Selasa, 27 November 2012

Periodisasi Sejarah Agama Hindu



A.    Pendahuluan

Agama Hindu adalah agama yang mempunyai usia terpanjang merupakan agama yang tertua yang dikenal oleh manusia. Dalam uraian ini akan dijelaskan kapan dan dimana agama itu diwahyukan dan uraian singkat tentang proses perkembangannya. Agama Hindu adalah agama yang telah melahirkan kebudayaan yang sangat kompleks di bidang astronomi, ilmu pertanian, filsafat dan ilmu-ilmu lainnya. Karena luas dan terlalu mendetailnya jangkauan pemaparan dari agama Hindu, kadang-kadang terasa sulit untuk dipahami.
Banyak para ahli di bidang agama dan ilmu lainnya yang telah mendalami tentang agama Hindu sehingga muncul bermacam- macam penafsiran dan analisa terhadap agama Hindu. Sampai sekarang belum ada kesepakatan di antara para ahli untuk menetapkan kapan agama Hindu itu diwahyukan, demikian juga mengenai metode dan misi penyebarannya belum banyak dimengerti.
Agama Hindu berasal dari pencampuran bangsa Arya dan bangsa Dravida, dalam agama Hindu terdapat beberapa dewa-dewa yang dianggap penting bagi pemeluknya. Banyak praktek-praktek keagamaan di dalam agama Hindu yang bertujuan untuk menghormati para dewa. Agama Hindu juga mempunyai system kepercayaan bagi para pemeluknya.















B.     Periodisasi Sejarah Agama Hindu

Agama Weda
            Agama Weda dapat dikatakan suatu agama alam. Artinya, didalam mendekati dan menyelami hal kedewaan, agama itu sangat mengarahkan pandangannya kepada alam. Berbagai dewa dianggap identik dengan gejala-gejala alam.
            Zaman Weda, merupakan zaman sejak masuknya bangsa Arya di Punjab hingga timbulnya agama Budhha pada kira-kira tahun 500 SM. Zaman ini dapat dibagi lagi menurut pertumbuhan kitab-kitab yang menjadi sumber hidup keagamaan pada zaman ini, menjadi :
a.       Zaman Weda purba atau zaman Weda Samhita, dimulai dari tahun 1500 SM hingga kira-kira tahun 1000 SM. Pada zaman ini bangsa Arya massih berada di Punyab, yaitu daerah Sungai Indus atau Sindhu. Di sini belum banyak terdapat penyesuaian diri dengan peradaban India purba.
b.       Zaman Brahmana, kira-kira tahun 1000 SM hingga kira-kira tahun 750 SM. Pada zaman ini para imam, yaitu para Brahmana, sangat berkuasa dan menimbulkan kitab-kitab yang berlainan sekali sifatnya dibandingkan dengan kitab-kitab Weda Samhita. Sekarang penyesuaian diri dengan peradaban India purba sudah lebih maju, sehingga timbul jiwa baru.
c.       Zaman Upanisad, tahun 750 SM hingga tahun 500 SM. Pada zaman ini pemikiran secara falsafah mulai berkembang. Pusat peradaban berpindah dari Punyab ke Lembah Gangga.
Pada zaman ini kehidupan keagamaan orang Hindu didasarkan atas kitab-kitab yang  disebut Weda Samhita, yang berarti perkumpulan Weda.

Kata Weda berarti pengetahuan (Wid = tahu). Menurut tradisi Hindu kitab-kitab ini adalah ciptaan Dewa Brahma sendiri. Isinya diwahyukan oleh Dewa Brahma kepada para resi atau para pendeta dalam bentuk mantra-mantra, yang kemudian disusun sebagaian puji-pujian oleh para resi tadi sebagai pernyataan rasa hatinya.
Unsure-unsur dasar agama Weda :
1.      Percaya dan takut kepada daya-daya kekuasaan
2.      Ritus untuk mempengaruhi daya-daya kekuasaan
3.      Kesadaran akan adanya tata tertib kosmos
4.       Kecenderungan kepada mistik
Sejak zaman dahulu orang memberi penghargaan yang istimewa terhadap pengasingan diri untuk bermeditasi (bersemadi). Pengetahuan yang didapat orang dari meditasi, dianggap sesuatu yang lebih tinggi dari pada pengetahuan yang dicapai dengan akal. “Meleburkan diri dalam daya-daya kekuasaan dan menjadi satu dengan daya-daya kekuasaan tersebut” diusahakan dengan bermacam-macam cara. Maka disebutlah “orang yang tajam tiliknya para rsi, yang dengan jalan demikian dapat mengetahui rahasia-rahasia Dunia, hidup, dan rahasia-rahasia ritus persembahan.[1]
Sebagai wahyu dewa yang tertinggi, maka Weda-weda itu disebut sruti, yang secara harfiah berarti apa yang didengar, yaitu didengar dewa yang tertinggi. Orang Hindu yakin, bahwa Kitab-kitab Weda adalah napas Tuhan, kebenaran yang kekal, yang dinyatakan atau diwahyukan oleh Tuhan kepada para resi. Para resi tadi melihat atau mendengar kebenaran itu. Bentuk yang diwahyukan tadi adalah mantra-mantra.

