini mewujudkan bagian akhir dari Weda yang bersifat mengumpulkan. Disamping itu ada tiga faktor yang menyebabkan Upanishad disebut dengan Wedanta yaitu:
a)      Upanishad adalah hasil karya terakhir dari jaman Weda.
b)      Pada jaman Weda program pelajaran yang disampaikan oleh para Resi kepada sisyanya, Upainishad juga merupakan pelajaran yang terakhir. Para Brahmacari pada mulanya diberikan pelajaran shamhita yakni koleksi syair-syair dari zaman weda. Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran Brahmana yakni tata cara untuk melaksanakan upacara keagamaan, dan terakhir barulah sampai pada filsafat dari Upanisad.
c)      Upainishad adalah merupakan kumpulan syair-syair yang terakhir dari pada jaman Weda.
Jadi pengertian Wedanta erat sekali hubungannya dengan Upanishad hanya saja kitab-kitab Upanishad tidak memuat uraian-uraian yang sistimatis. Usaha pertama untuk menyusun ajaran Upanishad secara sistimatis diusahakan oleh Badrayana, kira-kira 400 SM. Hasil karyanya disebut dengan Wedanta-Sutra.   
Sebelum Badrayana telah ada orangg-orang yang berusaha menyusun ajaran Upanishad, akan tetapi paling terkenal adalah Badrayana, dalam Bhadgawadgita hasil karya beliau disebut Brahma Sutra.
 Kitab Brahma Sutra/Wedanta Sutra, Upanishad dan Bhagawadgita, ketiga buku tersebut menjadi dasar filsafat Wedanta.



2.      Pokok- Pokok Ajaran Wedanta
Wedanta mengajarkan bahwa nirvana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini,tak perlu menunggu setelah mati untuk mencapainya.nirvana adalah kesadaran terhadap diri sejati.dan  sekali mengetahui hal itu,walau sekejap,maka seseorang tak akan pernah lagi dapat di perdaya oleh  kabut individualitas.terdapat dua tahap pembedaan dalam kehidupan, yaitu: yang pertama, bahwa orang yang mengetahui diri sejatinya tak akan di pengaruhi oleh hal apapun. Yang kedua bahwa hanya dia sendirilah yang dapat melakukan kebaikan pada dunia
Seperti yang telah disebutkan tadi bahwa filsafat Wedanta bersumber dari Upanishad. Brahma Sutra/Wedanta  Sutra dan Bhadgawadgita. Masing-masing buku tersebut memberikan ulasan isi filsafat itu berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh sudut pandangannya yang berbeda. Walaupun obyeknya sama, tentu hasilnya akan berbeda. Sama halnya dengan orang buta yang merabah gajah dari sudut yangg berbeda, tentu hasilnya akan ber beda pula. Demikian pula halnya dengan filsafat  tentang dunia ini, ada yang memberikan ulasan bahwa dunia ini maya (bayangan saja), dilain pihak menyebutkan dunia ini betul-betul ada, bukan palsu sebab diciptakan oleh Tuhan dari diriNya sendiri. Karena perbedaan pendapat ini dengan sendirinya menimbulkan suatu teka-teki,apakah dunia ini benar-benar ada ataukah dunia ini betul-betul maya.
Hal ini menyebabkan timbulnya penafsiran yangg bermacam-macam pula. Akibat dari penapsiran tersebut menghasilkan aliran-aliran filsafat Wedanta. Secara umum aliran filsafat Wedanta ada tiga ya ng terkenal yakni: aliran Adwaita oleh Sankara, Wasistadwaita oleh Ramanuja dan aliran Dwaita oleh Madhwa.[1]
Pokok dari agama Weda seperti yang tampak pada kitab-kitab Weda itu tetap besar pengaruhnya didalam perkembangan agama Hindu. Tetapi walaupun kitab-kitab Weda itu masih tetap menjadi kitab-kitab tersuci orang-orang Hindu, kitab-kitab itu sudah tidak mempunyai arti yang besar lagi bagi praktek agama. Bahkan di jawa nampaknya kitab-kitab Weda itu tidak pernah dikenal. Bahasa yang digunakan didalam weda-weda itu tak lama kemudian tidak terbaca lagi oleh kebanyakan orang. Oleh karena itu tidak berselang lama sudah ditulis orang berbagai tafsiran(komentar) tentang Weda-Weda itu. Komentar-komentar ini dimulai pada apa yang disebut “Brahmana “.[2]

a.      Aliran Filsafat Wedanta
Filsafat ini sangatlah kuno;yang berasal dari kkumpulan literatur bangsa Arya yang dikenal dengan nama Veda. Vedanta ini merupakan bunga diantara semua spekulasi, pengalaman dan analisa yang terbentuk dalam demikian banyak literatur yang dikumpulkan dan dipilih selama berabad-abad. Filsafat vedanta ini memiliki kekhususan. Yang pertama, ia sama sekali impersonal, ia bukan dari seseorang atau Nabi.[3]
Sistem filsafat wedanta juga disebut uttara Mimamsa kata”wedanta” berarti”akhir dari weda. Sumber ajarannya adalah kitab upainishad. Maharsi V yasa menyusun kitab yang bernama Wedantasutra. Kitab ini dalam Bhagavad Gita disebut Brahmasutra. Oleh karna kitab Wedanta bersumber pada kitab-kitab Upanishad, Brahmasutra dan Bhagavad Gita, maka sifat ajarannya adalah absolutisme dan teisme. Absolutisme maksudnya adalah aliran yang meyakini bahwa Tuhan yang Maha Esa  adalah mutlak dan tidak berpribadi (impersonal God), sedangkan teisme mengajarkan Truhan yang berpribadi (personal God).[4]

1.      Adwaita
Sistem Wedanta yang terbesar dan terkenal adalah Adwaita, artinya “tidak dualisme” maksudnya Adwaita menyangkal bahwa kenyataan ini lebih dari satu (Brahman), walaupun demikian sistim ini bukan bersifat monistis yang mengajarkan bahwa segala sesuatu dialirkan dari satu azas saja, melainkan disamping dari Brahman masih ada Atman yang merupakan sumber kekuatan.
Penganjur yang terbesar dan terbanyak pengaruhnya dari aliran ini adalah sankara(788-820 masehi). Sankara ragu-ragu akan ketentuan dari Upanisad yang menyatakan bahwa dunia ini diciptakan oleh Brahman, akan tetapi tidak percaya akan keaneka ragaman di alam ini sebagai yang di anjurkan oleh Ramanuja. Kalau dunia betul-betul ada dengan nyata,maka tidak mungkin keaneka ragaman itu,tidak ada. Dengan pemikiran ini berusaha untuk mempertemukan pendapat-pendapat yang bertentangan itu dengan berdasarkan pada upacara dalam Sweta Swatara Upanisad, yang menyatakan bahwa asal (prakrti) dari pada dunia ini terletak pada kekuatan sulap (maya). Dengan demikian Brahman dengan kekuatannya MayaNya dapat memperlihatkan segala yang kita lihat ini, sehingga menghalangi pengetahuan kita yang sebenarnya itu yaitu Brahman dengan keanekaragamannya.
Kekuatan Maya dari Brahman dapat menipu diri manusia,antara lainn:
·         Membuat manusia tetipu mengenai dunia yang kita liihat.
·         Tertipu tentang apa yang sebenarnya Tuhan itu.
Ramanuja juga menguraikan tentang Maya, tetapi Maya yang dibayangkan adalah sesuatu kekuatan yang maha indah dari pada Tuhan. Untuk benar-benar menciptakan segala yang kita lihat di dunia ini, yaitu sesuatu kekuatan yang menjadikan dunia dari kekuatan MayaNya, sebagai yang digambarkan di depan, antara api dengan kekuatan membakarnya adalah merupakan satu kesatuan yang permanen. Demikian pula Tuhan dengan kekuatanNya adalah merupakan satu kesatuan. Pandangan ini berbeda dengan Sankara yang mengakui juga maya itu kekuatan Tuhan, tetapi tidak permanen.
Menurut Ramanuja, praktik yang merupakan bagian Tuhan benar-benar mengalami suatu perubahan. Sedangkan Sankara berpendapat bahwa Tuhan tak mengalami suatu perubahan dan segala yang kita lihat berubah, hanya kelihatannya saja demikian, sebenarnya tidak. Sebagai suatu contoh perubahan itu dapat dilihat antara lain:
·         Perubahan wiwarta yakni; perubahan pandangan terhadap kenyataannya. Sesungguhnya tidak berubah, tetapi kelihatannya saja yang berubah. Seperti melihat ular sebagai tali, melihat awan sebagai orang-oranga, dan lain sebagainya. Apa yang dilihat tidak sesuai kenyataannya.
·         Parinama, adalah perubahan dari bentuk aslinya menjadi bentuk yang lain. Seperti perubahan kelapa menjadi minyak, beras menjadi jajan dan lain sebagainya.
Ramanuja berpendapat, bahwa perubahan itu benar-benar Parinama, sedangkan Sankara menganggap bahwa perubahan itu hanyalah Wiwarta. Walaupun demikian, tetapi keduanya percaya pada Sat-Karya-Wada (Samkhya) yakni semuanya bersumber dari Brahman. Dari Brahmanlah timbulnya segala yang nampak beraneka ragam ini.
Hubungan Brahmana dengan Atman
Menurut Sankara hubungan antara jiwa dengan Brahman tidak sama dengan hubungan alam semata  atau dunia dengan Brahman. Jadi jiwa tidak boleh dipandang sebagai kenyataan Brahmana, sebab jiwa telah kena pengaruh rajas dan tamas, walaupun jiwa adalah Brahmana seutuhnya. Jika hubungan Brahmana dengan alam semesta digambarkan sebagai ular yang berasal dari tali, maka hubungan jiwa dengan Brahmana digambarkan sebagai telur yang dilihat dengan kaca kuning. Telur yang putih, jika dilihat dengan kaca kuning akan tampak kuning juga. Sedangkan telurnya sendiri akan tetap putih, hanya tampaknya saja kuning karena ada alat tambahan yang disisipkan diantara telur dengan yang melihatnya. Telur disini menggambarkan Brahman, sedangkan telur yang kelihatan kuning adalah jiwa. Jelaslah bahwa jiwa bukanlah bayangan seperti halnya dengan alam semesta atau dunia ini. Dalam kehidupan sehari-hari pengertian jiwa atau “aku”mengandung dua pengertian yakni:
·         Unsur yang identik dengan Brahman.
·         Keadaan yang membatasi unsur yang identik dengan Brahman tadi,yaitu alat bathin (Bhudi,ahamkara,manas termasuk panca Budhindra dan panca Karmendhia),manusia.
Satu-satunya realitas yang ada, adalah Brahman.
Menurut Sankhara Brahman tidak dapat diuraikan dengan perantara sesuatu yang serba terbatas. Sankhara memberikan suatu ulasan bahwa Brahman memiliki dua rupa,dua bentuk atas dua wujud yakni;
·         Para-rupa yakni rupa yang lebih tinggi.
·         Apara-rupa yakni rupa yang lebih rendah.
Atman bukanlah sebagian dari Brahman, melainkan Brahman melainkan Brahman seutuhnya. Oleh karena Atman adalah Brahman seutuhnya, maka Atman memiliki sifat yang sama pula dengan Brahman yakni; berada dimana-mana, tanpa terikat kepada ruang, Mahatahu,Mahakuasa,Mahaadil dan bijaksana.

Pendapat Sankara terhadap pengetahuan
Kenurut Kamarilah,Weda tidak memiliki penyusun,baik manusia maupun Tuhan, akan tetapi Sankara mengajarkan bahwa Tuhanlah yang menurunkan ajaran Weda. Sekalipun demikian Weda bukanlah hasil karya Tuhan dalam arti yang biasa, sebab Tuhan menurunkan wahyu yang diterima oleh para Resi yang dihimpun menjadi Weda. Sankara juga mengatakan Weda akan tiada kembalipada saat dunia pralaya (akhir jaman) kemudian akan muncul kembali pada jaman berikutnya.
Ada dua macam pengetahuan yaitu; pengetahuan yang lebih tinggi (para widya) dan pengetahuan yang lebih rendah (apara widya) pengetahuan yang lebih tinggi didalamnya mengandung segala macam kebenaran,meliputi sesuatu yang lebih mewujudkan segala macam kebenaran, meliputi segala sesuatu yang mewujudkan kesatuan segala sesuatu yaitu Brahman. Pengetahuan yang lebih rendah mengenai pengetahuan dunia yang tampak ini, yang sebenarnya adalah khayalan belaka.
Sarana untuk mencapai kelepasan atau menunggalnya dengan Brahman adalah:
·         Melakukan disiplin yang praktis  yang disebut dengan Wairagya yaitu sikap tidak tertarik kepada duniawi. Orang yang berhasil melakukan itu, akan mendapatkan kecakapan untuk membedakan antara hal-hal yang bersifat sementara dan yang bersifat kekal, untuk meniadakan keinginan guna menguatkan kegairahan melaksanakan disiplin dan menghindari kesusahan untuk mendapatkan ketenangan dan kesederhanaan serta kesediaan menangkal diri.
·         Berusaha mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran yang tertinggi (jnana) dan mengubah pengetahuan itu menjadi pengalaman yang langsung, yaitu dengan belajar kepada guru mengenai ajaran adwaita, sehingga pengetahuan benar-benar bahwa Brahman adalah Atman, sehingga lanjutnya berusaha mencerminkan pengetahuan itu didalam hidupnya dan akhirnya merenungkan pengetahuan yang langsung.


Tuhan yang berpribadi sebagai, satu-satunya kenyataan yang berdiri sendiri (swatantra) dengan kata lain Madhwa mengakui/percaya. Dengan adanya manifestasi dari Tuhan yang beraneka ragam.
            Menurut Madhwa didunia ini ada 5 macam perbedaan yaitu:
·         Perbedaan antara Tuhan dengan Jiwa,
·         Perbedaan antara Jiwa dengan Jiwa yang lainnya
·         Perbedaan antara Tuhan dengan Benda,
·         Perbedaan antara Jiwa dengan Benda,
·         Perbedaan antara benda yang satu dengan benda yang lainnya.
Semua itu berbeda secara mutlak, sekalipun perbedaan itu tidak berarti bahwa semuanya tidak saling bergantungan.

















Daftar Pustaka
1.   I Gede Rudia Adiputra, Tattwa Darsana, (jakarta:Yayasan Dharma Sarathi,1990)
2.   A.G. Honig,Ilmu Agama,(jakarta: PT BPK Gunung Mulia,1997)

3.      Svami Vivekanada,Vedanta,(Surabaya;Paramita,2007)

4.      Djam’annuri,agama kita


[1] I Gede Rudia Adiputra, Tattwa Darsana, (jakarta:Yayasan Dharma Sarathi,1990)h.67-68
[2]A.G. Honig,Ilmu Agama,(jakarta: PT BPK Gunung Mulia,1997)h.87
[3] Svami Vivekanada,Vedanta,(Surabaya;Paramita,2007)h.15
[4] Djam’annuri,agama kita,hlm.58-59.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar