Rabu, 19 Desember 2012

Teks Asli Shruti dan Smrti 1


1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153

Shruti dan Smreti

Holy Scriptures

Hinduism is based on "the accumulated treasury of spiritual laws discovered by different persons in different times".The scriptures were transmitted orally in verse form to aid memorization, for many centuries before they were written down. Over many centuries, sages refined the teachings and expanded the canon. In post-Vedic and current Hindu belief, most Hindu scriptures are not typically interpreted literally. More importance is attached to the ethics and metaphorical meanings derived from them. Most sacred texts are in Sanskrit. The texts are classified into two classes: Shruti and Smriti.

Shruti

The Rig Veda is one of the oldest religious texts. This Rig Veda manuscript is in Devanagari
The Naradeya Purana describes the mechanics of the cosmos. Depicted here are Vishnu with his consort Lakshmi resting on Shesha Nag. Narada and Brahma are also pictured.
Vyasa narrating the Mahabharata to Ganesha, his scribe, Angkor Wat
Shruti (lit: that which is heard) primarily refers to the Vedas, which form the earliest record of the Hindu scriptures. While many Hindus revere the Vedas as eternal truths revealed to ancient sages (Ṛṣis), some devotees do not associate the creation of the Vedas with a god or person. They are thought of as the laws of the spiritual world, which would still exist even if they were not revealed to the sages.Hindus believe that because the spiritual truths of the Vedas are eternal, they continue to be expressed in new ways.
There are four Vedas (called Ṛg-, Sāma-, Yajus- and Atharva-). The Rigveda is the first and most important Veda. Each Veda is divided into four parts: the primary one, the Veda proper, being the Saṃhitā, which contains sacred mantras. The other three parts form a three-tier ensemble of commentaries, usually in prose and are believed to be slightly later in age than the Saṃhitā. These are: the Brāhmaṇas, Āraṇyakas, and the Upanishads. The first two parts were subsequently called the Karmakāṇḍa (ritualistic portion), while the last two form the Jñānakāṇḍa (knowledge portion). While the Vedas focus on rituals, the Upanishads focus on spiritual insight and philosophical teachings, and discuss Brahman and reincarnation.
A well known shloka from Brihadaranyaka Upanishad is:
ॐ असतो मा सद्गमय । तमसो मा ज्योतिर्गमय ।।
मृत्योर्मामृतं गमय । ॐ शान्ति शान्ति शान्ति ।।
– बृहदारण्यक उपनिषद् 1.3.28.
IAST:
om asato mā sadgamaya | tamaso mā jyotirgamaya ||
mṛtyor mā amṛtaṁ gamaya | om śānti śānti śānti ||
– bṛhadāraṇyaka upaniṣada 1.3.28
Translation:
Lead Us From the Unreal To the Real |
Lead Us From Darkness To Light ||
Lead Us From Death To Immortality |
OM Let There Be Peace Peace Peace.||
– Brihadaranyaka Upanishad 1.3.28.

Smritis

Hindu texts other than the Shrutis are collectively called the Smritis (memory). The most notable of the smritis are the epics, which consist of the Mahābhārata and the Rāmāyaṇa. The Bhagavad Gītā is an integral part of the Mahabharata and one of the most popular sacred texts of Hinduism. It contains philosophical teachings from Krishna, an incarnation of Vishnu, told to the prince Arjuna on the eve of a great war. The Bhagavad Gītā, spoken by Krishna, is described as the essence of the Vedas.However Gita, sometimes called Gitopanishad, is more often placed in the Shruti, category, being Upanishadic in content. Purāṇas, which illustrate Hindu ideas through vivid narratives come under smritis. Other texts include Devī Mahātmya, the Tantras, the Yoga Sutras, Tirumantiram, Shiva Sutras and the Hindu Āgamas. A more controversial text, the Manusmriti, is a prescriptive lawbook which lays the societal codes of social stratification which later evolved into the Indian caste system.
A well known verse from Bhagavad Gita describing a concept in Karma Yoga is explained as follows
To action alone hast thou a right and never at all to its fruits; let not the fruits of action be thy motive;
neither let there be in thee any attachment to inaction.
 
 

Kitab Suci

Hindu didasarkan pada "harta karun akumulasi hukum spiritual ditemukan oleh orang-orang yang berbeda dalam waktu yang berbeda".Tulisan suci yang ditransmisikan secara lisan dalam bentuk ayat untuk membantu menghafal, selama berabad-abad sebelum mereka dituliskan. Selama berabad-abad, orang bijak menyempurnakan ajaran dan diperluas kanon. Dalam posting-Weda dan arus kepercayaan Hindu, sebagian besar kitab suci Hindu tidak biasanya ditafsirkan secara harfiah. Lebih penting melekat pada etika dan makna metafora berasal dari mereka. Teks yang paling suci dalam bahasa Sansekerta. Teks-teks diklasifikasikan menjadi dua kelas: Shruti dan Smriti .

Shruti

The Rig Veda merupakan salah satu dari teks-teks agama tertua. Naskah ini Rig Veda adalah di Devanagari
The Purana Naradeya menggambarkan mekanisme kosmos. Digambarkan di sini adalah Vishnu dengan istri Lakshmi bertumpu pada Shesha Nag. Narada dan Brahma juga digambarkan.
Vyasa menceritakan Mahabharata ke Ganesha, juru tulisnya, Angkor Wat
Shruti (lit: bahwa yang didengar) terutama mengacu pada Veda , yang membentuk catatan paling awal dari Kitab Suci Hindu. Sementara banyak orang Hindu menghormati Veda sebagai kebenaran abadi diwahyukan kepada bijak kuno ( RSI s ), beberapa bhakta tidak mengaitkan penciptaan Veda dengan dewa atau orang. Mereka dianggap sebagai hukum dunia spiritual, yang masih akan ada bahkan jika mereka tidak diungkapkan kepada orang bijak.Hindu percaya bahwa karena kebenaran rohani Veda adalah abadi, mereka terus diekspresikan dengan cara yang baru.
Ada empat Veda (disebut Rg -, sama-, Yajus- dan -Atharva ). The Rgveda adalah Veda pertama dan paling penting. Setiap Veda dibagi menjadi empat bagian: satu primer, tepat Veda , menjadi Samhita , yang berisi sakral mantra . Tiga bagian lain membentuk ensemble tiga tingkat komentar, biasanya dalam bentuk prosa dan diyakini sedikit kemudian di usia daripada Samhita . Ini adalah: brahmana , Aranyaka , dan Upanishad . Dua bagian pertama yang kemudian disebut Karmakāṇḍa (bagian ritual), sedangkan bentuk dua terakhir yang Jñānakāṇḍa (bagian pengetahuan). Sementara Veda fokus pada ritual, para Upanishad fokus pada wawasan spiritual dan ajaran filosofis, dan mendiskusikan Brahman dan reinkarnasi.
Sebuah shloka terkenal dari Brihadaranyaka Upanishad adalah:
असतो मा सद्गमय. तमसो मा ज्योतिर्गमय ..
मृत्योर्मामृतं गमय. शान्ति शान्ति शान्ति ..
- बृहदारण्यक उपनिषद् 1.3.28.
IAST :
om Asato ma sadgamaya | Tamaso ma jyotirgamaya | |
mṛtyor ma amṛtaṁ gamaya | om santi santi santi | |
- Bṛhadāraṇyaka upaniṣada 1.3.28
Terjemahan :
Memimpin Kami Dari Unreal Untuk Real |
Memimpin Kami Dari Darkness Untuk Cahaya | |
Memimpin Kami Dari Kematian Untuk Keabadian |
OM Let There Be Peace Perdamaian. | |
- Brihadaranyaka Upanishad 1.3.28.

Smritis

Teks Hindu selain Shrutis secara kolektif disebut Smritis (memori). Yang paling menonjol dari smritis adalah epos, yang terdiri dari Mahabharata dan Ramayana . The Bhagavad Gita merupakan bagian integral dari Mahabharata dan salah satu teks-teks suci yang paling populer Hindu. Ini berisi ajaran filosofis dari Krishna , inkarnasi Wisnu , mengatakan kepada Arjuna pangeran pada malam perang besar. The Bhagavad Gita , yang diucapkan oleh Krishna, digambarkan sebagai esensi dari Veda. Namun Gita, kadang-kadang disebut Gitopanishad , lebih sering ditempatkan di Shruti, kategori, yang Upanishad dalam konten. Purana s , yang menggambarkan ide-ide Hindu melalui narasi hidup berada di bawah smritis. Teks lainnya termasuk DEVI Mahātmya , para tantra , para Yoga Sutra , Tirumantiram , Shiva Sutras dan Hindu Agamas . Sebuah teks yang lebih kontroversial, Manusmriti , adalah kitab undang-undang preskriptif yang meletakkan kode sosial stratifikasi sosial yang kemudian berkembang ke dalam sistem kasta India.
Sebuah ayat terkenal dari Bhagavad Gita menjelaskan konsep dalam Karma Yoga dijelaskan sebagai berikut
Untuk tindakan saja engkau mendatangkan hak dan tidak pernah sama sekali untuk buahnya; janganlah hasil dari tindakan menjadi motif-Mu;
tidak biarkan ada di dalammu keterikatan dengan kelambanan.
sumber:  https://sites.google.com/site/omproudtobeahinduom/scriptures

Bhagavad-gītā

Bhagavad-gītā

Sinopsis singkat Bhagavad-gītā
BAB SATU
Meninjau tentara-tentara di medan perang kuruksetra
Tentara-tentara kedua belah pihak siap siaga untuk bertempur. Arjuna, seorang kesatria yang perkasa, melihat sanak keluarga, guru-guru dan kawan-kawannya dalam tentara-tentara kedua belah pihak siap untuk bertempur dan mengorbankan nyawanya. Arjuna tergugah kenestapaan dan rasa kasih sayang, sehingga kekuatannya menjadi lemah, pikirannya bingung, dan dia tidak dapat bertabah hati untuk bertempur.
BAB DUA
Ringkasan isi Bhagavad Gita
Arjuna menyerahkan diri sebagai murid kepada Sri Krishna, kemudian Krishna memulai pelajaran-Nya kepada Arjuna dengan menjelaskan perbedaan pokok antara badan jasmani yang bersifat sementara dan sang roh yang bersifat kekal. Sri Krishna menjelskan proses perpindahan sang roh, sifat pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Kuasa tanpa mementingkan diri sendiri dan ciri-ciri orang yang sudah insaf akan dirinya.
BAB TIGA
Karma-yoga
Semua orang harus melakukan kegiatan di dunia material. Tetapi perbuatan dapat mengikat diri seseorang pada dunia ini atau membebaskan dirinya dari dunia. Seseorang dapat dibebaskan dari hukum karma dan mencapai pengetahuan rohani tentang sang diri dan Yang Maha Kuasa dengan cara bertindak untuk memuaskan Yang Maha Kuasa, tanpa mementingkan diri sendiri.
BAB EMPAT
Pengetahuan Rohani
Pengetahuan rohani tentang sang roh, Tuhan Yang Maha Esa, dan hubungan antara sang roh dengan Tuhan – menyucikan dan membebaskan diri manusia. Pengetahuan seperti itu adalah hasil perbuatan bhakti tanpa mementingkan diri sendiri (karma yoga). Krishna menjelaskan sejarah Bhagavad Gita sejak jaman purbakala, tujuan dan makna Beliau ketika menurun ke dunia material, serta pentingnya mendekati seorang guru kerohanian yang sudah insaf akan dirinya.
BAB LIMA
Karma-yoga;
Perbuatan dalam Kesadaran akan Krishna
Orang bijaksana yang sudah disucikan oleh api pengetahuan rohani, secara lahiriah melakukan segala kegiatan tetapi melepaskan ikatan terhadap hasil perbuatan dalam hatinya. Dengan cara demikian, orang bijaksana dapat mencapai kedamaian, ketidakterikatan, kesabaran, penglihatan rohani dan kebahagiaan.
BAB ENAM
Dhyana-yoga
Astangga-yoga, jenis latihan meditasi lahiriah, pengendalian pikiran dan indria-indria dan memusatkan perhatian kepada Paramaman (Roh yang utama yang bersemayam di dalam hati). Puncak latihan ini adalah samadhi. Samadhi berarti kesadaran sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
BAB TUJUH
Pengetahuan tentang Yang Mutlak
Sri Krishna adalah Kepribadian Yang Paling Utama, Penyebab yang paling utama dan kekuatan yang memelihara segala sesuatu, baik material maupun rohani. Roh-roh yang sudah maju menyerahkan diri kepada Krishna dalam pengabdian suci bhakti, sedangkan roh yang tidak saleh mengalihkan pikirannya kepada obyek-obyek sesembahan yang lain.
BAB DELAPAN
Cara mencapai kepada Yang Maha Kuasa
Seseorang dapat mencapai tempat tingal Krishna, Kepribadian Yang paling Utama, di luar dunia material, dengan cara ingat kepada Sri Krishna dalam bhakti semasa hidupnya, dan khususnya pada saat meninggal.
BAB SEMBILAN
Pengetahuan yang paling rahasia
Krishna adalah Tuhan Yang Maha Esa dan tujuan tertinggi kegiatan sembahyang. Sang roh mempunyai hubungan yang kekal dengan Krishna melalui pengabdian suci bhakti yang bersifat rohani. Dengan menghidupkan kembali bhakti yang murni, seseorang dapat kembali kepada Sri Krishna di alam rohani.
BAB SEPULUH
Kehebatan Tuhan Yang Mutlak
Segala fenomena ajaib yang memperlihatkan kekuatan, keindahan, sifat agung atau mulia, baik di dunia material maupun di dunia rohani, tidak lain dari pada perwujudan sebagian tenaga-tenaga dan kehebatan rohani Tuhan, Sri Krishna. Sebagai sebab utama segala sebab serta sandaran dan hakekat segala sesuatu. Krishna, Tuhan Yang Maha Esa, adalah tujuan sembahyang tertinggi bagi para mahluk.
BAB SEBELAS
Bentuk Semesta
Sri Krishna menganugrahkan penglihatan rohani kepada Arjuna. Krishna memperlihatkan bentuk-Nya yang tidak terhingga dan mengagumkan sebagai alam semesta. Dengan cara demikian, Krishna membuktikan secara meyakinkan identitas-Nya sebagai Yang Maha Kuasa. Krishna menjelaskan bahwa bentuk-Nya sendiri yang serba tampan dan dekat dengan bentuk manusia adalah bentuk asli Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang dapat melihat bentuk ini hanya dengan bhakti yang murni.
BAB DUA BELAS
Pengabdian suci bhakti
Bhakti-yoga, pengabdian suci yang murni kepada sri Krishna, adalah cara tertinggi dan paling manjur untuk mencapai cinta bhakti yang murni kepada Krishna, tujuan tertinggi kehidupan rohani. Orang yang menempuh jalan tertinggi ini dapat mengembangkan sifat-sifat suci.
BAB TIGA BELAS
Alam, Kepribadian Yang Menikmati dan Kesadaran
Orang yang mengerti perbedaan antara badan, dengan sang roh dan Roh Yang Utama yang melampaui badan dan roh, akan mencapai pembebasan dari dunia material.
BAB EMPAT BELAS
Tiga sifat alam material
Semua roh terkungkung dalam badan di bawah pengendalian tiga sifat alam material; kebaikan, nafsu dan kebodohan. Sri Krishna menjelaskan arti sifat-sifat alam tersebut, bagaimana sifat-sifat itu mempengaruhi diri kita, bagaimana cara melampaui sifat-sifat alam sera cirri-ciri orang yang sudah mencapai keadaan rohani.
BAB LIMA BELAS
Yoga berhubungan dengan Kepribadian Yang Paling Utama
Tujuan utama pengetahuan Veda adalah melepaskan diri dari ikatan terhadap dunia material dan mengerti Sri Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang mengerti identitas Krishna yang paling utama menyerahkan diri kepada Krishna dan menekuni pengabdian suci kepada Krishna.
BAB ENAM BELAS
Sifat rohani dan sifat jahat
Orang yang mempunyai sifat-sifat jahat dan hidup seska hatinya, tanpa mengikuti peraturan Kitab Suci, dilahirkan dalam kehidupan yang lebih rendah dan diikat lebih lanjut secara material. Tetapi orang yang memiliki sifat-sifat suci dan hidup secara teratur, dengan mematuhi kekuasaan Kitab Suci, berangsur-angsur mencapai kesempurnaan rohani.
BAB TUJUH BELAS
Golongan-golongan keyakinan
Ada tiga jenis keyakinan, yang masing-masing berkembang dari salah satu di antara tiga sifat alam. Perbuatan yang dilakukan oleh orang yang keyakinannya bersifat nafsu dan kebodohan hanya membuahkan hasil material yang bersifat sementara, sedangkan perbuatan yang dilakukan dalam sifat kebaikan, menurut Kitab Suci, menyucikan hati dan membawa seseorang sampai tingkat keyakinan murni terhadap Sri Krishna dan bhakti kepada Krishna.
BAB DELAPAN BELAS
Kesempurnaan pelepasan ikatan
Krishna menjelakan arti pelepasan ikatan dan efek dari sifat-sifat alam terhadap kesadaran dan kegiatan manusia. Krishna menjelaskan keinsafan Brahman, kemuliaan Bhagavad Gita, dan kesimpulan utama Bhagavad gita; jalan kerohanian tertinggi berarti menyerahkan diri sepenuhnya tanpa syarat dalam cinta bhakti kepada sri Krishna. Jalan ini membebaskan seseorang dari segala dosa, membawa dirinya sampai pembebasan sepenuhnya dari kebodohan dan kemungkian ia kembali ke tempat tinggal rohani Krishna yang kekal.
sumber:  http://dharmasastra3.wordpress.com/bhagavad-gita/

Kitab Weda

Cemohan yang paling banyak kita dengan sebagai penganut Hindu diluar tuduhan filosofis adalah bahwasanya umat Hindu sangat jarang memiliki kitab sucinya sendiri, Veda. Sangat berbeda dengan saudara-saudara kita yang Muslim dan Kristen yang dapat selalu menenteng kitab suci kemanapun mereka pergi. Selalu dapat membuka kitab suci dalam setiap diskusi, ceramah dan ibadah mereka. Hal yang tidak bisa dilakukan oleh umat Hindu, bahkan mungkin tidak akan pernah.
Kenapa tidak bisa demikian? Karena Veda tidak sesempit kitab suci mereka. Jika kitab suci mereka hanya terdiri dari ribuan ayat, sehingga dapat dituliskan dalam sebuah buku, maka tidak demikian dengan Veda yang terdiri dari jutaan sloka. Untuk membayangkan betapa luasnya Veda, mungkin anda dapat melihat lampiran pembagian Veda pada bagian akhir artikel ini dan juga dapat mendownload poster Veda disini.
Melihat Veda yang sangat luas seperti itu? Apa yang harus dilakukan sebagai umat Hindu? Apakah hanya dapat bangga dengan kitab sucinya yang sangat-sangat komplit tanpa pernah membacanya, bahkan tanpa pernah melihat secuil bagiannyapun?
Untuk mempelajari seluruh kitab suci Veda tentunya bukanlah perkara mudah. Umur manusia pada jaman kali ini sangat terbatas, rata-rata hanya di bawah 80 tahun. Dan itupun belum dipotong oleh tuntutan kesibukan material yang notabena harus dilakukan lebih dari 16 jam per hari. Lalu, berapa jam dalam hidup kita yang dapat kita manfaatkan secara efektif dalam mempelajari Veda? Yakinkah anda dapat membaca dan mengerti seluruh Veda dengan waktu yang singkat, ingatan yang terbatas dan berbagai macam ketidaksempurnaan itu?
Menurut Veda, kehidupan sebagai manusia tidak sempurna  karena:  Indriya-indriya jasmani terbatas dan tidak sempurna dan  cendrung mengkhayal, menipu dan berbuat salah. Untuk mengerti Veda yang spiritual dan transendental secara lengkap, tidak dapat dilakukan secara pratyaksa (pengamatan dan penglihatan langsung) dan anumana (menyimpulkan berdasar tanda dan bukti-bukti empiris).
Veda menetapkan bahwa ia hanya bisa dipelajari dan dimengerti secara sabda-pramana, mendengar dari sumber  yang  benar dan sah yaitu dari para Acarya (guru kerohanian) secara param  para ( proses menurun/deduktip) dalam garis perguruan (sampradaya) sah dan jelas sebagaimana ditegaskan dalam Bhagavad Gita 4.2;  “evaà paramparä-präptam  imaà räjarñayo viduù  sa käleneha mahatä  yogo nañöaù parantapa” dan Bhagavad Gita 4.32; “evaà bahu-vidhä yajïä  vitatä brahmaëo mukhe karma-jän viddhi tän sarvän  evaà jïätvä vimokñyase”. Karena itu, Veda disebut sruti, pengetahuan yang diperoleh dari mendengar; dan smrti, pengetahuan yang diingat dari cara mendengar.
Tetapi proses sabda-pramana ini disalah mengerti oleh para sarjana duniawi berwatak materialistik yang berpegang teguh pada proses empiris-induktip. Mereka berkata bahwa proses sabda ini mengharuskan orang percaya secara membuta, patuh dan tunduk pada dogma, berpegang pada keyakinan tanpa dasar atau khayalan.
Menurut mereka, proses sabda tidak bisa dipercaya karena tidak ilmiah yaitu tidak didukung bukti-bukti empiris yang dapat dilihat.
Sesungguhnya proses sabda ini adalah sederhana yaitu mendengar dari sumber (orang) yang mengetahui seperti sering dilakukan oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari.  Ini bukan dogma, kepercayaan atau keyakinan buta dan bukan pula khayalan. Contoh, bila seseorang ingin mengetahui dengan mudah dan pasti siapa ayahnya, maka dia harus bertanya kepada si ibu. Bandingkan jika si anak harus mengetahuinya dengan cara tes DNA, berapa biaya dan waktu yang harus dikeluarkan?
Kita juga tidak dapat menganggap bahwa Veda yang digolongkan sebagai Veda Sruti lebih tinggi kedudukannya dari Veda-Veda yang digolongkan kedalam Veda Smrti. Keseluruh Veda merupakan satu kesatuan yang utuh.
Dengan pernyataan bahwa Veda Smrti merupakan penjelasan dan ingatan dari Veda Sruti, bukan berarti Veda Smrti tidak disabdakan. Bhagavad Gita yang digolongkan sebagai Veda Smrti disabdakan langsung oleh Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna dan ditulis langsung oleh Tuhan sebagai Shaktyawesa Awatara, yaitu Maha Rsi Vyasadeva. Sri Swami Sivananda menjelaskan bahwa sampai saat ini Maha Rsi Vyasa masih ada di dunia ini.
brhad-aranyaka upanisad 2.4.10 mengatakan; “rg, yajur, sama dan atharva veda dan itihasa semuanya keluar (berasal) dari nafas kebenaran mutlak, Tuhan Yang Maha Esa. Dan lebih lanjut Bhagavad Gita 3.15 menegaskan; “brahmaksara-samudbhavam”, pengetahuan veda langsung di wejangkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Disinilah uniknya Veda. Veda yang diwahyukan paling awal, bersifat anadi ananta, kekal abadi, diwahyukan pada banyak Rsi dan bahkan ditulis oleh penjelmaan Tuhan sendiri serta selalu dijaga dan diwahyukan kembali dari jaman ke jaman oleh Avatara Tuhan. Tidak ada satu kitab sucipun selain Veda yang memiliki keunikan seperti ini.
PEMBAGIAN KITAB SUCI VEDA
  • Rig Veda
  • Sama Veda
  • Yajur Veda
  • Atharva Veda
  • Bhagavad Gita
  • Shiksha
    • Shamana Shiksha
    • Vyali Shiksha
    • Svaravyanjana Shiksha
    • Shaishiriya Shiksha
    • Vyasa Shiksha
    • Charayaniya Shiksha
    • Atreya Shiksha
    • Vasishtha Shiksha
    • Paniniya Shiksha
    • Lakshmikanta Shiksha
    • Parashari Shiksha
    • Padyatmika Keshavi Shiksha
    • Shaishiriya Shiksha
    • Katyayani Shiksha
    • Varnaratnapradipika Shiksha
    • Madhyandina Shikisha
    • Mandavya Shiksha
    • Vasishthi Shiksha
    • Yagyavalkya Shiksha
    • Mallasharma Shiksha
    • Amoghanandini Shiksha
    • Avasananirnaya Shiksha
    • Siddhanta Shiksha
    • Apishali Shiksha
    • Sarvasammata Shiksha
    • Aranya Shiksha
    • Shambhu Shiksha
    • Kalanirnaya Shiksha
    • Bharadvaja Shiksha
    • Kauhaliya Shiksha
    • Pari Shiksha
    • Shodashashloki Shiksha
    • Manduki Shiksha
    • Naradiya Shiksha
    • Gautami Shiksha
    • Lomashi Shiksha
    • Kaundinya Shiksha
    • Atharvavediya Dantyoshthavidhi
    • Padachandrika
  • Kalpa
    • Grihya sUtra
      • Apastamba Grihya Sutra
      • Vaikhanasa Grihya Sutram
      • Bharadvaja Grihya Sutra
      • Ashvalayana Grihya Sutra
      • Drahyayana
      • Kaushitaka Grihya Sutra
      • Kauthuma Grihya Sutra
      • Manava Grihya Sutra
      • Paraskara Grihya Sutra
      • Varaha Grihya Sutra
      • Hiranyakeshi Grihya Sutra
      • Kathaka Grihya Sutra (Laugakshi)
      • Gobhila Grihya Sutra
      • Jaimini Grihya Sutram
      • Shankhayana Grihya Sutra
      • Kaushika Sutram
      • Bodhayana Grihya Sutram
      • Agniveshya Grihya Sutram
      • Grihya Sutram
    • Shrauta Sutra
      • Apastamba Shrauta Sutra
      • Shankhayana Shrauta Sutra
      • Vaitana Shrauta Sutra
      • Mashaka Shrauta Sutra
      • Vadhula Shrauta Sutra
      • Manava Shrauta Sutra
      • Bharadvaja Shrauta Sutra
      • Drahyayana Shrauta Sutra
      • Latyayana Shrauta Sutra
      • Varaha Shrauta Sutra
      • Katyayana Shrauta Sutra
      • Kathaka Shrauta Sutra
      • Ashvalayana Shrauta Sutra
      • Jaiminiya Shrauta Sutra
      • Nidana Shrauta Sutra
      • Baudhayana Shrauta Sutra
      • Vaikahanasa Shrauta Sutra
      • Hiranyakeshi Shrauta Sutra
    • Shulba Sutra
      • Apastamba Shulba Sutra
      • Baudhayana Shulba Sutra
      • Katyayana Shulba Sutra
      • Manava Shulba Sutra
      • Hiranyakeshi Shulba Sutra
      • Kathaka Shulba Sutra
      • Varaha Shulba Sutra
      • Vadhula Shulba Sutra
    • Dharma Sutra
      • Apastamba Dharma Sutra
      • Baudhayana Dharma Sutra
      • Gautama Dharma Sutra
      • Vaikanasa Dharma Sutra
      • Vishnu Dharma Sutra
      • Vasishtha Dharma Sutra
      • Hiranyakeshi Dharma Sutra
  • Vyakaran
    • Ashtadhyayi  dari Maharshi Panini
  • Jyotish
    • Brihat Parashara Hora Shastra
    • Muhurtachintamani
    • Surya Siddhanta
    • Shatpanchahika
  • Chhanda
    • Pingala Chhandahsutra
  • Nirukti
  • Enam Darshanam (Nyaya, Vaisheshika, Sankhya, Yoga, Karma mimansa, Vedanta)
    • Nyaya darshanam
    • Vaisheshika darshanam
    • Samkhya darshanam
    • Yoga darshanam
      • Bhagavd gita
      • Shiva Sutra
      • Shiva samhita
      • Vijnana bhairava
    • Karma Mimansa darshanam
    • Vedanta darshanam
  • Gandharva Veda
    • Sangita Ratnakara dari Sharangdeva
  • Dhanur Veda
    • Vasishtha Dhanurveda
    • Shiva dhanurveda dari Maharshi Sharngadhara
    • Niti prakashika dari Maharshi Vaishampayana
  • Sthapatya Veda
    • Mayamatam
    • Manasara
    • Vishvakarma Vastu Shastra
    • Manushyalaya Chandrika
    • Asumadheda Vastu Shastra
    • Mula Agamas
      • Kamikagama
      • Karanagama
      • Ajitagama
      • Diptagama
      • Sukshmagama
      • Svayambhuvagama
      • Rauravagama
      • Makutagama
      • Chandrajnanagama
      • Parameshvaragama
      • Kiranagama
      • Amshumadbheda Vastu Shastra
      • Viragama
      • Dan masih banyak lagi
  • Kashyap Samhita
    • Sutrasthanam
    • Vimanasthanam
    • Sharirasthanam
    • Indriyasthanam
    • Chikitassthanam
    • Siddhisthanam
    • Kalpasthanam
    • Khilasthanam
  • Bhela Samhita
    • Kalpasthanam
    • Chikitsasthanam
    • Indriyasthanam
    • Sharirasthanam
    • Vimanasthanam
    • Nidanasthanam
    • Sutrasthanam
    • Siddhisthanam
  • Harita Samhita
    • Prathamasthanam
    • Dvitiyasthanam
    • Chikitsasthanam
    • Sutrasthanam
    • Kalpasthanam
    • Sharirasthanam
  • Charak Samhita
    • Vimanasthanam
    • Sharirasthanam
    • Chikitsasthanam
    • Indriyasthanam
    • Nidanasthanam
    • Siddhisthanam
    • Sutrasthanam
    • Chikitsasthanam
    • Kalpasthanam
  • Sushruta Samhita
    • Nidanasthanam
    • Sutrasthanam
    • Sharirasthanam
    • Chikitsasthanam
    • Kalpasthanam
    • Uttarasthanam
  • Vagbhatta Samhita
    • Sutrasthanam
    • Nidanasthanam
    • Sharirasthanam
    • Chikitsasthanam
    • Kalpasthanam
    • Uttarasthanam
  • Bhava Prakash Samhita
    • Madhya Khandam
    • Uttara Khandam
    • Purva Khandam
    • Bhava Prakash Nigantu
  • Sharngadhara Samhita
    • Prathama Khanda
    • Madhyama Khanda
    • Uttara Khanda
    • Parishishtam Khanda
  • Madhava Nidan Samhita
  • Upanishad
    • Isha Upanishad, (Śiv, Mukhya)
    • Kena (SV, Mukhya)
    • Katha (KYV, Mukhya)
    • Praśna, (AV, Mukhya)
    • Muṇḍaka (AV, Mukhya)
    • Māṇḍūkya (AV, Mukhya)
    • Taittirīya (KYV, Mukhya)
    • Aitareya, (ṚV Mukhya)
    • Chāndogya (SV, Mukhya)
    • Bṛhadāraṇyaka (ŚYV, Mukhya)
    • Brahma (KYV, Sannyasa)
    • Kaivalya (KYV, Shaiva)
    • Jābāla (ŚYV, Sannyasa)
    • Śvetāśvatara (KYV, Sannyasa)
    • Haṃsa (ŚYV, Yoga)
    • Āruṇeya (SV, Sannyasa)
    • Garbha (KYV, Sannyasa)
    • Nārāyaṇa (KYV, Vaishnava)
    • Paramahaṃsa (ŚYV, Sannyasa)
    • Amṛtabindu (KYV, Yoga)
    • Amṛtanāda (KYV, Yoga)
    • Śira (AV, Shaiva)
    • Atharvaśikha (AV, Shaiva)
    • Maitrāyaṇi (SV, Sannyasa)
    • Kauśītāki (ṚV, Samanya)
    • Bṛhajjābāla (AV, Shaiva)
    • Nṛsiṃhatāpanī (AV, Vaishnava)
    • Kālāgnirudra (KYV, Shaiva)
    • Maitreyi (SV, Sannyasa)
    • Subāla (ŚYV, Samanya)
    • Kṣurika (KYV, Yoga)
    • Mantrika (ŚYV, Samanya)
    • Sarvasāra (KYV, Samanya)
    • Nirālamba (ŚYV, Samanya)
    • Śukarahasya (KYV, Samanya)
    • Vajrasūchi (SV, Samanya)
    • Tejobindu (KYV, Sannyasa)
    • Nādabindu (ṚV, Yoga)
    • Dhyānabindu (KYV, Yoga)
    • Brahmavidyā (KYV, Yoga)
    • Yogatattva (KYV, Yoga)
    • Ātmabodha (ṚV, Samanya)
    • Parivrāt (Nāradaparivrājaka) (AV, Sannyasa)
    • Triśikhi (ŚYV, Yoga)
    • Sītā (AV, Shakta)
    • Yogachūḍāmaṇi (SV, Yoga)
    • Nirvāṇa (ṚV, Sannyasa)
    • Maṇḍalabrāhmaṇa (ŚYV, Yoga)
    • Dakṣiṇāmūrti (KYV, Shaiva)
    • Śarabha (AV, Shaiva)
    • Skanda (Tripāḍvibhūṭi) (KYV, Samanya)
    • Mahānārāyaṇa (AV, Vaishnava)
    • Advayatāraka (ŚYV, Sannyasa)
    • Rāmarahasya (AV, Vaishnava)
    • Rāmatāpaṇi (AV, Vaishnava)
    • Vāsudeva (SV, Vaishnava)
    • Mudgala (ṚV, Samanya)
    • Śāṇḍilya (AV, Yoga)
    • Paiṅgala (ŚYV, Samanya)
    • Bhikṣu (ŚYV, Sannyasa)
    • Mahad (SV, Samanya)
    • Śārīraka (KYV, Samanya)
    • Yogaśikhā (KYV Yoga)
    • Turīyātīta (ŚYV, Sannyasa)
    • Sannyāsa (SV, Sannyasa)
    • Paramahaṃsaparivrājaka (AV, Sannyasa)
    • Akṣamālika (Mālika) (ṚV, Shaiva)
    • Avyakta (SV, Vaishnava)
    • Ekākṣara (KYV, Samanya)
    • Annapūrṇa (AV, Shakta)
    • Sūrya (AV, Samanya)
    • Akṣi (KYV, Samanya)
    • Adhyātmā (ŚYV, Samanya)
    • Kuṇḍika (SV, Sannyasa)
    • Sāvitrī (SV, Samanya)
    • Ātmā (AV, Samanya)
    • Pāśupata (AV, Yoga)
    • Parabrahma (AV, Sannyasa)
    • Avadhūta (KYV, Sannyasa)
    • Devī (AV, Shakta)
    • Tripurātapani (AV, Shakta)
    • Tripura (ṚV, Shakta)
    • Kaṭharudra (KYV, Sannyasa)
    • Bhāvana (AV, Shakta)
    • Rudrahṛdaya (KYV, Shaiva)
    • Yogakuṇḍalini (KYV, Yoga)
    • Bhasma (AV, Shaiva)
    • Rudrākṣa (SV, Shaiva)
    • Gaṇapati (AV, Shaiva)
    • Darśana (SV, Yoga)
    • Tārasāra (ŚYV, Vaishnava)
    • Mahāvākya (AV, Yoga)
    • Pañcabrahma (KYV, Shaiva)
    • Prāṇāgnihotra (KYV, Samanya)
    • Gopālatāpani (AV, Vaishnava)
    • Kṛṣṇa (AV, Vaishnava)
    • Yājñavalkya (ŚYV, Sannyasa)
    • Varāha (KYV, Sannyasa)
    • Śāṭyāyani (ŚYV, Sannyasa)
    • Hayagrīva (AV, Vaishnava)
    • Dattātreya (AV, Vaishnava)
    • Gāruḍa (AV, Vaishnava)
    • Kali-Saṇṭāraṇa (Kali) (KYV, Vaishnava)
    • Jābāla (SV, Shaiva)
    • Saubhāgya (ṚV, Shakta)
    • Sarasvatīrahasya (KYV, Shakta)
    • Bahvṛca (ṚV, Shakta)
    • Muktika (ŚYV, Samanya)
  • Aranyak
    • Aitareya Aranyaka
    • Kaushitaki Aranyaka
    • Taittiriya Aranyaka
    • Katha Aranyaka
    • Maitrayaniya Aranyaka
    • Talavakara Aranyaka
    • Shankhayana Aranyaka
    • Aranyaka Samhita
    • Charaka Aranyaka
    • Brihad-Aranyaka
    • Kathaka Aranyaka
  • Brahmana
    • Rigveda
      • Shakala shakha: Aitareya Brahmana (AB)
      • Bashkala shakha: Kaushitaki Brahmana (KS)
      • Tandya Brahmana
    • Samaveda
      • Kauthuma: PB, SadvB
      • Jayminiya: Jayminiya Brahmana (JB)
      • Tandyamaha or Pancavimsa Brahmana
      • Sadvimsa Brahmana
      • Samavidhana Brahmana
      • Arseya Brahmana
      • Devatadhyaya or Daivata Brahmana
      • Mantra or Chandogya Brahmana
      • Samhitopanisad Brahmana
      • Vamsa Brahmana
      • Jayminiya Arseya Brahmana
      • Jayminiya Upanisad Brahmana
    • Yajurveda
o
      • Kathaka Brahmana
      • Krishna: kitab Brahmana-nya terintegrasi kedalam samhitas:
        • Maitrayani (MS)
        • Carakakatha (CS)
        • Kapisthalakatha (KS)
        • Taittiriya (TS). Pendidikan Taittiriya memiliki Taittiriya Brahmana (TB) tambahan
o
      • Shukla
        • Vajasaneyi Madhyandina: Shatapatha Brahmana, Madhyadina recension (ShB)
        • Kanva: Shatapatha Brahmana, Kanva recension (ShBK)
    • Atharvaveda
o
      • Paippalada: Gopatha Brahmana
      • Smriti
        • Smriti
          • Angirasa Smriti
          • Vyasa Smriti
          • Apastamba Smriti
          • Daksha Smriti
          • Vishnu Smriti
          • Yagyavalkya Smriti
          • Likhita Smriti
          • Shankha Smriti
          • Brihaspati Smriti
          • Atri Smriti
          • Katyayana Smriti
          • Parashara Smriti
          • Manu Smriti
          • Aushanasa_Smriti
          • Harita Smriti
          • Gautama Smriti
          • Yama Smriti
          • Samvartta Smriti
        • Upasmriti
          • Kashyapa Smriti
          • PulastyaSmriti
          • Vishvamitra Smriti
          • Devala Smriti
          • Markandeya Smriti
          • Ashvalayana Smriti
          • Narayana Smriti
          • Bharadvaja Smriti
          • Vyaghrapada Smriti
          • Dalbhya Smriti
          • Prajapati Smriti
          • Shatatapa Smriti
          • Baudhayana Smriti
          • Lohita Smriti
          • Rishyashringa Smriti
      • MahaPurana
        • Agni (15,400 sloka)
        • Bhagavata (18,000 sloka). Merupakan purana terpopuler karena di tulis langsung oleh Maha Rsi Vyasa, sang pengkodifikasi Veda.
        • Bhavishya (14,500 sloka)
        • Brahma (24,000 sloka)
        • Brahmanda (12,000 sloka; termasuk Lalita Sahasranamam, kitab panduan dalam pemujaan)
        • Brahmavaivarta (18,000 sloka)
        • Garuda (19,000 sloka)
        • Harivamsa (16,000 sloka; sering kali digolongkan kedalam itihāsa)
        • Kurma (17,000 sloka)
        • Linga (11,000 sloka)
        • Markandeya (9,000 sloka; terdiri dari Devi Mahatmyam, teks yang sangat penting untuk Shakta)
        • Matsya (14,000 sloka)
        • Narada (25,000 sloka)
        • Padma (55,000 sloka)
        • Shiva (24,000 sloka)
        • Skanda (81,100 sloka), merupakan yang terpanjang dari semuanya, terdiri dari cerita perumpamaan, legenda dan sejarah.
        • Vamana (10,000 sloka)
        • Varaha (10,000 sloka)
        • Vayu (24,000 sloka)
        • Vishnu (23,000 sloka)
  • UpaPurana
    • Bhargava,
    • Brihan-Narada
    • Devi Bhagavata Purana
    • Durvasa
    • Ganesa,
    • Hamsa.
    • Kalika/kalki Purana
    • Kapila Purana
    • Manu
    • Marichi
    • Mudgala,
    • Nandi Purana
    • Narasimhia Purana
    • Nilamata Purana
    • Parashara Purana
    • Samba Purana
    • Sanat-kumara,
    • Saura Purana
    • Shivadharma
    • Siva-rahasya,
    • Surya,
    • Usanas
    • Vamana,
    • Varuna,
    • Mahesvara Vashishtha Lainga
    • Vishnudharma
  • Devata Stotra
    • Stotra untuk Panca Mahadevata
      • Vishnu: Achyutashtakam
      • Shiva : Lingashtakam
      • Ganapati: Sankashtanashana Ganapati Stotram
      • Surya: Surya Mandala Ashtakam
      • Devi: Lakshmi Ashtakam
    • Sahasranama Stotra untuk Panca Mahadevata
      • Vishnu Sahasranama
      • Shiva Sahasranama
      • Ganapati Sahasranama
      • Surya Sahasranama
      • Lakshmi Sahasranama
    • Stotras tambahan
      • Vishnu Ashtottara Shatnamavali
      • Rama Sahasranama
      • Guru Gita
      • Durga Saptashati
      • Ganga Sahasranama
      • Ganga Ashtak Stotram
      • Gayatri Sahasranama
      • Gayatri Ashtakam
      • Lalita Sahasranama
      • Sarasvati Sahasranama
      • Sarasvati Ashtakam
      • Durga Sahasranama
      • Durgashtakam
      • Hanumat Stavan
      • Achyutashtakam
      • Lingashtakam
      • Maha Lakshmi Ashtakam
      • Vishnu Sahasranama
      • Sankashtanashana Ganapati Stotram
      • Shiva Sahasranama
      • Mahaganapati Sahasranama Stotram
      • Surya Sahasranama
      • Shri Mahalakshmi Sahasranama Stotram
      • Vishnu Ashtottara Shatanamavali Stotram
      • Surya Mandala Ashtakam
  • Itihas
    • Ramayana (Valmiki)
    • Mahabharata
  • Rk Veda Pratishakhya
  • Shukl-Yajur-Veda Pratishakhya
  • Atharva Veda Pratishakhya
  • Sama Veda Pratishakhya (Pushpa Sutram)
  • Krishna-Yajur-Veda Pratishakhya (Taittiriya)
  • Atharva Veda Pratishakhya (Chaturadhyayi)
Bagaimana dengan yang ada di Indonesia,Bali kususnya?

Veda memperkaya budaya dimana Ia berkembang, pada jaman dulu Veda diterjemahkan ke dalam bahasa jawa kuno,disadur dan ditafsir ulang oleh leluhur (yang kemudian disebut Lontar karena ditulis di daun lontar pada jaman dulu) . inilah yang membuat Hindu Indonesia bebeda dengan India tetapi filosofisnya tetap mengacu pada Veda.
Inilah bagian lontar-lontar tersebut:
Lontar-lontar Tattwa
Lontar-lontar ini memuat ajaran Ketuhanan, disamping itu juga memuat ajaran tentang penciptaan alam semesta, ajaran pelepasan (moksa) dan sebagainya.sebagian besar lontar-lontar tattwa ini bersifat siwaistik (sivaisme) dan beberapa diantaranya telah dikaji secara kritis oleh beberapa sarjana.
Lontar-lontar jenis ini antara lain :
a.       Bhuwana kosa
b.      Ganapati tattwa
c.       Jnana sidhanta
d.      Bhuana Sangksepa
e.       Sanghyang Mahajnana
f.       Tattwa Jnana
g.      Wrhaspati tattwa
h.      Siwagama
i.        Suwatattwa purana
j.        Gong Besi
k.      Purwabhumi Kamulan
Lontar-lontar ethika
Lontar-lontar jenis ini berisi ajaran tentang ethika,kebijakan tuntunan untuk menjadi orang sadhu yaitu orang arif dan bjaksana,berbudi luhur,berpribadi mulia dan berhati suci.
Yang termasuk Lontar ini antara lain:
a.       Sarassamuscaya
b.      Slokantara
c.       Siwasasana
d.      Agastyaparwa
e.       Wratisasana
f.       Silakrama
g.      Pancasiksa
h.      Putra sasana
Lontar-lontar Yajna
Lontar-lontar ini banyak sekali jenisnya. Umumnya,lontar-lontar ini berisi petunjuk-petunjuk umum pelaksanaan Yajna, baik mengenai Banten (upakara) atau sesajennya,perlengkapanya dll.
Beberapa lontar jenis ini antara lain:
a.       Lontar-lontar petunjuk tentang pelaksanaan Dewa Yajna (deva;sinar suci tuhan):
1.      Dewa tattwa
2.      Sundarigama
3.      Wrhaspati Kalpa
4.      Catur wedhya
b.      Lontar-lontar petunjuk tentang pelaksanaan Pitra yajna (pitra;leluhur):
1.      Yama purana tattwa
2.      Yama tattwa
3.      Empu Lutuk Aben
4.      Kramaning atiwa-atiwa
5.      Indik maligya
6.      Putru pasaji
7.      Bacakan Banten Pati Urip
c.       Lontar-lontar petunjuk tentang pelaksanaan Rsi Yajna (Rsi;orang-orang suci) :
1.      Kramaning Madiksa
2.      Yajna samkara
d.      Lontar-lontar petunjuk tentang pelaksanaan Manusa Yajna (manusa; manusia)
1.      Dharma Kahuripan
2.      Eka pratama
3.      Bacakan Banten Pati Urip
4.      Janma Prawerti
5.      Puja Kala Pati
6.      Puja Kalib
e.       Lontar-lontar petunjuk tentang pelaksanaan Bhuta Yajna (Bhuta ; Roh-roh gaib):
1.      Ekadasa rudra
2.      Panca walikrama
3.      Indik Caru
4.      Bhama Kertih
5.      Lebur Sangsa
6.      Pratingkahing Caru
Lontar-lontar yang erat hubunganya dengan pelaksanaan Yajna adalah Lontar-lontar Wariga, antara lain:
1.      Wariga
2.      Purwa Wariga
3.      Wariga Gemet
4.      Wariga Krimping
5.      Wariga Pararasian
6.      Wariga Palalawangan
7.      Wariga Catur Wina Sari
Lontar-lontar Puja :
a.       Weda Parikrama
b.      Surya Sewana
c.       Argha Patra
d.      Puja Ksatrya
e.       Puja Mamukur
f.       Kajang Pitra Puja
g.      Kusuma Dewa

 sumber: http://dharmasastra3.wordpress.com/kitab-veda/

Sruti dan Smerti


AYAH, APAKAH KITAB-KITAB SUCI HINDU?

Anakku, Kitab-kitab suci Hindu secara luas dalam dikelompokkan dalam 2 golongan. Pertama adalah Sruti ("itu yang didengar") dan yang lain adalah Smriti ("itu yang diingat"). Kedua kelompok kitab-kitab suci ini dianggap "wahyu Tuhan" sama seperti semua kitab-kitab Injil dianggap mendapat inspirasi Tuhan (God-inspired).

KITAB MANA YANG PALING SUCI?

Kitab-kitab itu disebut Weda-Weda, yang berarti "pengetahuan".Ada empat Weda dan mereka menyatakan untuk mengajari manusia kebenaran tertinggi dan dapat menuntun manusia kepada Tuhan. Tiga Weda pertama disebut Tri Weda.

Rig Weda (Weda Nyanyian Pujaan, Weda of Hymns) terdiri dari 1028 nyanyian pujaan atau hymne (dalam sepuluh buku) kepada para Dewa, seperti Indra dan Agni.

Yajur Weda (Weda of Liturgy) berkaitan dengan pengetahuan upacara. Weda ini berdasarkan pada Rig Weda. Dia berisi aturan yang menjelaskan bagaimana melaksanakan semua upakara. Ia terdiri dari prosa dan puisi. Weda ini sesungguhnya buku untuk pendeta, bahkan menjelaskan aturan membuat sebuah altar. Pengorbanan (upacara) adalah satu bagian penting dari Weda ini.

Sama Weda (Weda of Music) berkaitan dengan pengetahuan pengucapan mantra (chants). "Sama" artinya "melodi". Musik klasik India berasal dari Sama Weda. Weda ini terdiri dari 1549 sloka. Weda ini juga berdasar kepada Rig Weda, dan sloka dari Sama Weda dinyanyikan oleh para Reshi ketika upacara korban Soma dilakukan. Weda ini mirip dengan Psalms (Mazmur) dari agama Kristen. Sampai ukuran tertentu banyak dari sloka Weda ini merupakan pengulangan dari Rig Weda, dinyanyikan dalam bentuk melodi. Mantra dalam Weda ini ditujukan kepada Soma (bulan), Agni (api) dan Indra (Tuhan surga). Satu kitab pelengkap dari Sama Weda adalah Chandogya Upanishad.

Atharva Weda berisi pengetahuan yang diberikan oleh Maharesi Atharwa. Ia terdiri dari 731 hymne dengan 6000 ayat. Beberapa orang mengatakan bahwa Atharwa bukan menyusun kitab ini tapi beberapa pendeta kepala dalam upacara yang berkaitan dengannya. Atharwa yang disebut dalam Rig Weda, dianggap sebagai putra pertama dari Tuhan Brahma, Tuhan Pencipta (God of Creation). Atharwa Weda juga dikenal dengan Brahma Weda sebab ia digunakan sebagai manual oleh pendeta kepala upacara dan para Brahmin. Kitab ini berisi rumusan-rumusan magis dan jampi-jampi.

Sejumlah besar Upanishad sebenarnya berasal dari Atharwa Weda. Percaya atau tidak, banyak dari mantra pengusir setan (exorcisme) dalam agama Hindu berasal dari Weda ini. Agak mengejutkan catatan-catatan tertua dari Weda-Weda tidak berbicara mengenai Weda ini. Tidak ada referensi mengenai Weda ini dan Chandogya Upanishad atau teks-teks Brahmana atau Jataka atau Bhagawad Gita. Ini menunjukkan dengan jelas bahwa Atharwa Weda tidak ada ketika Tri Weda disusun.

APA ISI MASING-MASING WEDA ITU?

Weda-Weda pada umumnya berisi :
1. Samhita. Teks dasar untuk himne, formula dan japa (chants).
2. Brahmana. Petunjuk pelaksanaan upacara
3. Aranyaka. Berisi Mantra dan tafsir dari upacara-upacara.
4. Upanishad. Ini adalah sejumlah teks yang mengungkapkan kebenaran-kebenaran spiritual tertinggi dan berbagai anjuran mengenai cara untuk mencapai atau mengejawantahkan kebenaran itu. Kata Upanishad terdiri dari Upa (dekat), Ni (dibawah, down) dan Shad (duduk, to sit). Suatu Upanishad adalah sebuah pengajaran oleh seorang Guru ketika para murid duduk sangat dekat sehingga tidak seorang lain pun dapat nguping ajaran-ajaran tersebut.

ADA BERAPA BANYAK UPANISHAD?

Ada lebih dari 108 buku Upanishad. Tiga belas Upanishad yang paling penting adalah : Isa, Kena, Katha, Prasna, Mundaka, Mandukya, Aitereya, Taittirya, Chandogya, Brihad-Aranyaka, Kausitaki, Shvetasvatara dan Maitri. Beberapa dari Upanishad dinamai menurut Reshi besar yang ditokohkan atau digambarkan dalam Upanishad tersebut. Para Reshi besar itu adalah Mandukya, Shvetasvatara, Kaushitaki dan Maitri. Upanishad yang lain diberi nama berdasarkan kata pertama dari kitab itu.

Kita juga memiliki sebelas Yoga Upanishad yang lebih kecil. Yang paling penting dari Upanishad ini adalah Yogatattwa, Dhyanabindu, dan Nadabindu. Yogattava berisi semua rincian mengenai praktik yoga. Nadabindu, seperti digambarkan oleh namanya, berkaitan dengan phenomena indra pendengaran yang menyertai latihan-latihan yoga tertentu. Dhyanabindu berkaitan dengan suku kata AUM dan dengan banyak wahyu mistik.
Source :   Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra)

Diskripsi Sistem Kemasyarakatan , Pemerintahan, Filsafat dan kepercayaan masa Hindu

dikutip dari: http://missaladin.blogspot.com/2012/12/sistem-kemasyarakatan-pemerintahan.html
 
Agama Hindu (Bahasa Sanskerta: Sanātana Dharma सनातन धर्म "Kebenaran Abadi" dan Vaidika-Dharma ("Pengetahuan Kebenaran") adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1 miliar jiwa.
Penganut agama Hindu sebagian besar terdapat di anak benua India. Di sini terdapat sekitar 90% penganut agama ini. Agama ini pernah tersebar di Asia Tenggara sampai kira-kira abad ke-15, lebih tepatnya pada masa keruntuhan Majapahit. Mulai saat itu agama ini digantikan oleh agama Islam dan juga Kristen. Pada masa sekarang, mayoritas pemeluk agama Hindu di Indonesia adalah masyarakat Bali, selain itu juga yang tersebar di pulau Jawa,Lombok, Kalimantan (Suku Dayak Kaharingan), Sulawesi (Toraja dan Bugis - Sidrap).
Keyakinan dalam Hindu
Hindu seringkali dianggap sebagai agama yang beraliran politeisme karena memuja banyak Dewa, namun tidaklah sepenuhnya demikian. Dalam agama Hindu, Dewa bukanlah Tuhan tersendiri. Menurut umat Hindu, Tuhan itu Maha Esa tiada duanya. Dalam salah satu ajaran filsafat Hindu, Adwaita Wedanta menegaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari segala yang ada (Brahman), yang memanifestasikan diri-Nya kepada manusia dalam beragam bentuk.
Dalam Agama Hindu ada lima keyakinan dan kepercayaan yang disebut dengan Pancasradha. Pancasradha merupakan keyakinan dasar umat Hindu. Kelima keyakinan tersebut, yakni:
1. Widhi Tattwa - percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya
2. Atma Tattwa - percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk
3. Karmaphala Tattwa - percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan
4. Punarbhava Tattwa - percaya dengan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi)
5. Moksa Tattwa - percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusia.
 Konsep ketuhanan
Salah satu bentuk penerapan monoteisme Hindu di Indonesia adalah konsep Padmasana, sebuah tempat sembahyang Hindu untuk memuja Brahman atau "Tuhan Sang Penguasa".

Seorang perempuan Hindu Bali sedang menempatkan sesaji di tempat suci keluarganya.

Kuil Hindu di caldeira Bromo, pegunungan Tengger, Jawa Timur
Agama Hindu merupakan agama tertua di dunia dan rentang sejarahnya yang panjang menunjukkan bahwa agama Hindu telah melewati segala paham ketuhanan yang pernah ada di dunia. Menurut penelitian yang dilakukan oleh para sarjana, dalam tubuh Agama Hindu terdapat beberapa konsep ketuhanan, antara lain henoteisme, panteisme, monisme, monoteisme, politeisme, dan bahkan ateisme. Konsep ketuhanan yang paling banyak dipakai adalah monoteisme (terutama dalam Weda, Agama Hindu Dharma dan Adwaita Wedanta), sedangkan konsep lainnya (ateisme, panteisme, henoteisme, monisme, politeisme) kurang diketahui. Sebenarnya konsep ketuhanan yang jamak tidak diakui oleh umat Hindu pada umumnya karena berdasarkan pengamatan para sarjana yang meneliti agama Hindu tidak secara menyeluruh.

Sekte (aliran) dalam Hindu
Jalan yang dipakai untuk menuju Tuhan (Hyang Widhi) jalurnya beragam, dan kemudian dikenallah para dewa. Dewa yang tertinggi dijadikan sarana untuk mencapai Hyang Widhi. Aliran terbesar agama Hindu saat ini adalah dari golongan Sekte Waisnawa yaitu menonjolkan kasih sayang dan bersifat memelihara; yang kedua terbesar ialah Sekte Siwa sebagai pelebur dan pengembali yang menjadi tiga sekte besar, yaitu Sekte Siwa, Sekte Sakti (Durga ), dan Sekte Ganesha, serta terdapat pula Sekte Siwa Siddhanta yang merupakan aliran mayoritas yang dijalani oleh masyarakat Hindu Bali, sekte Bhairawa dan Sekte - Sekte yang lainnya. Yang ketiga ialah Sekte Brahma sebagai pencipta yang menurunkan Sekte Agni, Sekte Rudra, Sekte Yama, dan Sekte Indra. Sekte adalah jalan untuk mencapai tujuan hidup menurut Agama Hindu, yaitu moksha (kembali kepada Tuhan), dan pemeluk Hindu dipersilahkan memilih sendiri aliran yang mana menurutnya yang paling baik/bagus.

Sistem Pemerintanhan Hindu
Dalam perkembangan sejarah selanjutnya maka untuk menunjukkan adanya kekuasaan tertinggi pada beberapa wanua mereka mengangkat seorang penguasa tertinggi yang telah mampu menunjukkan kekuasaan dan wewenangnya. Pengangkatan itu memerlukan suatu upacara penobatan dan dilakukan oleh pemimpin agama. setelah menerima gelar abhiseka, selanjutnya mereka itu memakai gelar ratu, sang ratu, raja, Maharaja, Sri maharaja dan lain-lainnya.
Menurut Pitirim A. Sorokin sistem berlapis memang merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. Mengenai sistem pelapisan di masyarakat itu, bukan hal yang baru. Bahkan pada zaman kuno dahulu, seorang ahli filsafat Yunani yang kenamaan yaitu Aristoteles juga pernah mengatakan bahwa di dalam tiap-tiap masyarakat atau negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat dan mereka berada ditengah-tengahnya. Ucapan demikian itu setidaknya membuktikan bahwa di zaman dahulu itu dan juga pada zaman-zaman sebelumnya, orang telah mengakui adanya pelapisan di masyarakat yang mempunyai kedudukan bertingkat-tingkat dari bawah ke atas.

KEPEMIMPINAN
Pengamatan atas sumber-sumber sejarah Indonesia Kuna memberi petunjuk bahwa hampir sebagian besar raja-raja pada zaman Bali kuno mengaku dirinya sebagai keturunan Wisnu. Misalnya raja Anak Wungsu mengaku dirinya inkarnasi dewa hari (saksat mira harimurti). Hari sebenarnya adalah nama lain dari dewa Wisnu. Walaupun demikian, ini tidak berarti bahwa pemujaan kepada dewa-dewa Trimurti lainnya terutama Dewa Siwa, dilupakan pada masa itu. Hal ini dapat diketahui karena hampir setiap prasasti yang dikeluarkan oleh sang raja didalamnya terdapat ungkapan yang menyamakan atau mensejajarkan kedudukan baginda dengan Dewa Harimurti, dimana Dewa Hari atau Wisnu pada hakekatnya sama dengan Dharma.

PENGATURAN
Bagaimana seorang pemimpin mengatur jalannya roda pemerintahan, hal ini sekaligus akan mewarnai corak kepemimpinannya. Pada masa pemerintahan raja-raja Bali kuna (abad 8-15) yang bersifat monarchi, pemerintahan diatur menurut buku suci Weda Smrti. Bukti-bukti tentang ini, berasal dari sumber-sumber prasasti yang ditulis pada batu (saila prasasti) maupun perunggu (tambra prasasti). Pada masa pemerintahan Sri Maharaja Haji Jayapangus dan juga dalam periode-periode selanjutnya, kitab hukum yang sering disebut-sebut ialah kitab Manawasasanadharma, Manawakamandaka, Manawa Kamandaka Sasanadharma