Sesudah dibukukan, mantra-mantra itu dibagi menjadi 4 bagian atau pengumpulan (samhita), yaitu :
a.       Rg-Weda, berasal dari kata “Rig” yang berarti memuji kitab ini berisi 1000 puji-pujian kepada para Dewa dalam bentuk kidung, dan masing-masing kidung (sukta) terbagi lagi dalam beberapa bait . Rg-Weda berisi mantra-mantra dalam bentuk puji-pujian, yang digunakan untuk mengundang para dewa, agar berkenan hadir pada upacara-upacara kurban yang akan diadakan bagi mereka. Imam-imam atau pendeta yang mengadakan puji-pujian ini disebut Hort.
b.      Sama-Weda, hampir seluruh isinya diambil dari Rg-Weda, kecuali beberapa nyanyian. Perbedaannya dengan Rg-Weda ialah puji-pujian di sini diberi lagu (Sama = lagu).imam atau pendeta yang menyanyikan Sama-Weda disebut Udgatr. Menyanyikannya pada waktu kurban dipersembahkan.
c.       Yajur-Weda, berisi yajus atau rapal, diucapkan oleh imam atau pendeta yang disebut Aswarya, yaitu pada saat ia melaksanakan upacara kurban. Rapal-rapal itu bukan dipakai untuk memuja para dewa, melainkan untuk mengubah kurban-kurban menjadi makanan dewa. Dengan perantara rapal-rapal itu kurban serta bahan-bahan yang dikurbankan dengan para dewa, dengan maksud supaya kurban tadi dapat diterima. Dapat dikatakan bahwa denagn rapal-rapal itu sebenarnya para dewata dipakai untuk memenuhi keinginan yang berkurban. Dengan rapal-rapal itu mereka mencoba mempengaruhi para dewa, dengan berulang-ulang menyebut nama mereka.
d.      Atharwa-Weda, berisi mantra-mantra sakti. Mantra-mantra ini dihubungkan dengan hidup keagamaan yang rendah, seperti tampak di dalam sihir dan tenung. Isi sihir-sihir tadi dimaksudkan untuk menyembuhan orang sakit, mengusir roh jahat, mencelakakan musuh dan sebagainya. Upacaranya bukan diadakan untuk kurban, melainkan diadakan di rumah.
Mula-mula kitab ini tidak diakui sebagai Kitab Suci, namun lama-kelamaan diakui juga, sebab kepercayaan rakyat terhadap kitab ini sangat kuat. Selain itu banyak raja yang mengambil pendeta-pendeta dari golongan ini sebagai pendeta pribadinya.[2]
Dengan ringkas kita melihat di dalam agama Weda hal-hal seperti berikut :
a.       Agama Weda tidak dapat di pahami selain sebagai reaksi manusia terhadap pernyataan Allah, baik terhadap pernyataan di dalam karya Allah, maupun di dalam syariat hukum taurat yang tertulis di dalam hati manusia (Rm 1 dan 2). Tetapi itupun suatu reaksi, di mana kelainan manusia berusaha untuk menindas kebenaran. Agama Weda adalah suatu daya upaya manusia yang jatuh ke dalam dosa untuk menghindarkan diri dari hukum Allah.
b.      Di dalam agama Weda orang berdaya upaya untuk mendekati dewa-dewa melalui dua jalan : physis dan etis. Melalui garis physis yang ditentukan oleh pertentangan Indra – Vrta, dewa – sura, Arya – Dashu, kosmos – chaos. Dan orang berusaha juga mendekati dewa melalui garis rtik, yang ditetapkan oleh pertentangan : Waruna, penjaga “rta” – dosa manusia. Kedua aspek dewa itu tidak dilihat sebagai satu hal, tetapi keduanya selalu berlawanan. Indra dan Waruna berperang mati-matian. Dalam peperangan itu Indra menang, artinya bahwa garis etik harus kalah di dalam agama Weda.
c.       Kebimbangan terhadap pertanyaan haruskah dewa dipandang sebagai pribadi ataukah sebagai suatu daya kekuatan, tetap ada selama masa itu.
d.      Oleh karena Waruna terdesak ke samping agama Weda makin menggeser de dalam suasana egoisme. Agama menjadi suatu daya upaya untuk merebut daya-daya kekuatan yang tersimpan di dalam kosmos dengan persembahan dan mantera dan menggunakan daya-daya itu untuk kepentingan-kepentingan egoistis.
e.       Perkembangan agama Weda berlangsung melalui dua garis. Yang pertama adalah garis spekulasi falsafi (renunagan falsafi). Timbullah skeptisisme (kesangsian) terhadap dewa-dewa yang lama dan orang berbalik kepada suatu zzat ilahi yang universal dan mujarad (abstrak) sebagai zat segala zat. Inilah garis pantheistis (pantheisme ialah ajaran bahwa segala-galanya merupakan penjelmaan Tuhan) yang terutama kelihatan jelas di dalam berkas kesepuluh dari reg-Weda. Garis yang kedua ialah garis dekadensi (kemunduran) kepada magi. Tiap-tiap perbuatan persembahan dianggap sebagai berkekuatan magis. Orang brahmana menjadi ahli sihir. Hal ini terutama ternyata didalam ajur weda dan di dalam antharwa-weda.
f.       Dipandang dari sudut kepercayaan kita, maka kita hanya dapat mengkonstatir bahea di dalam agama weda manusia melarikan diri dari kekudusan Tuhan, manusia menundukan kemuliaan tuhan ke alam insani.Tuhan di samakan atau diidentifikasikan dengan daya kekuatan yang tinggal di dalam makhluk, atau di buat kabur menjadi suatu pengertian falsafi.  Dengan demikian ia dilukiskan sebagai dzat yang terdalam, inti segala yang ada.[3]
g.      Di dalam agama hindu ada beberapa pengertian yang kaitannya dengan kepercayaan, yaitu pengertian tentang Rta. Yang dimaksud dengan pengertian Rta artinya ‘pergi’ kemudian berubah dalam arti tata- tertib’. Di dalam kitab Weda kata Rta berarti tata tertin alam kosmos, yang dianggap sebagai pencerminan dari adanya daya kekuatan dan daya kekuasaan yang menciptakan dan mengaturnya. Kita lihat peredaran tata-surya, matahari, bulan dan bintang yang tetap teratur. Hal ini berlaku tertin karena ditetapkan dan diatur oleh Dewa Waruna, yaitu Dewa yang tertinggi, Yang Maha Pencipta, dalam hal ini disebut Rtawan.
Oleh karena manusia adalah bagian dari alam semesta, maka manusia harus juga tunduk kepada Rta. Dengan ia tunduk kepada Rta maka manusia akan mencapai kehidupan yang harmonis, baik sesame manusia, baik dengan alam lingkungan dan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Jadi apabila manusia mengikuti Rta, maka apa yang dirasakan, didengar dan dilihat akan di tanggapi sebagai sesuatu yang indah manis dan nikmat. Bagi umat Hindu Rta terserap dalam Satya (kebenaran)  bersama dengan Dharma sehingga merupakan suatu keyakinan yang penting. Oleh karena Rta adalah pencerminan dari daya kekuatan dan daya kekutan itu adalah Dewa Waruna, maka keberlangsungannya harus dijaga. Untuk itu perlu adanya ritus, dan dengan dilaksanakannya ritus maka Rta akan tetapn berjalan dengan tertib dan teratur. Oleh karenannya manusia janganlah berbuat dosa, karena berbuat dosa berarti melanggar Rta dan berarti menentang kekuasaan Tuhan.[4]
    1.            Dewa-Dewa
Dewa dalam Hinduisme membuat agama ini menjadi agama yang penuh dengan keindahan.[5] Di dalam kitab Weda Samhita terdapat dua golongan yang kedudukannya lebih tinggi dari manusia yaitu : Dewa-dewa pemurah terhadap manusia dan menerima pujaan manusia, dan para roh jahat yang memusuhi manusia.
            Kitab Rg-Weda menyebutkan adanya 33 dewata, yang dapat dibeda-bedakan atas dewa-dewa langit, dewa-dewa angkasa, dan dewa-dewa bumi.

           
  • Agni (Dewa api)
  • Aswin kembar (Dewa pengobatan, putera Dewa Surya)
  • Brahma (Dewa pencipta, Dewa pengetahuan, dan kebijaksanaan)
  • Chandra (Dewa bulan)
  • Durgha (Dewi pelebur, istri Dewa Siva)
  • Ganesha (Dewa pengetahuan, Dewa kebijaksanaan, putera Dewa Siva)
  • Indra (Dewa hujan, Dewa perang, raja surga)
  • Kuwera / Kubera (Dewa kekayaan)
  • Laksmi (Dewi kemakmuran, Dewi kesuburan, istri Dewa Visnu)
  • Saraswati (Dewi pengetahuan, istri Dewa Brahmā)
  • Shiwa (Dewa pelebur)
  • Sri (Dewi pangan)
  • Surya (Dewa matahari)
  • Waruna (Dewa air, Dewa laut dan samudra)
  • Wayu / Bayu (Dewa angin)
  • Wisnu (Dewa pemelihara, Dewa air)
  • Rudra (Dewa badai)
  • Dhara (Dewa Bumi)
  • Anala (Dewa Api)
  • Anila (Dewa angin)
  • Dhruva (Dewa bintang kutub)
  • Soma (bulan)
  • Prabhasa (Dewa fajar)
  • Pratyusa (Dewa sinar)
  • Dattatreya
  • Savitr
  • Yama (Dewa kematian)
  • Satya (Dewa kebenaran)
  • Kratu (Kehendak)
  • Daksa (Dewa keterampilan)
  • Kala (Waktu)
  • Kama (Keinginan)
  • Dhrti (Dewa kesabaran)
  • Pururavas (Dewa atmosfir)
  • Madravas (Dewa kegembiraan)
Vasu merupakan sekelompok Devata yang jumlahnya delapan, terutama dikenal sebagai pengiring Indra. Kata Vasu diambil dari akar kata ‘vas’ (bertempat tingal, menyebabkan bertempat tinggal, bersinar) sehingga vasu merupakan devata yang menyatakan segala wilayah luas atau ruang dan ketinggian.
Delapan vasu tersebut adalah : Dhara, Anala, Ap, Anila, Anala, Dhruva, Soma, Prabhasa, Pratyusa.

 Karena karya Waruna inilah maka langit dan bumi dipisahkan, pelajaran matahari, bulan, dan bintang teratur, sungai-sungai mengalir dengan baik, musim-musim datang pada waktunya dan sebagainya. Selain itu Rta juga dipandang sebagai tata tertib susila. Sebagai pengawas rta, Waruna juga memberikan  hadiah atau pahala kepada yang baik dan menghukum kepada yang jahat. Orang yang baik ialah orang yang mengikuti hukum Rta. [6]
            Dewa yang lain ialah Surya, yang digambarkan sedang berkereta ditarik oleh 7 ekor kuda. Dewa ini dapat memperpanjang hidup, mengusir penyakit dan sebagainya.
            Dewa Wisnu juga termasuk dewa langit, tetapi pada zaman ini belum memegang peranan yang penting. Tentang dewa ini hanya disebutkan, bahwa ia melangkahkan tiga langkah. Langkah yang ketiga itulah langkah yang tertinggi. Itulah sorga tempat kediaman para dewa-dewa.
            Yang termasuk dewa-dewa angkasa di antaranya adalah Indra, yang merupakan dewa terpenting. Seperempat kidung dalam Rg-Weda ditujukan kepadanya. Indra adalah Raja para dewa  ia adalah dewa hujan yang bersenjatakan petir, dewa langit pengumpul awan dan dewa kemenangan. Ia juga bernama Surapati (sebagai raja para dewa), Vrtahan (sebagai dewa hujan yang membunuh naga Vrta yang menyembunyikan air dalam gua selam musim kemarau). Indra sering diletuskan secara antropomorfis : mempunyai tubuh, tangan, kaki, bibir, rahang, dan jenggot. Indra diyakini sebagai dewa yang selalu melepaskan air yang member hidup yang kemudian mengalir kesamudra dan dalam perjalanannya selalu memperkaya dan mempersubur bumi.
            Setelah Indra dewa yang terpenting adalah Agni yang dianggap sebagai perantara dewa dan manusia. Dewa inilah yang meneruskan puji-pujian dan kurban bakar kepada para dewa yang dimaksud, Agni pula yang mendatangkan para dewa ketempat-tempat sesaji dengan bunyi-bunyian dalam arti. Setiap rumah orang Hindu biasanya mempunyai tiga macam api yaitu : untuk upacara harian (agnihotra) dan sampai saat ini masih terdapat dikalangan keluarga Pandit yang ortodoks ; api untuk upacara tengah bulanan yang dikaitkan dengan bulan baru atau bulan purnama dan  api untuk upacara penghormatan dan pemujaan arwah leluhur. Mengenai upacara-upacara masih ada lagi upacara yang dilakukan empat bulan sekali upacara lainnya adalah upacara pengangkatan Altar api yang disebut dengan Agnicayana, biasanya dilakukan menggunakan sebongkah batu yang berbentuk seekor burung.[7]
            Selanjutnya dewa yang terpenting setelah agni adalah Soma, dewa minuman keras, yang diperoleh dari perasan tumbuh-tumbuhan yang disebut Soma pula. Soma adalah minuman para dewa. Dalam upacara korban Soma dituangkan sebagai persembahan kepada para dewa. Hal yang agak aneh ialah rasa hormat yang luar biasa bukannya ditujukan kepada objek kritus itu sendiri tetapi hanya kepada kekuatan Soma itu saja. Cairan sari tanaman Soma sangan memabukkan dan digunakan untuk memperdaya dewa, orang-orang yang memujanya meminum cairan ini. Karena minuman ini sangat memabukkan maka tentu akan mempegaruhi pandangan orang yang terlibat dalam upacara. Dalam berkembangan selanjuttnya Soma bukan hanya disamakan sebagai kekuatan saja, tetapi kemudian menjadi personifikasi dari bulan yang selanjutnya diidentikkan dengan dewa Waruna yang berkuasa di sorga. Bulan adalah tempat cairan soma yang dianggap sacral dan kebeningannya yang indah berkilau karena sinar sorga dianggap sebagai sari penting dari raja langit.
            Dewa penting setelah agni adalah Waruna atau Aditya, putra Adity, dewi kebaikan. Berkat kerja Waruna maka langit, matahari, bulan dan bintang dalam tata surya dapat bekerja dengan baik dan sebagaimana mestinya. Sungai-sungai mengalir dan musim silih berganti selaras dengan cosmos (alam) lain oleh karena itu dosa adalah menyalahi tata tertib cosmos, dan agar kembali normal perlu dilakukan sesembahan kurban dan sesaji.[8]
            Sesudah dewa Waruna, ada beberapa dewa lain yang masing-masing kurang jelas urutan kepentingannya. Dewa-dewa tersebut adalah Surya (dewa matahari), Wisnu, si kembar Aswin atau Nasatya (dewa alam pagi hari) yang kemudian menjadi dewa kesehatan, Usas (dianggap sebagai dewa fajar), Merut (dewa taufan dan angin rebut), Rudra (dewa taufan dan petir), Parjanya (dewa hujan), dan Saraswati (dewa sungai yang kemudian dianggap sebagai dewi ilmu pengetahuan). Dewa-dewa penting sebagai personifikasi kekuatan alam adalah dewa Prajapati (penguasa alam dan segala makhluk), Wiswakarman (dewa pencipta), Brhamanaspati atau  Braspati (dewa personifikasi pembuatan manusia alam sesaji), Widhatar (dewa guntur).
            Sekalipun dalam agama ini didapati banyak sekali dewa, namun ia tidak dapat dikatakan politeistis karena ternyata dewa tertentu yang sedang dipuja selalu dianggap sebagai dewa tertinggi  yang memiliki segala kekuatan para dewa yang lain. Dengan demikian yang ada hanya satu dewa tertinggi saja yang memiliki kekuatan para dewa, yang namanya berganti-ganti. Oleh karena itu barangkali lebih tepat kalau dikatakan sebagai kepercayaan henoteistik (henoteisme). Max Miller juga menghindari istilah monoteisme atau politeisme dalam ketuhanan agama Hindu. Ia menggunakan istilah “henoteisme” karena ada kecenderungan melukiskan semua kekuatan pada tuhan tertentu dan utama yang ada dalam pikiran para pemujanya. Selain dapat disebut sebagai kepercayaan yang Lenoteistik, barang kali agama ini dapat pula disebut sebagai katenoteistik (kathenotheism) karena dalam agama ini terdapat kecenderungan untuk memuliakan dan mengagungkan hanya satu dewa yang maha tinggi yang diperlakukan sebagai objek tunggal, akan tetapi dewa-dewa lain terhimpun kepadanya.

    2.            Roh-Roh (Jahat)
Menurut kepercayaan Weda kuno, selain para dewa masih ada lagi roh-roh jahat. Roh jahat ada dua macam : yang tinggi kekuasaannya menjadi musuh para dewa. Musuh Indra adalah roh jahat yang menguasai musim kemarau (Wrta). Roh jahat yang kurang kekuasaanya adalah Raksa dan Pisaca (pemakan bangkai). Raksa sering menampakkan diri sebagai manusia dan binatang. Ada lagi roh “halus” seperti gandarwa, yaksa, bhuta, dan raksasa. 
Arwah leluhur sangat penting kedudukannya dalam kepercayaan agama Weda ini. Apabila orang meninggal, jiwanya tidak langsung sampai di alam bahagia tetapi masih mengembara dalam keadaan menderita. Jiwa semacam ini disebut dengan preta, dan sangat membahayakan. Oleh karena itu keturunannya, anak cucu terutama anak laki-lakinya, perlu mengadakan upacara sesembahan dan menyelenggarakan upacara korban supaya preta segera sampai kealam bahagia yaitu alam pitara. Raja para pitara adalah dewa Yama.[9]

    3.            Korban dan Praktek Keagamaan
Korban
Setiap yadnya yang dilaksanakan oleh umat Hindu adalah perwujudan dari pengamalan ajaran agama. Karena itu setiap aktivitas beryadnya termasuk dalam sebutan “upacara agama”. Dasarnya, bahwa setiap pelaksanaan yadnya didasari atas sumber hukum berupa kitab suci Weda baik dalam katagori Sruti (wahyu) maupun Smrti (tafsir wahyu).
Weda Sruti sebagai sumber dari segala pelaksanaan ajaran agama Hindu. Sedangkan Weda Smrti merupakan penjabaran suratan Weda yang sudah disiratkan.
Kongkretnya lagi, Weda Sruti sebagai rumus-rumus agama sementara Weda Smrti berperan selaku kamus-kamus petunjuk pelaksanaannya. Apa yang kemudian disebut sebagai upacara adat sebenarnya merupakan bentuk-bentuk tafsir ajaran Weda yang ditradisikan. Inilah yang diistilahkan sebagai tradisi Weda, artinya suatu bentuk kegiatan atau aktivitas suatu masyarakat (mis. Bali), yang berdasarkan atas ajaran agama Hindu yang sudah men-desa-kala-patra. Lebih sederhananya lagi upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali merupakan bentuk penjabaran Weda menurut nuansa tradisi. Tetap ingat, tidak semua tradisi masyarakat Bali itu dapat disebut sebagai upacara adat.
Yang dapat disebut upacara adat hampir selalu dicirikan oleh nuansanya yang agamais. Atau dengan kata lain upacara adat itu adalah tradisi yang dijiwai oleh unsure-unsure keagamaan. Contoh : upacara ngaben, penggunaan wadah, jempana, lembu merupakan tradisi yang hanya dibuat oleh masyarakat Hindu di Bali. Sedangkan esensi keagamaannya terlihat pada upacara pembakaran mayat dengan konsep mempercepat proses pengembalian (pemralina) unsure-unsure Pancamahabutha sang mati. Unsure agama lainnya, doa, japa, mantra dan yadnya yang digelar sebagai pengantar, pengharap agar arwah sang mati mendapat jalan lapang sesuai karma dan bhaktinya menuju alam-Nya.
Perihal bunyi kitab suci Bhagavadgita IX.26 yang meyebutkan sarana persembahan berupa bunga, buah, air dan daun yang tidak bersifat mengikat tetapi kenyataannya masih diatur lagi sehingga tidak semua jenis bunga misalnya yang dapat dipakai sarana upacara atau upakara yadnya dapat diberi penjelasan dengan membandingkan di sekala. Untuk itulah ada buku atau lontar yang menjabarkan tentang jenis bunga yang bisa dan tidak dipakai dalam persembahan. Yang pasti setiap sarana persembahan patut mengacu pada persyaratan seperti : Sukla (belum pernah diaturkan), tan leteh (tidak bernoda atau cemar), tidak didapat dari perbuatan jahat (mencuri) dan sesuai dengan sastra (petunjuk lontar) serta dresta (tradisi).[10]
Umat Weda memulaikan para leluhur mereka dengan menyelenggarakan upacara korban, upacara korban, yang selain dilakukkan dengan harapan supaya para dewa melindungi manusia dari roh jahat, juga supaya para dewa memberikan kelancaran, kemurahan serta ketentraman. Tujuan utama upacara korban dalam agama Weda ini ialah terjaminnya tata tertib kosmos.
Dua macam upacara korban simbolik yang penting ialah : pertama korban manusia (purusa) sebagaimana tercantum dalam kidung kosmogonik dalam kitab Rg-Weda, yang menyebutkan bahwa yang maha tinggi telah menjalani korban untuk penciptaan dan kedua adalah korban sarwameda di mana manusia mengakui ke maha kuasaan Tuhan secara universal sehingga kemudian dewa melimpahkan segala miliknya kepada seluruh manusia.[11]
Selain itu masih ada korban Rajasanya, korban untuk pengobatan dan kedaulatan raja yang diselenggarakan dengan upacara yang disebut Aswemeda. Untuk keperluan sehari-hari korban dilakukan oleh kepala keluarga yang diselenggarakan di api keluarga. Ada pula upacara korban yang diselenggarakan di rumah-rumah atau di altar. Dari segi penyelenggaraan, korban yang dilakukan hanya oleh seorang pendeta saja dirasa kurang memuaskan. Biasanya korban diselenggarakan oleh beberapa orang pendeta. Pendeta yang sangat diutamakan  biasanya disebut Hotri yang tugasnya adalah menyitir bait-bait yang terdapat dalam Rg-Weda. Pendeta Adwaryu juga penting karena dalam penyelenggaraan korban ini diperlukan  persiapan-persiapan yang cermat.
Di kalangan rakyat umum terdapat beberapa upacara korban sebagai upacara siklus kehidupan. Di beberapa tempat, upacara tersebut terdiri dari satu seri upacara korban kecil dengan sesaji yang sangat sederhana seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Upacara dilakukan sendiri oleh pemilik rumah selaku penanggungjawab anggota keluarganya. Upacara ini juga mementingkan api.

Praktek Keagamaan
            Yang menjadi pusat pemujaan orang-orang pada zaman ini ialah kurban. Kurban-kurban itu dipersembahkan dengan maksud untuk mendapatkan kemurahan dewa-dewa, menghindari diri dari permusuhan roh-roh yang jahat, dan memuja para leluhur.[12]
            Pada hakikatnya kurban yang dipersembahkan kepada dewa-dewa itu bersifat permohonan, yaitu mohon keuntungan-keuntungan bagi hari depan, sehingga kurban ucapan syukur bagi hal-hal yang sudah dialaminya tidak ada.
            Dengan kurban itu mereka bermaksud untuk menggerakkan hati para dewa sehingga mereka berkenan mengabulkan permohonan yang diajukan bersamaan dengan kurban-kurban itu.
            Ada dua macam kurban, yaitu kurban tetap, yang dilakukan tiap kali, pada waktu pagi dan sore, tiap bulan baru dan bulan purnama, tiap awal musim semi, musim hujan, dan musim dingin.
            Disamping itu ada kurban berkala,yang dikurbankan jika ada keperluan, umpamanya kurban sama, aswameda atau kurban kuda, rajasuya, dan sebagainya.
            Kecuali kurban-kurban masih ada upacara-upacara lainnya yang harus dilakukan orang, yaitu pada waktu istri mengandung, melahirkan anak, anak berumur 4 bulan, yaitu waktu diajak berpergian untuk pertama kali, atau juga waktu anak makan yang pertama, atau waktu ia dicukur untuk yang pertama kali, dan sebagainya. Demikianlah seluruh kehidupan orang pada zaman itu diliputi oleh upacara-upacara keagamaan.[14]








KESIMPULAN
Weda dapat dikatakan suatu agama alam. Artinya, di dalam mendekati dan menyelami hal kedewaan, agama itu sangat mengarahkan pandangannya kepada alam. Berbagai dewa dianggap identik dengan gejala-gejala alam.
Dewa dalam Hinduisme membuat agama ini menjadi agama yang penuh dengan keindahan. Di dalam kitab Weda Samhita terdapat dua golongan yang kedudukannya lebih tinggi dari manusia yaitu : Dewa-dewa pemurah terhadap manusia dan menerima pujaan manusia, dan para roh jahat yang memusuhi manusia.
selain para dewa masih ada lagi roh-roh jahat. Roh jahat ada dua macam : yang tinggi kekuasaannya menjadi musuh para dewa. Musuh Indra adalah roh jahat yang menguasai musim kemarau (Wrta). Roh jahat yang kurang kekuasaanya adalah Raksa dan Pisaca (pemakan bangkai). Raksa sering menampakkan diri sebagai manusia dan binatang. Ada lagi roh “halus” seperti gandarwa, yaksa, bhuta, dan raksasa. 
Dua macam upacara korban simbolik yang penting ialah : pertama korban manusia (purusa) sebagaimana tercantum dalam kidung kosmogonik dalam kitab Rg-Weda, yang menyebutkan bahwa yang maha tinggi telah menjalani korban untuk penciptaan dan kedua adalah korban sarwameda di mana manusia mengakui ke maha kuasaan Tuhan secara universal sehingga kemudian dewa melimpahkan segala miliknya kepada seluruh manusia.
Ada perbedaan antara konsep kurban pada zaman Weda dengan zaman Brahmana, di mana pada zaman Weda korban diajukan untuk mempengraruhi dewa-dewa agar membantu manusia dan tidak ada kekuatan magi. Sedangkan pada zaman Brahmana tingginya nilai yang diberikan kepada korban sehingga kurban itu sangat berarti. Sehingga berhasil atau tidaknya maksud sangat tergantung pada kekuatan korban itu sendiri serta matra-mantra Brahmana.












DAFTAR PUSTAKA


H.A. Mukti Ali, Pengantar Agama-Agama Dunia. IAIN Sunan Kalijaga Press. Bandung  h. 63
Michael Keene, Agama-agama Dunia, Kanisius press.yogyakarta. h. 15
Dr. Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Budha. Jakarta
Dr. A. G. Honig Jr. Ilmu Agama. Jakarta
Prof.H. Hadikusuma Hilman, S.H. Antropologi Agama, PT. CITRA ADITYA BAKTI. Bandung





Pendahuluan
Agama Hindu adalah agama yang mempunyai usia terpanjang merupakan agama yang pertama dikenal oleh manusia. Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, zaman Brahmana, zaman Upanisad dan zaman Budha.
Zaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. Bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut "Rta". Pada zaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra.
Pada zaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Zaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda.
Sedangkan pada zaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Zaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu zaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada zaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum.



2. Zaman Brahmana
            Agama Brahmana bersumber kepada kitab Brahmana, yaitu bagian kitab Weda yang kedua. Kitab ini ditulis oleh para imam atau Brahmana dalam bentuk prosa. Isinya memberi keterangan tentang korban. Hal ini disebabkan karena zaman ini adalah suatu zaman yang memusatkan keaktifan rohaninya kepada korban.
            Pada zaman Brahmana ini memang timbul perubahan-perubahan suasana. Ciri-ciri zaman ini adalah:
1.      Korban mendapat tekanan yang berat
2.      Para Imam (Brahmana) menjadi golongan yang paling berkuasa.
3.      Perkembangan  kasta  dan kasta
4.      Dewa-dewa berubah perangainya
5.      Timbulnya kitab sutra[13]

1.      Masalah Korban
Pada zaman weda purba korban masih menjadi alat untuk mempengaruhi para dewa, agar mereka berkenan menolong manusia. Namun pada zaman itu juga sudah tampak gejala-gejala magi, yaitu bahwa korban dipandang sebagai alat untuk memaksa para Dewa menolong manusia. Jadi sebenarnya korban itu sendiri sudah dipandang sebagai memiliki daya magis, yang lebih kuasa dari pada para Dewa.[14]
Tujuan utama upacara korban dalam agama weda ini adalah terjaminnya tata tertib kosmos. Pelasanaan korban dipimpin oleh pendeta yang membujuk dan merayu  para dewa untuk mengabulkan permohonan manusia. Dua macam  upacara korban simbolik yang terpenting adalah: pertama korban manusia (purusa), sebagaimana tercantum dalam kidung kosmogonik dalam kitab Rigweda, yang menyebutkan bahwa yang maha tinggi telah menjalani korban untuk penciptaan, dan kedua adalah korban sarwaweda          dimana manusia mengakui kemahakuasaan Tuhan secara universal sehingga kemudian dewa melimpahkan segala miliknya kepada seluruh  manusia. Untuk keperluan sehari-hari korban dilakukan oleh kepala keluarga yang diselenggarakan di api keluarga.
        Korban besar diuraikan dalam srauta-sutra. Di antara korban besar yang terpenting ialah korban kuda (aswameda). Korban aswameda dimulai dengan menyajikan makanan kepada para brahmana. Menurut ketentuan, korban ini diikuti dengan membagi-bagikan sejumlah besar lembu dan beberapa keeping uang mas.
        Korban kecil banyak di uraikan dalam Gringhya-sutra. Korban ini hanya memerlukan kelengkapan yang sederhana, cukup dengan api suci yang ditaruh di setiap rumahtangga. Korban kecil lainnya adalah naimittika yang biasanya dilakukan sehubungan dengan siklus kehidupan. Korban ini sering diselenggarakan pada waktu akan menerima tamu penting, waktu anak masih berada dalam kandungan, saat kelahiran, pemberian nama dan pada siklus-siklus kehidupan manusia lainnya.
        Upacara korban tersebut sebenarrnya bukan lagi merupakan upacara agama yang sebenarnya. Korban disini bukan lagi berpusat pada dewa akan tetapi pada manusia dan hubungan antara manusia dengan dewa sudah merupakan hubungan yang bersifat magis saja. Dalam perkembangan selanjutnya, ajaran korban dalam agama Brahmana ini sangat dikecam oleh ajaran Upanishad.
Demikian besar fungsi korban sehingga korban menjadi alat untuk memperoleh kekuasaan atas dunia sekarang dan akhirat, atas yang tampak dan yang tak tampak, atas yang bernyawa dan yang tak bernyawa. Barang siapapun yang berhasil memperoleh daya itu, ialah  Tuhan dunia.[15] Bahkan dikatakan bahwa penciptaan Dunia itu hasil dari adanya korban yang dilakukan oleh dewa yang tertinggi, yaitu Prajapati atau Brahma. Bahkan lebih dari itu korban dilepaskan dari Dewa-dewa, dijadikan suatu daya yang berdiri sendiri, yang senantiasa berada dimana-mana yang dapat dipergunakan sebagai jembatn manusia menuju kebahagiaan.[16]

2.      Kasta
Perbedaan susunan masyarakat Hindu dari masyarakat lain di dunia ini karena adanya golongan-golongan yang eksklusif dan berdiri sendiri dalam masyarakat mereka, golongan-golongan ini disebut kasta. Tiap kasta mempunyai kedudukan sosial yang sangat tajam batas-batasnya, batas-batas mana diasaskan pada Hinduisme. Hanyalah asal kelahiran yang menentukan kedudukan sesuatu golongan dan seseorang dalam masyarakat Hindu, yang tidak dapat diubah oleh prestasi apapun dalam hidup seseorang. Perbedaan besar antara mesyarakat Hindu dengan golongan-golongan bangsa-bangsa lain ialah: bahwa perbedaan derajat yang ditimbulkan asal kelahiran ini dapat berubah ole adanya prestasi seseorang dalam hidupnya, sedang masyarakat Hindu percaya bahwa pembedaan derajat itu berakar dalam prinsip-prinsip yang tidak dapat diubah sama sekali.
Golongan kasta yang utama adalah :
1.    Brahmana, yang terdiri dari golongan pendeta dan ulama-ulama.
2.    Ksatrya terdiri dari perwira balatentara, dan pegawai negeri.
3.    Waisya, yaitu kaum buruh, tani, dan saudagar.
4.    Sudra, yaitu hamba sahaya dan orang-orang yang mengerjakan pekerjaan yang hina.
Perlu diketahui bahwa anggota-anggota keempat kasta tadi, tidak sudi terhadap satu sama lainnya. Mereka tidak diizinkan berhubungan antara yang satu dengan yang lain dengan begitu saja, misalnya dalam perkawinan antara orang-orang dari kasta yang berlainan.
Di bawah katagori yang keempat tadi, masih ada golongan ke-lima yaitu golongan Paria yang biasa disebut dengan outcast. Golongan ini hampir tidak dapat dinamakan suatu suatu kasta dan malah tidak boleh didekati. Anggota-anggota kasta yang empat tadi tidak boleh berhubungan langsung dengan anggota-angngota golongan ini[17]

3.      Asrama
Asrama adalah tingkatan hidup. Dalam Agama Brahmana disebutkan adanya empat tingkatan hidup yang harus diakui oleh setiap orang penganut agama tersebut.
Hidup manusia dibagi menjadi empat Asrama atau tingkatan  hidup, yaitu:
Ø  Brahmacarya, yaitu tahap menjadi murid, seorang anak akan meninggalkan rumah orangtuanya dan menetap sebagai siswa (sisya) dikediaman seorang guru untuk mempelajari isi kitab veda dan pengetahuan keagamaan lainnya.
Ø  Grhastha, tahap menjadi kepala keluarga, setelah anak tersebut menuntut ilmu anak tersebut segera pulang dan kawin.
Ø  Wanaprastha, atau tahap menjadi penghuni hutan (pertapa), tingkatan ini adalah tingkatan yang harus ditempuh apabila seseorang sudah mencapai usia lanjut.
Ø  Sannyasa, atau tahap hidup penyangkalan, yaitu tingkat pertapa yang telah lepas dari kehidupan dunia
4.      Dewa-dewa
Agama Hindu pada pokoknya tidak mempercayai adanya Tuhan dalam arti kata yang sebenarnya, seperti dalam pengertian kita umat Islam. Unsur-unsur kepercayaan kekuatan gaib, tidak tegas malah menurut filsafat wedanta, semua benda ini hanyalah khayal belaka, pada hakekatnya semua itu Tuhan.
Kekuasaan gaib yang tidak berwujud ini tidak dapat digambarkan dalam pikiran, karena dorongan untuk mengenal kekuasaan yang tak kelihatan ini, maka orang Hindu mewujudkannya dengan TRIMURTI yang terdiri dari sang Brahmana, Wisynu dan Syiwa. Brahma ialah pencipta alam semesta, wisnu adalah dewa pelindung dan siwa adalah dewa pembinasa. Pada dasarnya ketiganya adalah wujud dari satu ke Tuhanan.
a.      Brahmana
Dewa Brahma mempunyai empat buah kepala yang melihat ke segala penjuru. Ini adalah satu tanda yang menyatakan kebijaksanaannya. Ialah pencipta segala sesuatu dan isterinya Saraswati adalah Dewi Kesenian. Dewa Brahma sekarang tidak lagi dipandang sebagai dewa yang terutama. Di seluruh India hanya ada sebuah candi Brahma yaitu di Pusykar.
Dewa Wisynu makin lama makin banya pemujanya karena ia diwujudkan  sebagai dewa yang penyayang yang bertangan empat. Di tempat tidurnya berbaring seekor ular bernama Ananta, yang mempunyai seribu kepala. Ia hanya tertidur bila mendengar doa-doa dewa yang lain, mereka memerlukan seorang juru pemisah dan penolong, untuk menjaga seluruh alam, karena kadang-kadang terancam oleh kekuasaan-kekuasaan jahat.
b.      Wisynu
Menurut kepercayaan Hindu, Wisynu menjelma sepuluh kali untuk menolong dunia ini. Sembilan dari penjelmaan telah berlaku, akan tetapi penjelmaan yang kesepuluh masih akan tiba.


Kesepuluh penjelmaan (avatara) itu ialah sebagai:
a.       Ikan
b.      Kura-kura
c.       Babi
d.      Singa berkepala manusia
e.       Korcaci (orang kate)
f.       Parasuratna (seorang Brahmana)
g.      Rama
h.      Krisyna
i.        Buddha Gautama
j.        Kalki
Semua penjelmaan ini gunanya untuk menolong dunia dan manusia.
c.       Syiwa
Dewa Syiwa diwujudkan sebagai seorang pengemis kayangan dan sebagai seorang pelancong yang suka bergaul dengan hantu dan orang halus yang selalu berkeliaran di tempat-tempat pembakaran mayat di gurun pasir. Ia tak mempunyai istana, sebab ia diam bersama istri-istrinya di Durga di atas gunung Kailasa di pegunungan Himalaya. Menurut orang Hindu hal ini adalah akibat dari pada sumpah dewa Brahma karena Syiwa telah memancung salah sebuah kepala Brahma ketika timbul pertengkaran antara keduanya tentang kekuasaan.
Ia menjadi Dewa dari orang-orang pertama dan mereka yang telah menguasai hukum-hukum alam. Binatang kendaraannya Nandi pun dipuja orang. Istrinya mempunyai beberapa nama: Pati, Durga, Kali, Sakti, Uma, dan sebagainya. Anak mereka ada dua orang yaitu Ganesya dan Kartikaya.
Dari kedua anak Syiwa ini, Ganesyalah yang lebih dihormati orang. Ia adalah dewa kecerdasan dan kesabaran. Ia berkepala gajah dan berbadan manusia. Hal inipun adalah akibat sumpah dari Dewa Brahma. Kartikaya, anak bungsu adalah Dewa peperangan
Ibadat dan pemujaan tidaklah hanya dihadapkan kepada mahadewa Brahma, Wisynu dan Syiwa tetapi lebih dahulu langsung kepada tenaga dan daya alam yang dianggap sebagai dewa, yang langsung mempengaruhi kehidupan manusia. Tenaga dan kekuatan alam inilah yang sebenarnya dipuja. Nama dari masing-masing dewa itu adalah daya alam itu sendiri. Diantara dewa-dewa itu ialah:

1.      Surya (Dewa Matahari)
2.      Agni (Dewa Api Suci)
3.      Wayu (Dewa Angin)
4.      Candra (Dewa Bulan)
5.      Waruna (Dewa Alam/Angkasa)
6.      Marut (Dewa Badai/Topan)
7.      Paryania (Dewa Hujan)
8.      Acwin (Dewa Kembar atau Dewa Kesehatan)
9.      Usa (Dewa Fajar)
10.  Indra (Dewa Perang)
11.  Westra (Dewa Jahat)
Diantara semua dewa-dewa itu yang terutama sekali dan paling banyak mendapat puji-pujian ialah dewa Indra dan Agni. Dewa indra dipandang juga sebagai dewa rahmat yang membawa kebahagian. Dewa indra juga mendapat julukan dengan sebutan “puramdara” yaitu dewa penggempur benteng. Hal ini mengingatkan mereka ketika bangsa Arya mula-mula dating kelembah Sindhu dengan peperangan, bertemu dengan bangsa Dravida yag bertahan dalam Sembilan puluh benteng, akhirnya bangsa dravida dapat dikalahkan. Bagi bangsa arya kemenangan ini sebagai pertolongan dari dewa indra.
Dewa Indra adalah dewa yang terus menerus berperang menggempur dewa wertra, yaitu dewa jahat yang selalu menahan air hujan dalam gumpalan-gumpalan awan. Dewa pertolongan Indra memaksa wertra akhirnya hujan turun ke bumi.
Dalam memuja Dewa Indra, biasa dipersembahkan saji yang berisi soma, yaitu semacam minuman dari getah tumbuh-tumbuhan candu yang biasa memabukkan. Maksud saji ini agar Dewa Indra terus berperang dalam keadaan mabok dan tak peduli, sehingga Wertra dapat dikalahkannya.
Dewa kedua yang dianggap mulia dan lebih banyak dapat pujaan ialah dewa api (agni), karena agni sebagai sahabat bagi manusia dalam hidupnya. Di dalam setiap rumah sudah tentu dibutuhkan api untuk memasak, untuk penerangan dan pemanas. Pada setiap upacara pemujaan, api tidak boleh ketinggalan, api menjadi syarat utama.
Pada waktu upacara pemujaan dewa yang disembah dimohon agar turun, duduk di atas selembar tikar kuca (tikar rumput) yang dibentangkan, lalu barang-barang sajian dimasukkan ke dalam api, sebagai khayalan bahwa sajian ini dimasukkan ke dalam mulut dewa.
Selain kepada Dewa Indra dan Agni ada juga dilakukan pemujaan, menurut kebutuhan masing-masing yang memuja. Dan bagi tiap-tiap keluarga dan rumah tangga, kepala keluargalah yang berkewajiban melakukan saji dalam pemujaan menurut apa yang dibutuhkan oleh keluarganya.
Hanya pada ketika memuji dan memuja suatu dewa dalam memohon kebutuhan dan hajat, si pemuja hendaklah meletakkan suatu kepercayaan dalam hatinya, bahwa tidak ada suatu dewa yang lain selain dewa yang disembahnya itu.[18]


             Sutra-sutra
Pada zaman ini mulailah timbul kitab-kitab sutra, yaitu kitab-kitab pedoman yang berisi petunjuk-petunjuk tentang banyak hal, dan yang ditulis dalam kalimat-kalimat yang pendek. Kitab-kitab ini tidak tergolong Weda, melainkan termasuk kitab-kitab yang disebut Wedangga, atau anggota Weda. Isinya membicarakan hal ilmu bahasa, upacara, tata bahasa, ilmu pengetahuan tentang soal dan arti kata, dan lain sebagainya.

5.      Kaum Pendeta
Brahmana adalah salah satu golongan karya atau warna dalam Agama Hindu. Mereka adalah golongan cendekiawan yang mampu menguasai ajaran, pengetahuan, adat, adab hingga keagamaan. Di zaman dahulu, golongan ini umumnya adalah kaum pendeta, agamawan atau Brahmin. Kaum Brahmana tidak suka kekerasan yang disimbolisasi dengan tidak memakan dari makhluk berdarah (bernyawa). Sehingga seorang Brahmana sering menjadi seorang vegetarian. Brahmana adalah golongan karya yang memiliki  kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan baik pengetahuan suci maupun pengetahuan ilmiah secara umum.[19]

3. Zaman Upanishad
            Hidup keaagmaan pada zaman ini bersumber kepada bagian Weda, yaitu kitab-kitab Aranyaka dan Upanishad. Kitab-kitab Aranyaka disusun oleh para pertapa yang berada didalam hutan (aranya). Isinya pada umumnya membicarakan teman-teman dan hal-hal yang juga dibicarakan didalam kitab-kitab Upanishad. Kedudukunnya ada diantara kitab-kitab Brahmana dan Upanishad.[20]



a)      Brahman
a.      Pengertian Brahman sebenarnya sudah dikenal pada zaman Agama Weda samhita. Mula-mula Brahman adalah ilmu atau ucapan yang suci, suatu nyanyian atau mantra, sebagai pernyataan yang konkrit dari hikmat rohani. Tetapi kemudian Brahman adalah doa, atau daya yang beradadidalam doa. Pada dirinya sendiri doa itu dipandang sebagai sudah memiliki kasekte, sudah mengandung sari dari hal-hal yang disebut didalam doa tadi.
Di dalam Agama Upanishad, Brahman dianggap sebagai yang menyebabkan segala gerakan dan perubahan Brahman menjadi semacam “jiwa alam semesta”[21]
b)      Atman
           Di dalam Weda samhita atman diartikan: nafas, jiwa dan pribadi. Di dalam kitab-kitab brahmana dinyatakan bahwa atman adalah pusat segala fungsi jasmani dan rohani manusia. Di dalam Upanishad disebutkan, bahwa pengihatan, pendengaran dan sebagainya satu persatu meninggalkan tubuh untuk mengetahui siapa dari fungsi-fungsi hidup itu yang terpenting. Akhirnya diketahui bahwa yang terpenting adalah nafas, atman. Dengan ini dijelaskan bahwa atman adalah hakikat manusia yang sebenarnya.

c)      Karma
selanjutnya Upanishad  mengajarkan bahwa segala sesuatu tunduk dan takluk terhadap karma, baik manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Karma  meliputi kehidupan dahulu, sekarang dan yang akan datang. Alasan mengapa semua benda yang hidup terus menerus dilahirkan kembali adalah karma, hukum sebab akibat. Orang hindu percaya bahwa karma yang menumpuk dalam kehidupan sebelumnya pindah ke masa kini dan sangat menentukan wujud kelahiran jiwa kembali.[22]
d)      Reinkarnasi
Reinkarnasi disebut juga samsara, dalam Upanishad juga mengajarkan tentang samsara, yaitu bahwa kehidupan bukan saja akan berakhir dengan kematian, tetapi kematian pun akan berakhir dengan kematian, tetapi kematianpun akan berakhir dengan kehidupan. Artinya yang hidup akan mati dan yang mati akan hidup lagi, demikian seterusnya.tinggi rendahnya kehidupan yang kemudian tergantung pada karman. Perbuatan baik yang lebih banyak daripada perbuatan buruk akan mengakibatkan karman yang baik sehingga kehidupan baru itupun akan lebih baikdaripada kehidupan yang sebelumnya.
Samsara adalah perputaran kelahiran kembali atau disebut juga Reinkarnasi. Hanya manusia yang telah mencapai atman yang mulia dan yang tahu akan maya saja yang dapat mengatasi hukum karma dan mencapai moksa. Orang semacam ini akan terlepas dari keterikatan dengan proses ulang kelahiran kembali atau samsara. Untuk dapat lepas dari samsara ia harus menghancurkan dan menumpas keinginan-keinginannya, yaitu dengan mengetahui bahwa atman adalah Brahman sehingga dapat sampai pada pengetahuan yang sejati (jnana). Barang siapa mencapai tingkatan ini ia akan mencapai moksa, yaitu kelepasan, dan sadar bahwa segala sesuatu adalah satu. Ia akan mencapai kesatuan dengan Brahman, dan berhak disebut sebagai jiwanmukta.[23]

e)      Moksa
Dalam agama Hindu kita percaya adanya panca Sradaya yaitu lima keyakinan yang terdiri dari: Brahman, Atman, karma pala, reinkarnasi dan moksa. Moksa berasal dari kata sansekerta dari akar kata “MUC” yang artinya bebas atau membebaskan. Moksa dapat juga disebut dengan mukti artinya mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagiaan rohani yang langgeng.
            Jadi moksa adalah suatu kepercayaan  adanya kebebasan yaitu bersatunya antara atman dengan Brahman. Kalau orang sudah mengalami moksa dia akan bebas dari ikatan keduniawian, bebas dari hukum karma dan bebas dari penjelmaan kembali (reinkarnasi).[24]





























Daftar pustaka

·         Mukti Ali, Agama-agama Di Dunia, IAIN sunan kalijaga press, Yogyakarta:1988
·         Arifin M. Ed, Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, Golden Trayon Press, Jakarta: 2002.
·         Abdul Manaf Mudjadid, sejarah Agama-agama, Rajawali press, Jakarta:  1996.
·         Michael keene, Agama-agama Dunia, Kanisius, Yogyakarta: 2006.
·         Harun hadiwijono, Agama Hindu dan budha, BPK Gunung mulia, Jakarta: 1987.
·         C.J. Bleeker, Pertemuan Agama-agama Dunia, sumur Bandung: 1964
·         Moh. Rifai, Perbandingan Agama-agama, Semarang : Wicaksono 1984 hal 79-80






[1] Dr. A. G. Honig Jr. Ilmu Agama. Jakarta h. 84
[2] Dr. Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Budha. Jakarta h. 18

[3] Dr. A. G. Honig Jr, Ilmu Agama, Jakarta h. 93-94
[4] Prof.H. Hadikusuma Hilman, S.H. Antropologi Agama, PT. CITRA ADITYA BAKTI. Bandung. h. 169
[5] Michael Keene, Agama-agama Dunia, Kanisius press.yogyakarta. h. 15
[6] H.A. Mukti Ali, Pengantar Agama-Agama Dunia. IAIN Sunan Kalijaga Press. Bandung  h. 63
[7] ibid
[8] H.A. Mukti Ali, Pengantar Agama-Agama Dunia. IAIN Sunan Kalijaga Press. Bandung  h. 63

[9] H.A. Mukti Ali, Pengantar Agama-Agama Dunia. IAIN Sunan Kalijaga Press. Bandung  h. 63

[11] H. A. Mukti Ali, Pengantar Agama-Agama Dunia. IAIN Sunan Kalijaga Press. Bandung h. 63
[12] Dr. Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Budha. Jakarta h. 20
[13] Harun hadiwijono, Agama Hindu dan budha, BPK Gunung mulia, Jakarta, 1987, hlm. 18
[14] Abdul Manaf Mudjadid, sejarah Agama-agama, Jakarta, 1996, hlm. 11
[15] C.J. Bleeker, Pertemuan Agama-agama Dunia, sumur Bandung, 1964, hlm. 7
[16] Abdul Manaf Mudjadid, sejarah Agama-agama, Jakarta, 1996, hlm. 12
[17] Moh. Rifai, Perbandingan Agama-agama. Semarang : Wicaksono 1984 hal 79-80
[20] Harun hadiwijono, Agama Hindu dan budha, BPK Gunung mulia, Jakarta, 1987, hlm. 20
[21]Abdul Manaf Mudjadid, sejarah Agama-agama, Jakarta, 1996, hlm. 17
[22] Michael keene, Agama-agama Dunia, Kanisius, 2006, hlm. 19
[23] Mukti Ali, Agama-agama Di Dunia, IAIN sunan kalijaga press, 1988. Hlm. 75

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar